Danus Bijak dengan Beli yang Baik
Berawal dari fenomena danus-an (dana usaha) yang marak di kampus, ditambah dengan hobi masak yang ingin tersalurkan, akhirnya saya mulai coba-coba untuk bisnis kecil-kecilan di kampus. Pada awalnya hanya sebuah keisengan untuk ikut berjualan makanan kecil, sembari mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat. Kebetulan, teman-teman di kelas sebagian besar adalah ‘anak kost’ yang kalau pagi berangkat ke kampus tidak sempat sarapan. Sehingga, dengan berjualan makanan kecil, bisa jadi peluang yang lumayan untuk menambah uang jajan saya. Dengan modal pas-pasan, mencoba membuat produk yang ringan dan mudah dibuat, namun dari bahan-bahan berkualitas. Karena keterbatasan ide, jadi hanya membuat produk sosis bakar. Sosis bakar saat itu belum ada danus-an yang menjualnya, jadi saya mengambil inisiatif sebelum didahului orang lain. Beragam makanan lainnya sudah banyak didanuskan, seperti sosis goreng, donat, dan makanan lainnya yang umumnya dimasak dengan proses penggorengan. Semakin lama, produk sosis bakar tidak begitu banyak peminatnya karena harganya yang cukup tinggi. Akhirnya, karena teman-teman lebih suka makanan yang digoreng dengan harga yang terjangkau, saya membuat produk omelet dari bahan mie dan telur. Untungnya, saat itu saya hanya menjadi supplier danusan, jadi tidak usah berjualan sendiri. Namun, seiring kesibukan kuliah yang semakin padat, akhirnya tidak sempat lagi untuk membuat makanan untuk didanuskan. Sekarang, sudah di tahun ketiga saya kuliah, kesibukan tidak lagi terlalu padat. Kebetulan sekali ada teman yang mengajak kerjasama untuk memulai bisnis skala kecil. Kami memulai usaha dengan membuat produk makanan kecil dengan ide Korean dishes. Produk pertama yang kami buat adalah mandu, yakni sejenis dim sum a la Korea. Kami berkomitment untuk membuat produk yang sehat dan terjangkau. Kami mengusahakan untuk membuat produk yang bebas MSG, pengawet, pewarna dan bahan kimia lainnya, serta menggunakan kemasan yang ramah lingkungan. Dengan alasan yang cukup subyektif, saya tidak mau membuat produk yang digoreng, karena saya sendiri kurang suka untuk membuat makanan yang berminyak. Selain itu, saya juga ingin mengajak teman-teman untuk bergaya hidup dietary, yakni dengan mengurangi konsumsi makanan-makanan yang digoreng. Maka dari itu, produk yang kami buat merupakan produk non-gorengan. Makanan lainnya yang kami buat untuk menghindari kebosanan pelanggan diantaranya adalah Korean barbeque dan sosis rebus dengan saus kreasi sendiri. Setelah beberapa waktu, banyak bermunculan komplain dari pelanggan. Mereka mengatakan bahwa produk kami terlalu mahal bagi ukuran mahasiswa, menunya itu-itu saja (Korean dishes), dan yang paling banyak adalah permintaan dari mereka untuk kami membuat produk makanan yang digoreng. Karena memang pada dasarnya orang Indonesia tidak bisa lepas dari makanan yang digoreng. Kami akhirnya berusaha untuk mewujudkan keinginan pelanggan dengan membuat produk yang sama, tetapi dengan harga yang lebih terjangkau. Namun, hingga saat ini, kami belum sempat mewujudkan keinginan pelanggan untuk membuat produk makanan yang digoreng. Salah satu alasannya adalah bahwa kami sendiri belum berani untuk membuat produk makanan yang digoreng. Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini banyak diperbincangkan isu lingkungan yang berkaitan dengan perkebunan kelapa sawit yang merupakan penghasil produk minyak kelapa sawit. Sebagai konsumen sekaligus produsen bijak, kami khawatir apabila produk kami menggunakan minyak kelapa sawit, maka kami kami berkontribusi pada semakin buruknya kondisi lingkungan dan ekologi. Untuk menggunakan produk minyak lain selain minyak kelapa sawit, rasanya tidak memungkinkan karena harganya yang lebih tinggi, sehingga produk kami pun nantinya harus dijual dengan harga yang tinggi. Harapan muncul setelah saya browsing di internet, bahwa terdapat produk minyak yang penanaman pohon kelapa sawitnya tidak merusak lingkungan karena menggunakan sistem berkelanjutan. Produk minyak tersebut adalah produk minyak berlabel RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Menggunakan minyak kelapa sawit yang berlabel RSPO menjadi langkah yang solutif, karena kami tetap dapat membuat produk makanan yang digoreng, namun tetap mendukung kelestarian alam dan habitat ekosistem di tempat yang terancam dibangun perkebunan kelapa sawit baru. Akan tetapi, sayangnya, dari sekian banyak produk minyak kelapa sawit yang tersedia, hanya sedikit yang sudah berlabel RSPO di Indonesia. Hal tersebut membuat saya harus lebih selektif dan teliti ketika membeli produk minyak kelapa sawit maupun produk kelapa sawit lainnya untuk saya konsumsi sendiri maupun untuk saya gunakan dalam membuat makanan yang akan saya jual. Dan terakhir, untuk teman-teman, mari kita menjadi #konsumenbijak untuk #beliyangbaik, yakni dengan membeli produk-produk yang ramah lingkungan dan mendukung kelestarian alam. :)















