Pada dasarnya kita sebagai hamba, tidak punya hak apa-apa atas Allah. Seperti pulpen yang tidak memiliki hak atas kita, pemiliknya.
Apa mungkin, pulpen mampu berkata jangan genggam aku begini, tapi genggam aku begitu? Siapa ia? Bahkan jika berkehendak membuangnya, kita bisa.
Lalu apa layak, kita katakan pada Allah, suatu hukum tidak sesuai dengan kita. Islam turun di tanah Arab, padang pasir, sedangkan kita tinggal di Indonesia(?)
Hei, bahkan Allah tidak butuh taat kita. Tapi kita yang sangat sangat sangat butuh taat kepada Allah.
Maka ketika Muadz ibn Jabal ditanya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam tentang apa hak Allah atas hamba dan apa hak hamba atas Rabb-nya, ia berkata Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.
Lantas Rasul bersabda, bahwa hak Allah atas hamba adalah beribadah hanya kepada Allah, tanpa menyekutukan-Nya. Dan hak hamba atas Rabb-nya adalah tidak mendapat siksa Allah ketika tidak menyekutukan-Nya.
Ya, Allah cuma minta kita satu; setia dalam menghamba hanya pada-Nya. Dan (lagi-lagi), hakikatnya kita yang butuh penghambaan itu sendiri.
Maka sesungguhnya sholat kita, ibadah kita, hidup dan mati kita, hanya untuk Allah Rabb semesta alam.