Surat Si Sahabat
Siang itu, mendung, gue duduk bareng temen baik gue sejak 7 tahun belakangan. Dia cerita kemaren ada cowo -temen gue juga dari SMA-, yang mengakui perasaannya ke dia. Melalui surat. Wkw.
Lewat surat itu, si cowo meminta maaf atas perasaannya yang tak mampu lagi ia tahan selama beberapa tahun ini. Rasa sukanya teramat besar hingga sampai pada titik dimana sudah tidak ingin sekedar memiliki. Dia pun tak mengerti pada hal apa yang ia sukai darinya. Baik dan buruk ia terima. Yang utama, ia meminta maaf karna tak mampu mengatakan secara langsung, tak sanggup, gugup, kelu kaku. Bertahun ia menyimpan semuanya, hanya datang sesekali, itupun hanya sepatah dua patah kata, karna ia pun tahu, bahwa sesungguhnya itu tak dibenarkan.
Gua tertegun.
Sungguh.
Dari sudut pandang gue, gue punya beberapa point yang bisa gue garis bawahi.
Pertama, gue selalu merasa tersanjung ketika mengetahui ada seseorang yang menyimpan perasaan untuk gue. Karena gue pun mengerti bagaimana rasanya menaruh rasa pada seseorang, menguras energi, menguras waktu. Dan tidak ada janji akan sebuah jawaban pasti. Ikhlas, terutama apabila kita memilih untuk menyimpannya sendiri.
Kedua, gue sangat berterimakasih karna dia telah mampu melihat suatu sisi baik dalam diri gue yang bahkan gue sendiri tidak menyadarinya. Disaat gue sendiri masih selalu mengeluhkan hal hal kecil pada diri gue yang masih banyak kekurangan ini, ada seseorang yang mampu mencintai diri gue lebih dari yang gue lakukan ke diri sendiri. Ada seseorang yang tetap bisa memandang baik gue diatas segala kekurangan.
Ketiga, ini sih yang paling penting, gue sangat amat merasa dihargai dan dihormati sebagai seorang wanita. Dia berusaha sebisa mungkin untuk mengendalikan perasaannya, mencoba untuk tidak terkuasai oleh nafsu. Karena ia mengerti, bahwa Allah telah menetapkan hukum pasti mengenai hubungan seorang pria dan wanita. Tertulis dengan jelas. Ia ingin “menjaga” orang yang ia cintai dengan caranya sendiri, dengan tetap bertahan pada jalan yang baik, dan berharap ujung cerita yang baik pula. Isn’t it romantic?
Keempat, ini peringatan yang baik bagi gue untuk memperbaiki diri lagi. Di lain sisi, gue kadang masih merasa belum pantas untuk dicintai oleh orang sebaik itu dan dengan cara yang baik pula. Gue kudu memantaskan diri lagi.
Gue beneran cuma bisa geleng geleng sambil bengong sih. MasyaAllah. MasyaAllah.
Tapi sayang, temen gue saat ini masih belum merasakan sebesar yang doi rasakan. Mungkin seiring berjalannya waktu, waAllahu’alam.
Jauh di dalam lubuk hati gue, gue diam diam berharap bahwa suatu saat mereka akan berakhir pada jalan yang baik, apapun itu. Karna apapun yang kita lakukan berlandas peraturan Allah, dan berharap ridha-Nya, insyaAllah akan berujung dengan baik. Kita pun tau bahwa manusia baik diciptakan untuk bersama manusia baik pula, dan mereka adalah salah dua dari manusia baik yang gue kenal. Aamiin. Aamiin. Allahumma aamiin.











