MENAHAN DIRI
“Kak, kenapa ya, saya ini ingin berhenti membicarakan atau mengomentari orang, tapi entah kenapa selalu keluar begitu saja. Bagaimana caranya?”
—
Membicarakan orang, atau mengomentari orang, adalah hal yang seringkali kita lakukan. Entah itu mengomentari hidupnya, mengomentari apa yang orang lain pakai, mengomentari hal yang tak perlu dikomentari. Mungkin, kita juga pernah melakukannya.
Tapi, perlu diketahui, manusia memang makhluk yang akan dan selalu membicarakan orang lain. Sudah fitrahnya seperti itu
“Loh kok bisa?”
Karena, memang begitulah sifat asli manusia dari lahir. Disebutkan oleh Allah SWT dalam qur’an,
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. | Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, | dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. ” (Q.S. Al-Ma’arij : 70-72)
—
Mengomentari orang-orang, entah tentang apapun, baik bajunya, cara jalannya, keputusannya, tingkah lakunya, adalah tanda bahwa kita sedang berkeluh kesah. Tanpa disadari, kita sedang mengeluh, karena kita ini sedang susah, susah menerima perbedaan orang lain.
Hanya karena dia memakai baju yang tidak sesuai warna yang kita suka, kita komentari dia, kita berkeluh kesah pada teman-teman kita.
Hanya karena dia mengambil keputusan yang menurut kita tidak benar, padahal dia sudah berpikir matang akan keputusannya, kita komentari dia, kita berkeluh kesah pada teman-teman kita .
Hanya karena dia mendukung tim yang berbeda dengan tim favorit kita, kita komentari dia, kita berkeluh kesah pada teman-teman kita .
begitulah, itu sudah menjadi fitrahnya manusia untuk menjadi orang yang hanya berkeluh kesah. Mengeluhkan perbedaan, yang menurut dirinya tidak sesuai kehendaknya. Padahal manusia itu kan berbeda-beda. Tidak semua harus sama dengan keinginan kita.
—
Berhati-hatilah. Karena ketika kita mengomentari seseorang, hal itu bisa memancing orang untuk ikut mencemooh dan menghina. Namun, kita tidak berhenti, kadang kala kita merasa senang, karena orang-orang setuju dan sepemikiran dengan kita. Apalah yang bisa lebih menyenangkan, ketika oranglain mengikuti apa yang kita hendaki?
Padahal, komentar yang berakhir dengan cacian, hinaan, ataupun gibah, tanpa disadari menjadi ladang dosa yang begitu subur bagi yang memulainya, karena memicu keburukan-keburukan lainnya.
—
Maka, salah satu cara menghentikannya adalah, sabar
Sabarlah, tidak semua harus kita komentari.
Sabarlah, pahami bahwa kadang orang lain juga membuat keputusan berbeda.
Sabarlah, karena nabi juga mengabarkan kesabaran.
Sabarlah, karena sabar adalah bagian dari menahan diri. Menahan diri, dari segala keburukan.
—
Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”
Berkatalah baik, atau diam.
Sungguh, kamu takkan dijauhi teman-temanmu, jika tidak berkomentar apapun.
Justru kamu bisa dijauhi orang-orang, karena kamu sering berkomentar segala hal.
Maka, sabarlah, menahan diri, menahan hati.
MENAHAN DIRI Bandung, 29 Desember 2016
Sabar, berkata baik atau diam. 🙏












