#BELIYANGBAIK Untuk Hidup Yang Lebih Baik
Pernah dengar istilah bahwa manusia itu adalah makhluk yang tidak pernah puas?
Kalau kata pelajaran Sosiologi sih, karena manusia memiliki sifat dasar seperti itu, yang memiliki keinginan-keinginan pribadi. Walaupun terkadang ada hal-hal yang tidak mendesak untuk dipenuhi.
Lalu, identik dengan apakah keinginan-keinginan itu? Tentu saja berbelanja! Semua orang pasti senang berbelanja, baik tua maupun muda, laki-laki atau perempuan, pelajar atau jutawan, semua pasti senang berbelanja.
Saat memasuki tempat perbelanjaan, yang terpikirkan pastilah “apa ya yang akan kubeli” begitu? Namun tahukah kamu, bahwa ternyata apa yang kita beli itu adalah apa yang kita dukung.
Awalnya aku pun tidak tahu-menahu tentang barang yang kubeli. Mau itu barangnya dari luar negeri ataupun lokal, mau itu cara pembuatannya seperti apa aku juga tidak peduli. Namun, setelah aku mengetahui kampanye #BeliYangBaik yang diangkat oleh WWF, aku jadi tahu bahwa kita sebagai konsumen adalah pemberi andil terbesar dalam terpelihara atau tidaknya lingkungan.
Apa sih #BeliYangBaik itu?
Gerakan #BeliYangBaik merupakan gerakan untuk mengajak para konsumen Indonesia untuk memperhatikan apa-apa saja yang mereka beli dan untuk membeli barang-barang yang ramah lingkungan dalam pembuatannya. Dengan begitu, masyarakat Indonesia bisa mengurangi dampak pengerusakan lingkungan yang terjadi.
Lalu, kenapa konsumen adalah pemberi andil terbesar pada rusak atau tidaknya lingkungan?
misalnya begini, perusahaan X merupakan produsen kertas yang ramah lingkungan dan perusahaan Y merupakan produsen kertas yang belum ramah lingkungan. Karena ketidaktahuan kita, akhirnya kita memilih untuk membeli kertas yang diproduksi oleh perusahaan Y karena bahan kertasnya yang lebih nyaman untuk dibuat menulis. Maka, kita turut mendukung semakin besarnya produksi perusahaan Y tersebut, dan semakin banyak kerusakan lngkungan yang terjadi.
Maka dari itu, sebagai konsumen yang bijak, kita harus mengetahui kandungan dan proses produksi dari barang yang kita beli. Pastikan, kita membeli produk-produk yang ramah lingkungan. Contohnya seperti membeli produk-produk yang sudah berlabel dan bersertifikat “halal” secara lingkungan. Yaitu FSC, ASC atau MSC, dan RSPO.
FSC (Forest Stewardship Council) adalah eco label untuk produk kayu dan kertas, dimana barang-barang yang sudah berlabel FSC berarti sudah memenuhi syarat kandungan dan proses produksi yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab. Karena, tahukah kamu bahwa sudah 3,5 Milyar meter kubik kayu yang diambil dari hutan untuk produksi industri kayu dan kertas yang kita pakai selama ini? Tentu bukan jumlah yang sedikit, bukan?
Selain itu, ASC (Aquaculture Stewardship Council) atau MSC (Marine Stewardship Council) yaitu eco label untuk produk berbahan Sustainable Seafood. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, banyak dari produsen perikanan yang menggunakan alat-alat penangkap hasil kekayaan laut yang dapat merusak seluruh ekosistem, contohnya seperti pukat harimau, bahan peledak, jarring-jaring penangkap ikan yang sangat rapat, dan lainnya. Faktanya, 60% dari kekayaan laut kita dieksploitasi secara berlebihan. Maka, label ASC dan MSC ini menandakan bahwa proses penangkapan hasil kekayaan laut yang berkelanjutan, lestari, dan bertanggung jawab. Maksud dari berkelanjutan di sini adalah tidak dengan mengeksploitasinya, melainkan dengan cara berkala dan ramah lingkungan.
Sedangkan RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) adalah label sertifikasi untuk produk berbahan kelapa sawit.
Kelapa sawit? Bukannya kelapa sawit hanya untuk produksi minyak goreng, ya?
Eits, jangan salah. Penggunaan kelapa sawit sebagai minyak goreng hanya sebagian kecil dari penggunaannya di Indonesia dan India. Sedangkan untuk negara-negara lain, kelapa sawit banyak digunakan sebagai bahan dari alat-alat masak, bahan biskuit, dan lain-lain. Karena sifat alami dari kelapa sawit yang dapat memperpanjang usia suatu produk.
Seluas 3,5 juta hektar hutan hilanglah sudah hanya untuk produksi minyak kelapa sawit, dan hanya 9% perkebunan kelapa sawit yang ramah lingkungan. Mengapa bisa terjadi? Karena penanaman kelapa sawit memerlukan lahan, maka penanaman tumbuhan ini identik dengan penebangan hutan secara liar, untuk mendapat keuntungan yang sebanyak-banyaknya.
Dengan dilakukannya penebangan hutan secara liar, bukan hanya hutannya saja yag menjadi gundul, namun ternyata, ada beberapa hewan yang menjadi korban, yaitu Gajah dan orangutan. Orangutan sebagai ‘tuan rumah’ dari hutan tersebut, tersingkir karena habitatnya yang beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit, hilangnya sumber bahan makanan dan perburuan merupakan alasan kuat mengapa populasi mereka semakin terancam.
Lalu bagaimana dengan gajah? Fakta yang mengejutkkan bahwa 70% kematian dari binatang berbelalai itu disebabkan oleh diracun oleh para pemilik perkebunan kelapa sawit. Hewan yang masih punya garis darah dengan mammoth ini dianggap menjadi hama karena memakan umbut (ujung) dari pohon sawit tersebut.
Selain kerugian dari sektor kehutanannya, ternyata manusia juga mengalami kerugian. Karena beberapa penanaman sawit dilakukan tanpa berkonsultasi dengan komunitas lokal tentang penggunaan lahannya. Beberapa justru harus bertanggung jawab terhadap penggusuran masyarakat dari tanahnya. Selain itu, pelanggaran terhadap hak para buruh untuk mendapatkan upah yang merata dan malpraktik lain juga terjadi.
Lalu jika banyak ruginya, kenapa tidak diganti saja kelapa sawit dengan tanaman lain?
Mengganti kelapa sawit dengan bahan lain bukan menyelamatkan kelestarian lingkungan, justru malah menambah kerusakannya. Penanaman tumbuhan lain akan malah menambah penggunaan lahan, karena kelapa sawit menghasilkan 4—10 kali minyak yang lebih banyak per unit lahan yang digunakan.
Maka tak ada ruginya, kan? Jika kita melangsungkan gaya hidup ramah lingkungan dengan mengaplikasikan #BeliYangBaik di kehidupan sehari-hari? Justru kehidupan akan semakin berharga karena kita bisa menolong Bumi untuk lestari. Menyelamatkan diri kita, orang-orang yang kita sayangi, dan juga anak-cucu kita kelak.
Harapan saya kedepannya supaya semakin banyak produsen yang menjadikan perusahaannya berlabel “halal”. Selain itu, agar masyarakat di Indonesia yang mengerti tentang pengetahuan ini, mengerti cara membeli barang yang baik, dan juga mengaplikasikan gaya hidup yang ramah lingkungan.
Kita semua bisa menjadi pahlawan dengan cara menyosialisasikan gerakan #BeliYangBaik . Jadilah bagian dari perubahan. Jadilah seorang penyelamat, dengan melakukan perubahan kecil dalam hidupmu.