Halmahera Selatan: Ekspedisi Batu Bacan (Part #2)
Perjalanan kami tidak berhenti di lokasi penggalian. Dengan kapal speed yang sama, kami melaju ke Desa Doko, desa pemukiman penduduk yang hampir semuanya berbisnis batu mulia. Masih terletak di Pulau Kasiruta, 10 menit dari lokasi penambangan. Desa Doko mungkin mulai terkenal sejak batu Bacan jenis “Doko” naik daun. Padahal, Bacan dan Doko jelas dua tempat yang berbeda. Batu mulia yang dijual dari sini berwarna hijau khas seperti hijau cendol kalau kata orang-orang. “Doko kembang super” adalah jenis batu yang cukup superior dan sering dicari karena keindahan dan kejernihannya warnanya.
Berjalan-jalan di pemukiman desa Doko tampak tidak ada yang istimewa. Hampir mirip dengan desa-desa pesisir lain di Halmahera Selatan. Tapi dibandingkan dengan desa-desa lainnya yang sering saya lihat, rumah-rumah disana lebih padat, hampir semua bangunan sudah berdinding semen. Tapi pemandangan ini tidak sebanding dengan penampilan anak-anaknya. Mereka semua nampak beringus, berambut coklat kusam, dan baju mereka juga kotor-kotor. Kebersihan nampak bukan prioritas warga disini.
Ketika sedang asyik berjalan menyusuri gang-gang kecil. Kami dikejutkan dengan seruan salah satu perawat,”Eh dok, dok, itu tadi ada anak kecil bibir sumbing!”. Kami semua melihat ke depan sesuai dengan arah yang ditunjuk perawat tadi. Anak kecil kira-kira berusia 7 tahun itu terus berjalan ke depan menjauhi kami. “Eh dek, dek tunggu” Kami terus mengejar hingga ia berhenti di depan sebuah rumah. Anak itu menatap kami bingung. Akhirnya, terlihat wajahnya dengan jelas. Wah, labiopalatoskisis. Itu artinya, sumbing anak ini sudah sampai mengenai langit-langit. Tentu anak ini kesulitan waktu bayi dulu saat menyusui. “Adek dimana tinggal?”. Tanpa mengucap satu kata pun, ia menunjuk rumah tepat ia berhenti di depannya.
Rumahnya tampak bagus. Relatif lebih bagus dibandingkan tetangga-tetangganya. Rumah bercat merah muda ini bahkan memiliki teras yang berlantaikan keramik, juga ruang tamu yang luas dan dilengkapi perabotan yang bernuansa kota. Sesuai dengan salah satu misi kami, perjalanan ini ingin mensosialisasikan kegiatan operasi bibir sumbing gratis yang diadakan oleh NGO smile training. Karena kebetulan bertemu langsung dengan target pasien, maka kami berkunjung ke rumahnya. Kami disambut dengan seorang wanita paruh baya dengan perhiasan lengkap. Jari-jarinya dipenuhi batu bacan. Produksi sendiri tebakan saya. Ibu itu ternyata ibu kandung si anak. Memiliki 7 anak, dan suaminya memiliki lubang galian tambang. Setelah mengobrol2 dan menjelaskan tentang program kita, kami pun mengajak si ibu untuk tidak lupa membawa anaknya bulan November nanti ke Rumah sakit Labuha, lokas tempat diadakannya operasi.
Di kedai makan, saya dan tim berbincang-bincang membicarakan pengalaman perjalanan kami di hari itu. “Ya ampun, ibu tadi rumah bagus, cincin heboh di jari, kenapa ya ga terlihat berusaha menyembuhkan anaknya. Sampai sekarang belum dioperasi tuh”. Ya memang kalau dihitung-hitung sebenarnya harga penjualan cincinnya cukup untuk membawa anaknya ke Makasar atau Surabaya. Lokasi rumah sakit terdekat yang memiliki spesialis bedah plastik. Apalagi sekarang sudah jaman BPJS, jadi biaya pengobatan gratis.
“Yah, ibu. Jangankan membawa anaknya berobat. Buat sekolah saja mereka ga berpikir”, celetuk pemiliki kedai yang ternyata mendengar obrolan kita daritadi. “Anak-anak sini jarang yang sekolah”, tambahnya.
Cerita punya cerita, orang-orang disini memiliki orientasi materi yang cukup tinggi. Seperti observasi saya sebelumnya, ternyata kesehatan dan kebersihan bukanlah prioritas. Anak-anak laki-laki dibesarkan untuk jadi penambang batu. Sedangkan anak perempuan dirumah saja, nanti tunggu lamaran penambang atau pedagang batu yang punya banyak uang. Ada satu pustu (puskesmas pembantu) di desa ini, tapi bidan dan perawatnya sering tidak datang karena mereka bukan asli orang Doko. Pesta pora hingga larut malam yang mampu menghabiskan tabungan jadi hal yang lumrah jika ada keluarga yang menikah, naik haji, dan ulang tahun. Belum lagi kalau lagi ‘panen’ batu, rumah-rumah dibuat megah, dan beli motor baru. Ya, baru saja sebelum kami sampai di kedai makan, dalam perjalanan kami melihat satu rumah mungil dengan dua motor Kawasaki Ninja hijau di parkir di halamannya. Motor yang diidam-idamkan adik saya tapi hingga sekarang belum terwujud karena kata Ayah saya, “Pemborosan!”. Tidak percaya ada motor sebagus itu di desa kecil seperti ini. Satu keluarga dengan dua motor mewah sekaligus.
“Belum lagi tu dok, sering anak-anak kecil kalau jajan kesini bukan bawa uang 5 ribu, 10 ribu. Tapi bawa uang biru-biru banyak kayak gini. Dihabiskan semua” seru ibu pemilik kedai sambil melambai-lambaikan uang pecahan rp 50 ribu di tangannya.
Kami semua berdecak kagum. Kagum dengan kemampuan mereka menghabiskan uang dalam sekejap seperti ibu-ibu metropolitan yang berbelanja kalap kala ada midnite sale. Nampaknya konsep investasi masa depan belum membudaya disini. Sayang sekali padahal dengan terlibat dalam bisnis batu mulia ini, keluarga bisa menabung untuk banyak hal lain yang lebih berguna seperti kesehatan, pendidikan, atau membangun bisnis lain yang lebih sustain. Tidak ada yang tahu bisnis penambangan batu mulia ini dapat bertahan sampai berapa lama.
“Bu, saya mau numpang buang air kecil, boleh?”, tanya saya kepada pemilik kedai
“Wah disini tarada WC. Coba rumah disebelah ada dok kayaknya”.
Ya, menghias jari dengan gemerlap batu mulia lebih penting daripada membangun toilet.