Nikmatnya Sedekah dan Serunya jadi Volunteer
(sumber : https://twitter.com/Dompet_Dhuafa )
Suara adzan terdengar indah dari pengeras suara yang terpasang di menara masjid. Namun, pengeras suara itu terdengar menyeramkan apabila ada pengumuman yang diawali dengan Innalillahi wa Inna’ilaihi Rajiun yang dilanjutkan dengan kabar meninggalnya seseorang. Seketika, saya pun berpikir, ‘apakah saya sudah mengumpulkan cukup banyak bekal sebelum meninggalkan dunia ini?’.
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalannya, kecuali dari tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yng mendoakannya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i)
Hanya ada tiga amalan yang bisa dibawa dan semoga bisa termasuk dalam hitungan amal yang bisa dihisab. Era digital dengan berbagai sosial media sering kali membuat lupa untuk beribadah dan beramal. Niat yang harus selalu diperbarui serta diikuti kemauan yang kuat. Tetap konsisten dan tak mengharapkan pujian. Karena berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mencapai Ridha Allah lebih utama dibanding berlomba-lomba untuk eksistensi demi pengakuan dari manusia.
Salah satu amalan yang mudah dilaksanakan dan bisa dilakukan kapan saja adalah sedekah. Setiap yang dilakukan bisa menjadi sedekah, seperti memindahkan batu yang menghalangi jalan, tersenyum, dan lain-lain.
Sedekah yang sering dilakukan dan bernilai jariyah adalah menyisihkan sebagian harta yang dimiliki atau berbagi kepada yang lebih membutuhkan. Nominalnya tak harus banyak, tetapi disesuaikan dengan kemampuan. Kebiasaan ini sebaiknya dilakukan setiap hari meskipun hanya Rp. 2000/hari yang dimasukkan ke dalam kotak amal masjid. Contoh lain adalah memberi uang pendidikan untuk anak yatim yang tidak mampu. Kini, sedekah lebih mudah dan menyenangkan seperti belanja online. Berbagai aplikasi sedekah online bisa diunduh melalui Playstore.
( sumber : https://twitter.com/Dompet_Dhuafa )
Saya ingat sebuah tausiyah sederhana. Malaikat itu mencatat berapa kali bersedekah bukan nominal yang disedekahkan. Tapi, ini bukan berarti sedekahnya kecil-kecil aja ya. Insya Allah, sedekah itu memperbanyak rezeki, makin banyak sedekah makin banyak rezekinya.
Saya jadi terkenang masa kuliah dulu. Rasanya baru kemarin terjadi. Awal kuliah yang berat dengan segala keterbatasan. Saya pun memilih mengikuti gerakan sosial di kampus sebagai cara sedekah. Sedekah tenaga dan waktu.
Saya dikenalkan dengan Dompet Dhuafa Republika oleh penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) IPB di masa awal kuliah sekitar tahun 2012. Saya sedang berjalan di koridor GKA dan tak sengaja melihat talkshow Festival Anak Tani yang diselenggarakan untuk memperkenalkan Gerakan Cinta Anak Tani (GCAT). Bincang-bincang tentang pertanian yang menarik untuk saya yang masih mahasiswa baru. Saya pun memutuskan bergabung menjadi volunteer.
Dompet Dhuafa Republika adalah lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat kaum dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf, serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, maupun lembaga/perusahaan). Program yang dijalankan lembaga ini meliputi pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan pengembangan sosial.
BAKTI NUSA sendiri adalah salah satu program pendidikan Dompet Dhuafa Republika dalam bentuk beasiswa dan pembinaan untuk mahasiswa berprestasi di perguruan tinggi negeri. Penerima beasiswa ini diseleksi dengan ketat dan mendapatkan pembinaan dari mentor-mentor yang mumpuni. Mereka juga ditugaskan untuk membuat sebuah gerakan sosial. Maka dari itu, penerima BAKTI NUSA IPB menggagas terbentuknya GCAT.
Saya merasa seperti masuk ke dalam lingkaran yang penuh kebaikan. Para penerima BAKTI NUSA IPB itu kumpulan mahasiswa keren. Para aktivis dan mahasiswa berprestasi berkumpul di lingkaran itu. Saya mencuri banyak ilmu dan menemukan sahabat-sahabat yang luar biasa.
( sumber : https://www.instagram.com/cintaanaktani )
GCAT merupakan program beasiswa untuk anak petani prestatif yang duduk di kelas 3 SMA. Penerima beasiswa akan mendapatkan uang pendidikan dan pembinaan selama 1 tahun. Pembinaan meliputi les persiapan UN-SNMPTN, pengembangan karakter, dan pengenalan dunia kampus.
Volunteer dibagi dalam beberapa divisi. Saya memilih bergabung di fundrising. GCAT baru berjalan saat itu. Sebagai langkah awal, kami menggalang dana sekaligus memperkenalkan GCAT dengan membawa celengan ‘Seribu Cinta Anak Tani’ dari satu kelas ke kelas yang lain untuk mendapatkan donasi. Konsepnya adalah mendonasikan 1000 rupiah per hari agar tidak terasa berat bagi mahasiswa. Tentunya, donasi lebih dari seribu sangat dianjurkan.
Pembinaan bersama penerima manfaat GCAT juga menjadi momen yang paling saya nantikan. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada akhir minggu atau hari libur. Mereka begitu semangat dan antusias mengikuti setiap pembinaan. Saya menjadi termotivasi untuk lebih semangat belajar. Saya juga semakin yakin bahwa keterbatasan (ekonomi) tak seharusnya menyurutkan semangat untuk meraih impian dan cita-cita.
( sumber : https://www.facebook.com/cintaanaktani )
Seluruh volunteer juga dipersilakan untuk ikut semua kegiatan GCAT dan ada pembinaan yang menyenangkan. Makan bersama, outbond, dan masih banyak lagi kegiatan yang menyenangkan. Masa-masa di GCAT ini yang membuat saya suka dengan dunia volunteer. Tak disangka, saya bisa betah hingga 3 tahun di komunitas ini. Saya merasakan betapa kebahagiaan terindah adalah saat melihat orang lain bahagia.
Saya tidak bisa begitu aktif mengikuti kegiatan GCAT di masa akhir kuliah karena kesibukan mengerjakan penelitian tugas akhir. Saya juga ikut membantu dalam proyek dosen sembari mengerjakan penelitian tugas akhir. Selain itu, keadaan bapak saya yang sedang sakit keras juga menuntut untuk sering pulang ke rumah.
Setelah lulus, saya pulang ke rumah. Tak banyak yang bisa saya lakukan di kampung halaman. Kondisi kesehatan bapak saya juga semakin menurun. Saya harus siap sedia apabila harus pergi ke rumah sakit mendadak. Saya memilih bergabung menjadi relawan di lembaga sosial dan turut aktif di komunitas Pejuang Shodaqoh.
( sumber : https://www.instagram.com/pejuangshodaqoh/ )
Saya mempercayai bahwa sedekah tak harus dengan harta. Kemauan dan konsisten dalam melakukan kebaikan juga bernilai sedekah. Bila belum bisa memberi, setidaknya menjadi bagian dari pasukan yang membantu menyalurkan titipan orang lain dengan baik dan amanah. Keterbatasan tak bisa menjadi halangan agar tetap istiqamah bersedekah.
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”