Rumah (3)
Sudah selesai, jadi boleh baper.
Berawal dari tekad mendapat teman-teman baru dari berbagai rumpun yang sama ternyata mendapat banyak ’sosok’ pendidik yang sangat perhatian. Bayangkan saja, baru kali ini, seorang yang biasa saja sepertiku tiba-tiba namanya dilafalkan tanpa kesalahan. Bahkan mereka berusaha mengenali kepribadian dan potensi yang kumiliki. Bagi seorang anak pertama yang biasa menanggung segalanya sendirian, ini adalah pertama kalinya kali pertama aku merasa berbeda. Iya, takdir memang tak pernah salah. Berbagai pengalaman sudah ku tempuh sebagai seorang pembelajar, mulai dari membuat satu departemen menangis mendengar ocehan ku, bertemu dengan bule demi satu artikel, hingga makan sate di pinggir jalan tanpa ada jaminan lolos ‘polisi’ saat kembali pulang.
Entah berapa kali, dalam diskusi kami, selalu ada pertanyaan,
“Gimana menurutmu, jan?”
Ada satu pertanyaan yang diberikan seorang tokoh dalam kisah ini tadi pagi, seorang yang rela mendatangi event yang aku urusi demi sebuah kembali,
“Janu menyesal ga masuk PSDM, jan?”
“Tentu saja, tidak sama sekali, mas.”
“Iya, takdir memang penunjuk arah yang paling benar, kok.”
Selanjutnya, tiba saatnya aku membalas budi mereka.
Pada putaran ini, aku mencoba maju demi satu tanggung jawab akan pengabdian itu. Mengesampingkan berbagai kemungkinan lain, termasuk kembali ke rumah, bersaing untuk posisi yang sama. Bagiku, hari itu aku merasa terlalu banyak hutangku pada rumah pembelajaran tersebut. Apapun yang terjadi, disini lah aku harus melanjutkan perjuangan.
Tak ada yang kata gagal dalam sebuah perjuangan. Toh, pada akhirnya tetap saja ikut berjuang di dalamnya. Jika memang sudah garis takdir yang menentukan, harusnya aku berterima kasih pada kegagalan tersebut. Iya, disinilah aku bertemu kalian semua, sekumpulan manusia tempat aku belajar segala hal. Mulai dari mengakrabkan diri dengan sengaja, memberi pelajaran ‘seadanya’ yang aku miliki, hingga sebuah sesi pribadi dimana kita bisa belajar satu sama lain. Masih teringat jelas saat kita menginap di sekre demi satu video wisuda, bergotong royong memindahkan mading, bonceng tiga demi lima belas kilometer hingga rumah, pergi bersama menuju sidoarjo demi satu teman yang sedang berduka, mengunjungi himpunan yang sedang melaksanakan pelatihan jurnalistik tingkat dasar, dan berbagai macam hal yang kelak akan aku ingat dalam-dalam. Sebuah ingatan yang bisa jadi suatu saat akan menyeruak keluar. Tanda rindu sudah tak tertahankan.
Kata mereka, jangan pernah berkata kau sedang jatuh cinta kecuali kau sudah melakukan berbagai hal gila demi hal tersebut.
Lihat, kau sudah mengetahui jawaban pada siapa, kan?
Iya, kalian semua.
Terima kasih atas segalanya,
Kabinet Selaras Bermanfaat, telah memberikan kesempatan sekaligus semua ilmu dan pengalaman yang tak terlupa. Jujur saja, hari pertama aku mengikuti welcome party, berkeliling hingga sampai di pos kominfo, disertai berbagai sapaan itu adalah momen berharga dalam hidup. Sebuah momen perubahan. Atas segala motivasi, inspirasi, pelajaran, serta penyadaran akan potensi diri yang seolah tak pernah berhenti. Bahkan hingga kini. Tak pernah berhenti untuk mengingatkan akan tujuan yang benar, terima kasih mas/mbak atas segala sesuatunya. Jangan pernah bosan ketika aku sapa di jalan ya dan tiba-tiba bertanya banyak hal, karena mas/mbak tetaplah kabinetku.
Staff Kominfo 14/15 aka Dakocan, telah memberi warna baru dalam hidup sekaligus berbagai macam pengalaman yang mungkin takkan pernah aku sangka sebelumnya. Berbagai konflik yang membuat kita semua makin dekat. Berbagai kegiatan yang membuatku makin mengerti bahwa setiap orang memang pada akhirnya memilih jalan mereka masing-masing. Maafkan aku karena harus mengambil posisi sebagai kepala departemen yang selanjutnya, ketika bukan aku lah orang hebat di dalamnya. Terima kasih atas semuanya. Jangan pernah lelah menghadapi kediaman-ku, ya.
Kabinet Rise of Solidarity, atas segala memori yang telah kita ukir bersama sekaligus berbagi beban yang sama. Berbagi kisah, segala cerita tentang dari berbagai dimensi ruang dan waktu, hingga kesabaran kalian menghadapi manusia sepertiku. Mereka bilang, hanya sekumpulan orang bodoh yang berkumpul untuk bercengkrama tanpa henti. Demi kalian, aku pastikan untuk rela melakukannya. Kalian adalah sekumpulan rindu yang takkan pernah lelah memanggil. Kalian adalah sebuah ikatan yang takkan pernah kulepas. Kalian adalah kehilangan di jantung keabadian, takkan pernah terganti walau badai mengancam nyawa. Aku pasti rindu, jadi jangan pernah berhenti untuk memanggilku kembali.
Staff Kominfo 15/16 aka Konami, atas apa yang kalian berikan selama satu kepengurusan ini. Mulai dari waktu, tenaga, pikiran, hingga berbagai macam hal yang kalian korbankan demi pengabdian kalian. Atas desain dan editan video yang tak pernah mengeluh saat aku mulai bingung, kunjungan ke rumah-pulau gili-bukit bentar, makan bersama di SS, serta rela membuat foto khusus perayaan dua puluh tahun ku. Sungguh aku kehilangan kata-kata untuk menjelaskan semua memori yang telah kita semua buat bersama. Kepengurusan ini boleh jadi memang sudah resmi selesai, tapi bagiku kalian tetap staff-staff ku. Jangan pernah berhenti untuk bercerita, memberi kabar, menyapaku di jalan, dan tentu saja, mengajakku makan bersama.
Tentu saja, jangan lupa foto full team nya ya, selalu ku nanti.
Kabinet Totalitas Berdedikasi, atas kesediaan untuk meneruskan tonggak perjuangan kami. Bersedia menerima tanpa syarat semua dosa yang telah kami perbuat. Jangan pernah lelah dalam berjuang demi kebermanfaatan ya.
Aku titipkan merahnya FTI. Aku titipkan sekre pada orang yang menurutku pantas untuk meneruskan. Aku titipkan segala perjuangan yang telah kami ukir, untuk kalian semua.
Titip salam untuk calon-calon staff kalian kelak. Beri mereka makna hadirnya rumah pembelajaran di hempitan arogansi yang begitu mendesak.
-Ananta, beberapa saat lalu resmi jadi alumni (muda) 31 Mei 2016
















