Tahukah engkau apa yang menguatkanku selama ini?
Bukan keberanian, bukan keteguhan, bukan pula kekuatan yang tampak dari luar.
Yang menopangku justru satu kalimat, kalimat yang turun sebagai penawar bagi hati yang rapuh:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.
“Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.”
Kalimat yang mengingatkanku bahwa aku tidak pernah benar-benar berjalan dengan kakiku sendiri, tidak pernah berdiri dengan kekuatanku sendiri, dan tidak pernah bangkit karena kehebatanku.
Bahwa setiap kemampuan yang kupunya, setiap nafas yang kutarik, setiap kesabaran yang kupaksakan, semuanya hanyalah titipan dari Allah — Rabb yang Menggenggam segala urusan.
Ketika aku jatuh, kalimat ini menenangkan: bahwa aku tak perlu kuat sendirian.
Ketika aku rapuh, kalimat ini menguatkan: bahwa Rabb-ku tidak pernah pergi.
Ketika aku terpuruk, kalimat ini membangunkan: bahwa yang mengangkatku bukan dunia, tetapi Dia yang Maha Menguasai segala daya.
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah adalah pengakuan paling jujur dari seorang hamba: bahwa kita tidak mampu tanpa pertolongan-Nya, bahwa kita tidak bergerak tanpa izin-Nya, bahwa kita tidak bertahan tanpa kekuatan dari-Nya.
Dan justru dalam pengakuan inilah, hati menjadi ringan.
Karena aku sadar: aku tidak harus kuat, yang harus aku lakukan hanyalah bergantung kepada Allah.
Di sanalah ketenangan tinggal, karena ketenangan bukan milik mereka yang kuat, melainkan milik mereka yang menyerahkan diri kepada Allah.