BEFORE WINTER ENDS #1
Tama menghela napas panjang saat selesai mengerjakan perbaikan tesis yang dikoreksi oleh dosennya. Ia menghabiskan satu malam penuh untuk menyelesaikan tugas tersebut karena hari ini Ia berniat untuk keluar kota bermain ski dengan beberapa temannya dan besok lusa Ia harus menghadap lagi untuk melakukan bimbingan tesis. Ia melihat layar ponselnya dan melihat waktu telah menunjukkan pukul 5 pagi, Ia masih mempunyai waktu untuk beristirahat sejenak sebelum waktu shalat subuh dan sinar matahari menyongsong. Ia berjalan pelan menuju tempat tidurnya, meminum segelas air putih dari gelas yang berada di samping jam beker dan mulai berbaring memejamkan mata.
Perbedaan waktu dan cuaca antara Indonesia dan Finlandia memang sangat terasa bagi mereka yang baru menginjakkan kaki di negara Nordik tersebut, apalagi jika berniat untuk tinggal lama di sana. Tama pun awalnya seperti itu. Saat Ia pertama kali mendapat kabar bahwa Ia diterima oleh salah satu kampus di Finlandia dengan jalur beasiswa, Ia mulai intens mencari seperti apa negara yang akan dikunjunginya untuk belajar, namun sebanyak apapun Ia mencari tahu tetap saja ketika pertama kali tiba kala itu di bulan Desember tepat musim dingin, dirinya masih gelagapan menyesuaikan diri dengan jadwal pagi siang dan malam, jadwal sholat, serta cuacanya yang dingin. Namun setahun lebih berada di Finlandia, tepatnya ibukota Helsinki, telah membuat Tama banyak beradaptasi, apalagi dengan cuaca.
Tama bangun tepat pukul 8 pagi, setelah sholat dia bergegas mandi dan menyiapkan beberapa lembar baju hangat dan peralatan ski seadanya. Ia sangat senang dan bersemangat untuk mengunjungi tempat itu karena menjadi salah satu destinasi liburan favorit di negara tersebut khususnya untuk warga negara asing, yaitu Lapland. Lapland merupakan provinsi bagian utara dari Finlandia, wilayah tersebut dikabarkan sangat unik sebab matahari bersinar sepanjang hari di musim panas. Perjalanan yang ditempuh dari Helsinki menuju Lapland kurang lebih 9 hingga 10 jam.
"Hei pelan-pelan saja," kata Aero pada Tama saat melihatnya begitu tergesa-gesa mengikat tali sepatu saat dijemput oleh teman-temannya. Aero juga adalah mahasiswa dari Indonesia. Namun berbeda dengan Tama yang mengambil jurusan Arsitektur, Aero adalah anak jurusan Seni dengan pembawaan yang lebih tenang. Tampangnya gagah bak selebriti indo, ayahnya berasal dari London sementara Ibunya asli Jawa. Tama sendiri adalah keturunan Indonesia asli Bugis-Jawa, dengan kulit kecokelatan, alis tebal, mata cokelat dan senyum yang manis. "Aku terlalu bersemangat untuk ini, dari awal aku tiba di Finland, aku sangat ingin mengunjungi Lapland", tutur Tama pada Aero. Setelah siap, mereka bergegas turun untuk berangkat bersama dua teman lain yaitu Paul dan Shawn, dua mahasiswa asli Finlandia namun ramah dan cukup mahir berbahasa Inggris sehingga tidak sulit untuk membangun hubungan dengan mahasiswa dari negara lain.
Tama dan Aero masuk ke mobil Tesla Model S milik Shawn yang disupiri oleh Paul. Mereka memilih Paul yang membawa mobil agar perjalanan mereka aman dan tenteram, sebab Shawn memiliki kebiasaan membawa mobil dengan kecepatan tinggi, membuat teman-temannya merasa hidupnya bergantung pada kemudi setir yang dipegang Shawn kala naik mobil bersama-sama. Mereka membawa cemilan yang cukup banyak dan memutar musik favorit secara bergantian, sesekali mengobrol tentang berbagai hal terutama gadis-gadis cantik yang tenar di kampus, membuat perjalanan tersebut menjadi semakin nyaman setiap jamnya.
Resort Ski Ounasvaara terletak hampir di pusat kota Rovaniem. Dari sisi utara gunung Ounasvaara, terdapat sebuah resor ski modern di mana para pengunjung dapat bermain ski atau papan salju sambil menikmati pemandangan berkelas internasional. Lereng Ounasvaara juga dikategorikan cocok untuk pemula dan profesional. Mereka pun memilih penginapan terdekat dengan resort sebab penginapan didalam resort sudah penuh. Setelah menyimpan barang di kamar, mereka dengan tidak sabar menuju resort ski, menyewa beberapa peralatan yang kurang, dan dibawa naik menggunakan lift atau semacam kereta gantung menuju lereng utama, Vuopala dan Routala, yang terletak di puncak gunung tepat di atas Restoran dan Penyewaan Ski. Lereng utama ini begitu halus dan cukup mudah untuk pemula.
Paul dan Shawn yang sudah mahir bermain ski sejak kecil mengajarkan dua teman asal Indonesianya. Aero tidak sulit untuk diajar sebab Ia mempunyai pengalaman bermain sepatu roda dan ice skating saat remaja, hanya saja Tama kewalahan apalagi Ia begitu waswas ketika diminta meluncur ke bawah oleh Paul. Tidak hanya mereka berempat, sejumlah turis asing dan lokal pun terlihat sedang bermain ski. Lereng utama ini sangat luas jadi kecil kemungkinan akan menabrak pemain ski lainnya.
Setengah jam bermain ski cukup melelahkan untuk Tama yang masih pemula, Ia memilih turun dan menuju restoran meninggalkan Aero, Paul, dan Shawn yang sedang asyik bermain ski. Ia memilih menikmati secangkir kopi hangat sambil memandangi pemandangan alam ciptaan Tuhan yang sangat indah. Tiba-tiba Ia dikagetkan dengan sebuah tangan yang memegang gelas di sampingnya, rupanya sesosok gadis cantik juga sedang menikmati secangkir minuman panas sambil memandangi pemandangan yang sama. Tama begitu terkesima melihatnya, dan buru-buru memalingkan pandangannya saat gadis itu menolehkan pandangan padanya. Ia kikuk, mengusap kedua telapak tangannya yang kedinginan. Ia kembali kaget saat gadis itu menyapanya, "Hei!", Tama berbalik ke arah gadis yang sedang tersenyum manis itu, lalu membalas dengan senyum. Gadis itu bertanya lagi dengan bahasa Suomi (bahasa resmi Finlandia) "Puhuuko täällä joku englantia?", Tama terdiam sejenak, bukan karena tak tahu cara membalasnya hanya saja dia masih mengagumi kecantikan gadis di hadapannya. "Oh yeah, I can speak English", jawab Tama terbata-bata. "Oh my God, finally, it's very difficult to find people who can speak English here...", kata gadis itu dengan nada bicara yang gemas dan imut bagi Tama, " I'm Raya, I'm Indonesian, and what your name?", katanya lagi sambil mengulurkan tangannya. Tama menyambut tangan tersebut dengan gembira mengetahui gadis ini berasal dari negara yang sama, "Aku Tama, dari Indonesia juga," jawabnya. Mata gadis itu tiba-tiba berbinar saat itu juga seperti melihat malaikat berdiri di depannya, "Oh my God, thank God, astaga aku nggak nyangka loh bakal ketemu orang Indonesia disini. Ketemu orang yang bisa bahasa Inggris aja, aku udah seneng banget apalagi ketemu orang Indonesia.", katanya Raya dengan semangat. Tama hanya tertawa kecil begitu manis, "Jadi kenapa kamu liburan sejauh ini?", tanya Tama berusaha menebak sembari mencari bahan obrolan. "Aku tuh sebenernya nggak liburan, aku kesini itu dalam rangka shortcourse, 3 bulan aja. Ini udah bulan ketiga, dan kursusnya udah nggak sepadat itu jadi waktu yang ada aku gunain untuk ngunjungin tempat-tempat wisata di Findland deh, kamu kerja disini?", tanya Raya lagi. "Nggak, aku masih kuliah. S2 disini, udah mau kelar tugas akhir juga, cuma ada waktu luang dikit, jadi liburan singkat deh sama temen-temen kesini. Emang pengen kesini dari awal sampai Findland, tapi baru kesampaian hari ini. Kamu shortcoursenya sendiri aja?", tanya Tama. "Iya, sebenarnya kita ada dua tim. Satu tim itu isinya dua orang, satu cowok, satu cewek. Tapi kemarin teman tim aku yang cowok batal ikut karena sodaranya meninggal, sementara tim lainnya itu ada di Turku. Jadi aku sendiri deh disini". Tiba-tiba mereka dikagetkan oleh tiga lelaki yang gemetar karena kedinginan di belakang mereka, siapa lagi jika bukan Aero, Paul, dan Shawn. Tama kemudian memperkenalkan Raya pada ketiga temannya dan bergabung dalam satu meja, bertukar cerita dan pengalaman. Bukan hal yang sulit untuk menjadi akrab dengan sesama warga negara asal saat bertemu di negara orang yang begitu asing.
-bersambung-











