Selesai
“Bar?” Aku memanggilnya, memastikan ia masih cukup sadar untuk menetap di alam yang sama denganku.
“Gue nggak paham kenapa waktu itu gue belum pernah sengaja ngeluangin waktu untuk bikin dia tau, gue bahagia sama dia.” Matanya menerawang menegaskan benaknya yang sedang kembali ke masa lalu.
“Gue kadang mikir, emang gue seegois itu ya? Gue sirik loh, liat dia bisa ketawa lepas sama temennya. Masih bisa tebar senyum sama fansnya. Masih punya tenaga untuk tertawa dan mengacak-acak rambut teman-teman wanitanya. Masih bisa sebahagia itu. Selama bukan sama gue.”
Aku hanya bisa diam saat mendengar kejujuran rasa dari perempuan di sampingku ini. Luruh sudah pertahananku untuk mencoba bijak. Nasihatku larut dalam diam.
“Kalau udah berdua sama gue, dia jadi sisi yang nggak pernah orang liat. Well, it is such an honour to see the not-so-pretty side of somenone. It means that that particular someone puts his trust on you. But not for every single seconds you spent with him. At some point, I just couldn’t take it anymore, Bi. Call me a selfish b*tch but I want to have his smile too for me.”
Ia menghela napas. Menyadarkanku dari napasku yang tertahan sedari tadi, entah semenjak kapan. Mengingatkanku untuk kembali bernapas.
“And you know where’s it all went worse, Bi?”
Aku menggeleng. Pasrah akan jalan cerita yang sudah terasa sedih ini.
“He has soooooo many girls cheering for him.”
Aku gagal menyembunyikan keterkejutanku. “Kak San, emang Bar…”
Sandra hanya mengangguk lemah. “Gue juga nggak paham apa itu sebenernya. Yang bikin gue sedih bukan masalah ada yang nyemangatin dia. Banyak itu sih, gue juga paham dari pertama-tama gue kenal dia. Resiko gue mengingat dia adalah publik figur dan memang ramah sama semua orang. Apalagi cewek.” Ia mengambil cangkir putih di hadapannya, menenggak habis isinya sebelum kembali bertutur.
“Yang bikin gue sakit adalah kenyataan dia nggak cerita ke gue tentang si wanita ini. Padahal selama ini dia selalu cerita tentang wanitanya yang lain. Yang bikin gue jatuh adalah kenyataan yang menghantam terlalu kencang bahwa ternyata setelah semua sendu dan muram yang tak pernah padam dari wajahnya saat hanya ada aku dan dia, dia masih memilih untuk tidak cerita saat ia menemukan sumber kesenangan lain.”
“Tapi kan…”
“Persetan sungguh wanita itu siapa, aku tidak peduli.” Sandra memotongku. “Yang aku pedulikan adalah sikap Bara saat menyikapi wanita itu. Sikapnya yang tidak cerita padaku sama sekali. Sikap seperti itu yang membuat aku sadar bahwa aku telah merasa lelah terlalu jauh, Bi. Telah mencoba mengerti dan memahami lebih dari yang aku mampu. Terlalu memaksakan. Dan mungkin ini saatnya aku berhenti.”
“Kenal darima…”
“Aku tidak peduli, sungguh. Bukan minatku untuk menjadi mata-mata wanita dan mengumpulkan semua info tentangnya. Kami baru saja berantem hebat, aku yang seumur pacaran tidak pernah melihat chat di HP Bara, kemarin ini dengan penuh kesadaran melihat chat dia dengan teman-temannya. Dan lagi, kutemukan seorang wanita. Ah, aku bahkan tak tahu ia sama atau tidak dengan si wanita baru kesayangan Bara. Yang jadi masalah adalah masih ada yang begitu. Bara masih membiarkannya terjadi. Mungkin semangat dari sudah tidak cukup untuknya. Sudah terlalu lama dan mulai terasa usang.”
Aku memegang kotak tissue yang ada di meja, menggesernya ke tengah, tepat di hadapan Sandra. Tak tahan aku melihat matanya yang merah. Meski sebenarnya yang membuatku benar-benar tak tahan adalah suara tercekat yang ia keluarkan. Sakit sekali.
Sandra mengambil selembar tissue dan ia mainkan di tangannya. “Buat Bara itu bukan masalah, malah ia yang marah padaku, bicara aku yang terlalu penasaran. Yang selalu jadi masalah bagiku adalah kenyataan bahwa aku masih bisa menemukannya, demi Tuhan!” Ia menarik napas panjang. “Dan yang lebih gilanya lagi, saat aku mencoba menemukan teman pria untuk cerita perihal semacam ini... tidak ada. Tidak ada yang bisa aku temukan satupun. Salahku yang terlalu percaya bahwa Bara adalah sahabat terbaik sekaligus pasangan sempurna untukku. Hingga tidak pernah terbersit sedikitpun keinginan atau rasa kebutuhan akan mencari teman pria lain sekadar untuk cerita. Padahal saat kulihat sekarang, teman wanitanya bahkan jauh lebih banyak jumlahnya dari teman dekatku. Brengsek!” Sandra memiringkan cangkir putih yang sedari tadi ada di hadapannya, memastikan isinya yang sudah kosong. Melambaikan tangannya saat aku hendak memanggil pelayan untuk menambah pesanan.
“Tidak usah, Bi.” Ia menggeser cangkir putih hingga berada jauh dari jangkauan kami. “Ah, kalau cinta adalah soal percaya, mungkin aku memang sudah tidak cinta lagi, Bi. Kalau berjuang adalah soal keyakinan, Bara dengan gagahnya sudah mengoyak semua keyakinanku akan dia.”
Sandra melilitkan tissue dengan lebih kencang di telunjuk kirinya yang sudah mulai memutih.
“I bet this is it, Bi. I’ve done enough and I guess Bara should know this.”
Sandra memutus tissue yang daritadi ia lilitkan. Tissue itu dibelahnya jadi 2 sebelum berakhir sebagai bentuk tak beraturan di atas meja. Setidakberaturan hatinya, hanya keteguhan yang ia punya saat itu untuk bicara dengan Bara.
Dan setidakberaturan itu reaksiku saat mendengar bahwa 2 hari setelah pertemuan kami, Sandra memutuskan hubungannya dengan Bara.
**
“Bi...”
“Eh, duh kenapa, Bar? Sorry, sorry.”
“Ngelamun mulu, bosen ya dengerin gue terus?”
Aku nyengir sebisanya. Tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan disaat begini.
“Ah, laper lagi jangan-jangan lu.” Bara memutar pergelangan tangan kanannya, melihat jam silver dengan rantai yang sama persis dengan milik Satya. “Tuh kan udah jam segini. Makan dulu, yuk. Ntar gue anterin pulang deh, habis makan.”
Aku tertawa. Bara pun membuka pintu kecil yang langsung menunjukkan tangga. Untuk turun dari rooftop apartemenku, tempat kami berdiam selama 4 jam ke belakang.












