Labuha: “Mari Kase ASI Saja Ngoni Pe Anak Dari Lahir Sampe 6 Bulan!”
-Catatan Pemberdayaan Komunitas-
Istilah ASI eksklusif tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tapi sudah pahamkah kita semua? ASI eksklusif adalah tidak memberikan bayi makanan atau minuman lain, termasuk air putih, selain air susu ibu (ASI), kecuali obat-obatan dan vitamin atau mineral tetes. UNICEF dan WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif hingga bayi berumur enam bulan, dan pemberian ASI (non-ekslusif) dapat dilanjutkan hingga umur dua tahun.1 Rekomendasi ini dibuat tentu bukan tanpa alasan. Faktanya, ASI kaya akan faktor protektif dan nutrien yang dibutuhkan bayi sehingga mencegah kesakitan dan kematian.
Terdengar sepele, tapi nyatanya menyusui eksklusif itu sangat sulit sekali! Berdasarkan Laporan Kesehatan Provinsi tahun 2013, angka ASI eksklusif di Indonesia hanya 54,3%, masih jauh di bawah targetnya yaitu 75%. Ketimpangan ini juga ternyata terjadi di wilayah kerja saya, Ibukota Kabupaten Halmahera Selatan: Labuha. Pada tahun 2014, hanya tiga dari sepuluh ibu-ibu yang menyusui bayinya secara eksklusif di wilayah cakupan Puskesmas Labuha. Daerah cakupan ini seluas 134,7 km2 yang terdiri dari 8 desa yang ditempuh melalui jalur darat dan 6 desa dengan angkutan laut.
Rendahnya praktik pemberian ASI eksklusif kepada bayi ini juga bersamaan dengan kondisi gizi kurang dan buruk yang dialami anak-anak disini. Tahun 2014 tercatat ada 29 anak gizi kurang dan 9 anak dengan gizi buruk.2 Gizi buruk bisa dikatakan seperti mimpi buruk bagi orang tua, masyarakat, dan negara ini karena dampaknya yang bisa merusak potensi tumbuh-kembang anak untuk jadi generasi emas bangsa. Anak-anak akan sering sakit-sakitan, dari mulai batuk-pilek, kurang bisa menerima pelajaran, hingga penyakit yang menyebabkan kematian.
Menangkap adanya fenomena ini, saya dan teman-teman disini merencanakan sebuah proyek sederhana yang bertemakan pemberdayaan komunitas untuk kesehatan ibu dan anak. Kali ini saya mengkhususkan untuk terjun dalam isu ASI eksklusif karena selain masalah yang paling dekat dengan ibu-ibu disini, pemberian ASI sendiri mengandung filosofi yang bagi saya menarik. ASI adalah bukti kasih sayang ibu kepada bayinya. Meski demikian, kesuksesan ibu menyusui bayinya bukan hanya tanggung jawab sang ibu saja, tapi juga tanggung jawab keluarga, masyarakat, fasilitas kesehatan, dan mesti dimasukkan ke dalam agenda strategis pemerintah (political-will).
Menggunakan desain studi intervensi, proyek ini saya awali dengan pengidentifikasian masalah untuk mencari tahu tingkat pengetahuan dan persepsi ibu-ibu di wilayah Puskesmas Labuha dan keterampilan kader-kader desa terkait pemberian ASI eksklusif. Kemudian dari masalah yang teridentifikasi, saya berencana melakukan intervensi untuk menjawab permasalahan tersebut. Tentunya dilanjutkan dengan evaluasi intervensi tersebut. Proyek ini diselenggarakan selama kurang lebih empat bulan, yaitu Februari hingga Mei.
Bisa dikatakan proyek ini terkonsentrasi di Posyandu, sehingga dalam kegiatannya saya banyak turun ke posyandu mewawancarai ibu-ibu dan kader posyandu serta mengobservasi secara langsung kegiatan mereka yang berkaitan dengan promosi pemberian ASI eksklusif. Semestinya, kader posyandu menyediakan waktu dan tempat di posyandu untuk memberikan konseling menyusui kepada ibu-ibu hamil dan sedang menyusui. Namun teori sering terdengar lebih mudah dari pelaksanaannya.
Hasil dari wawancara dan observasi menunjukkan bahwa 6 dari 10 ibu tidak menyusui bayinya secara eksklusif. Hanya 42.7% ibu yang pernah atau sedang menyusui bayinya secara eksklusif. Sebanyak 39% ibu sudah memberikan makanan/minuman selain ASI saat anaknya masih berusia 1 hingga kurang dari 6 bulan. Bahkan terdapat 21% ibu yang memberikan anaknya makanan saat belum genap berusia satu bulan. Jenis makanan dan minuman yang mereka berikan pun bermacam-macam, dari mulai susu sapi biasa, teh, kopi hingga pisang. Alasan tersering yang menjadikan ibu tidak menyusui bayinya secara eksklusif adalah ibu merasa ASI tidak keluar dan diikuti dengan alasan lain, yaitu anak sering menangis ketika diberi ASI dan ibu merasa kesakitan saat menyusui. Mulai banyaknya ibu yang bekerja membuat mereka sibuk dan tidak sempat menyusui bayinya. Hasil analisis juga membuktikan bahwa pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif berperan besar dalam menentukan perilaku menyusui (p=0.012). Penyuluhan tentang ASI terbukti bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif secara umum dan cara menyusui yang benar. Namun, menurut pengakuan bidan desa, meskipun mereka sudah memberikan edukasi tentang hal ini saat kunjungan nifas, ibu-ibu tetap memberika makanan selain ASI begitu bidan tersebut pulang. Hal inilah yang memancing saya untuk melakukan evaluasi lebih lanjut dari proses edukasi ibu terutama di posyandu.
Jadilah saya bersama teman-teman mencoba melakukan penyuluhan massal ibu-ibu tentang ASI eksklusif di lima posyandu selama satu minggu. Penyuluhan ini menggunakan media kertas bergambar dan boneka peraga dengan durasi 8-10 menit selama proses posyandu berlangsung. Untuk mengevaluasi intervensi ini, kami melakukan pretest dan postest selama 15 menit. Hasilnya cukup mengejutkan. Dari 52 responden, hanya 32.69% ibu-ibu yang memiliki kenaikan nilai, sedangkan sisanya bernilai tetap dan bahkan turun. Secara statistik pun tidak ada bermakna antara skor sebelum dan setelah penyuluhan. Berdasarkan pengamatan dan wawancara, situasi yang kurang kondusif di posyandu membuat ibu-ibu sulit konsentrasi untuk menyerap informasi.
Hasil mengecewakan dari penyuluhan massal ibu-ibu di posyandu mendorong saya untuk mencari metode lain yang lebih efektif. Perhatian saya tertuju pada kader-kader posyandu yang menyimpan banyak potensi. WHO mengatakan bahwa di negara berkembang pemanfaatan kader terbukti 3,67 kali lebih efektif dalam mempromosikan menyusui eksklusif hingga 6 bulan.3 Sayangnya, hasil observasi dilapangan mengindikasikan bahwa kader tidak kontak dengan ibu hamil dan edukasi tentang ASI tidak rutin dilakukan. Kalaupun diberikan hanya kepada ibu yang anaknya memiliki gizi kurang. Justru, kader-kader ini banyak berinteraksi dengan ibu-ibu hamil dan ibu-ibu lainnya saat di luar posyandu.
Ketika bertanya “Apa pengertian ASI eksklusif?” kepada kader, banyak jawaban menarik. Berikut diantaranya:
“Ya menyusui. Itu sampai 2 tahun ya. Ya itu kurang lebih”- Kader Desa Labuha 4
“Ya pernah dengar. Bayi menyusui sampai 6 bulan, tanpa tambahan lain....saya tahu dari Bidan”- Kader Desa Amasing Kota Barat
“ ASI apa? So pernah dengar sih tapi belum tahu (artinya)”- Kader Desa Labuha 1
Pertanyaan lain “Apa peran kader dalam menyukseskan program ASI eksklusif?” juga ditanyakan kepada beberapa kader posyandu, jawaban yang bervariasi muncul.
“Ada. Memberi tahu ibu kalau menyusui itu harus banyak makan sayur, vitamin. memberi nasihat langsung.....biasanya hari-hari di luar posyandu”- Kader Desa Hidayat
“Kasih nasihat ya sudah. Dong mau yang begitu ya sudah. Biarkan saja. Tidak mungkin tong jaga dorang dari pagi sampai malam....Kalau buat saya sih takut kalau ASI tidak kasih keluar nanti jadi penyakit karena saya mengalami. Nanti keras seperti kelereng”-Kader Desa Labuha 4
“Apa ya? Ya memang kan ibu-ibu sekarang banyak bekerja mau (beri ASI) 2 hari, 4 hari, anaknya menyusui setelah itu susu botol, jarang sekali ASI eksklusif” – Kader Desa Amasing Kota Barat.
Masih minimnya pengetahuan kader mengenai ASI eksklusif dan kesadaran tentang peranan mereka dalam mewujudkannya di masyarakat, membuat ibu-ibu menyusui sulit mengakses info dan mencari pertolongan terkait masalah menyusui. Sehingga kebijakan yang sudah tertata di pucuk pemerintah tidak bisa dilaksanakan di tataran bawah, yaitu masyarakat, yang ironisnya adalah target sasaran keberhasilan dari program ASI eksklusif.
Akhirnya, saya dan teman-teman membuat program sederhana untuk meningkatkan kapasitas kader sehingga mereka bisa “berfungsi’ sebagaimana mestinya, sebagai akselerator perbaikan kesehatan di masyarakat. Membawa tema “Mewujudkan Kader Berkualitas”, kami melatih perwakilan kader-kader posyandu selama 2 hari (21-22 Mei 2015) dari delapan desa yang dapat dijangkau melalui jalur darat. Kendala biaya menjadi pertimbangan utama kami tidak mengundang desa-desa lainnya. Diharapkan ilmu dan keterampilan yang diberikan dapat didiseminasi ke desa-desa lain.
Pelatihan Kader Desa (Slide presentasi pelatihan Kader)
Pelatihan ini bekerjasama dengan puskesmas Labuha (tempat penulis bekerja) dengan menggunakan dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) pada periode tersebut. Hari pertama diisi dengan kuliah pemaparan teori tentang ASI eksklusif dan diikuti dengan sesi tanya jawab. Pada hari ke-2 kader-kader tampak lebih antusias saat mengikuti praktikum tentang ASI eksklusif. Melalui metode praktikum ini, kader diajak berdiskusi tentang pengalaman mereka dalam membantu ibu yang kesulitan menyusui bayinya. Kader pun diperagakan cara menyusui yang benar. Untuk mempermudah pemahaman, dilakukan juga metode role-play untuk beberapa kasus yang sering ditemui. Pada sesi ini, ibu-ibu kader tampak aktif bertanya dan terbuka menceritakan keluh-kesah mereka selama menjadi kader.
Pada hari terakhir ini pula kami membekali para kader dengan buku saku kader untuk membantu mereka saat mengedukasi dan memberikan konseling ibu-ibu menyusui. Buku saku ini berupa buku berukuran kecil yang mudah dibawa dan dibaca berisikan petunjuk praktis penyelesaian masalah menyusui yang paling sering ditemui di lapangan, jadi sifatnya case-based. Sebelum dibagikan, kami pun melatih para kader cara menggunakan buku tersebut.
Berdasarkan hasil evaluasi menggunakan pretest-postest, pelatihan kader ini memberikan dampak yang baik dari segi pengetahuan. Sebanyak 83% kader mengalami peningkatan nilai, sedangkan 11% mendapatkan nilai tetap, dan 6% turun. Secara statistik, kenaikan ini cukup bermakna (p=0.001). Hal ini menunjukkan peluang pemberdayaan kader dalam meningkatkan angka cakupan ASI eksklusif cukup besar. Terbukti bahwa pelatihan kader selama dua hari dengan kombinasi metode (kuliah dan praktikum) cukup efektif dalam meningkatkan pengetahuan. Namun perlu dicatat bahwa PR besar lainnya adalah mengevaluasi aplikasi dari ilmu ini dan retensi pengetahuan tentang ASI eksklusif ini dapat bertahan hingga berapa lama.
Kelebihan dari proyek-mini ini adalah bentuk studi intervensi yang melakukan intervensi ke masyarakat berbasiskan kebutuhan komunitas dengan bukti sains dan dampaknya pun dapat dinilai. Studi intervensi ini sangat potensial untuk memberikan rekomendasi kepada perumus kebijakan dan pelaksana program tentang efektivitas dan efisiensi suatu program/proyek. Selain itu, proyek-mini ini juga memberikan intervensi yang cukup holistik untuk isu ASI eksklusif, yaitu mencakup ibu dan kader posyandu. Namun kekurangannya adalah keterbatasan dana sehingga tidak bisa mengundang semua kader, validasi kuisioner yang tidak dilakukan, dan penilaian evaluasi sifatnya jangka pendek.
Meski hanya empat bulan, proyek ini menurut saya bisa memberikan banyak rekomendasi untuk pemerintah setempat. Pada sesi pemaparan laporan proyek-mini ini di dinas kesehatan, saya menekankan pada pentingnya perluasan peran kader di posyandu, dari yang hanya menjadi penimbang bayi dan pencatat berat badan, menjadi penyuluh ibu-ibu tentang kesehatan. Kader juga memerlukan regenerasi. Sayangnya peranan kader hingga saat ini masih dipandang sebelah mata karena masih minimnya dukungan materil dan imateril, seperti renumerasi, fasilitas, penghargaan, dan status dalam masyarakat. Padahal dengan diadakannya pelatihan rutin seperti ini, kader posyandu merasa lebih dihargai. Kemudian terkait masalah menyusui, untuk mengatasinya tidak bisa mengandalkan penyuluhan massal di posyandu yang suasananya tidak kondusif. Diperlukan konseling yang sifatnya personal dan supervisi dari pihak yang lebih kompeten dan dekat dengan ibu, yang sifatnya berkelanjutan. Dalam hal ini tentu kader menjadi pihak yang dapat dipercayakan dan diberdayakan.
Link Slide Presentasi Laporan Mini-Proyek
Link Makalah Laporan Mini-Proyek ASI Eksklusif
1. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. InfoDATIN: Situasi dan Analisis ASI Eksklusif. 2014.
2. PKM Labuha. Evaluasi PKM Labuha Januari-Desember 2014. Labuha, Halmahera Selatan 2014.
3. Lewin SA, et al. Lay health workers in primary and community health care: A systematic review of trials. London. 2006.