Maret (Ramadhan): Menyala Hangat dan Menenangkan
Bagiku, bulan Maret tahun ini sangat spesial. Bukan hanya karena telah diberi hidup hingga genap dua puluh sembilan tahun, melainkan karena bulan ini bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan. Tantangan yang sama dari satu Ramadhan ke Ramadhan berikutnya adalah bagaimana cara membuatnya berbeda. Berbeda dalam arti menjadi lebih baik tentunya.
Menariknya, Ramadhan kali ini aku hanya ingin menjalankannya selancar dan setenang mungkin, meraih setiap keutamaan yang ada semampu-mampunya, serta menjadi hadir di setiap harinya, jam demi jamnya. Aku memilih untuk membatasi agenda bukber hanya satu kali saja, kerja full wfh, kursus live online diikuti sebagian karena baru bisa bergabung setelah tarawih, dan menghabiskan weekend dengan istirahat sambil membersihkan rumah.
Ternyata dengan fokus pada perbaikan hal-hal yang selama ini dianggap kecil atau sepele (yang seringkali terlewat karena sibuk pada sesuatu yang besar dan mencuri perhatian), hati bisa menemukan rasa tenang.
Meski tidak seperti Ramadhan sebelumnya yang penuh gemerlap dan agenda padat merayap, Ramadhan kali ini tetap menyala dengan caranya yang berbeda, hangat dan menenangkan. Alhamdulillaah.
Bulan ini aku lalui secara paket lengkap, merasakan betapa indahnya nikmat sehat karena sempat dikaruniai sakit saat awal Ramadhan, pertama kali kena remedial tugas kursus yang menariknya semua terlewati dengan baik pada akhirnya, hingga menyelesaikan dua deadline besar sekaligus mendapatkan amanah baru dalam pekerjaan.
Tinggal satu domain yaitu jodoh yang masih belum terlihat hilalnya. Hehe.
Indahnya proses tentang hal yang satu itu, meskipun aku merasa jalan di tempat, sebenarnya banyak yang perlu disyukuri.
Pertama, nyatanya aku masih terus berdoa. Berdasarkan materi tentang doa yang pernah kuikuti, nanti di akhirat akan ada orang yang dibawakan pahala bergunung-gunung oleh malaikat, saat ditanya amal apakah itu? Malaikat menjawab bahwa itu adalah kumpulan doa-doa selama di dunia yang belum terjawab. Di saat itu juga, orang-orang yang melihat kejadian tersebut sampai berharap bahwa doa mereka tidak pernah terjawab di dunia.
Kedua, aku menikmati setiap proses dan progress yang ada sekecil apapun itu, menjadi lebih apresiatif. Bahkan, saking apresiatifnya, aku khawatir terjebak dalam zona nyaman. Hingga kuusahakan untuk menyematkan doa bahwa aku mensyukuri setiap nikmat kesendirian yang Allah berikan saat ini sekaligus siap untuk mendapatkan amanah berikutnya. Kalaupun di mata Allah aku belum siap, aku meminta kemampuan dari-Nya.
Ketiga, aku bisa fokus pada orang-orang terdekat yang aku sayangi. Siapa tahu bahwa kelak jika sudah menikah, waktu dan kebersamaan dengan ibuk, adik-adik, dan ayah akan jauh berkurang? Dan sebelum rasa sesal itu terjadi, aku mau memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, meninggalkan memori sebanyak-banyaknya dengan mereka. Dan itulah hal yang sangat patut disyukuri saat ini, menjadi sadar betapa berharganya nikmat yang telah Allah berikan.
Keempat, kelima, keenam dan seterusnya menjadi nikmat yang tidak bisa dihitung dan dijabarkan dalam tulisan ini yang sangat terbatas. Pun sejatinya manusia tidak akan pernah mampu mengihitung semua nikmat dari Allah, bukan?
Maret dan Ramadhan tahun ini menjadi momen yang sangat spesial dalam hidup, semoga Allah izinkan kita semua meraih setiap keutamaannya khususnya malam Lailatul Qadar, dan kembali pada fitrah.
Semoga Ramadhanmu kali ini juga penuh berkah, menyala dengan hangat dan menenangkan.
Depok, malam ke-19 Ramadhan.