Manusia memang tidak akan pernah selesai tentang masalah-masalah.
Semakin bertambah usia bukan kita semakin ahli dalam menyelesaikan masalah, karena selalu ada yang baru dan berbeda.
Sekalipun hanya selintas bahkan sekejap mata perasaan itu, sepertinya tidak bisa dimunafikkan atau justru sangat manusiawi sekali.
Berbeda bentuknya, kapasitasnya, dan tentu saja cara mengatasinya.
Rasanya sangat tidak mampu mengingkari bahwa sebuah ke-insecure-an itu memang ada dan nyata.
Masalahnya, apa kita akan hanyut dalam badai quarter life crisis definisi bu tejo dan teman-temannya atau dapat mentauladani nenek moyang kita yang katanya " ahli menerjang ombak" itu ?
Kendali kita dalam menafsirkan sudut pandang akan sebuah masalah sangat menentukan. Sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta atau hanya jatuh dalam lubang masalahnya saja.
Jika kita berani percaya bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya maka masalah dan ujian yang hadir disekitar kita mungkin adalah bentuk kasih sayang Tuhan dalam bentuk yang berbeda.
Untuk kita lebih banyak menghimpun syukur yang kita terima daripada menghitung masalah-masalah yang kita hadapi.
Bersyukur adalah konsep penerimaan atas diri. Ini semacam self-healing, topik yang sedang ramai sekarang. Bedanya, kita sebagai hamba percaya bahwa sekali kita menerapkan syukur, Allah akan menambah apa yang kita butuhkan.
Ingat, yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Dan sebaik-sebaik yang mengerti diri kita adalah Pencipta kita sendiri.












