Berangkatlah. Barangkali keretamu yang ini akan membawamu dari ujung ke ujung. Belasan jam akan kau tebus dengan suara-aroma-citra kehidupan: tantrum anak kecil, curi dengar percakapan, musik disko-koplo, desak keringat, pesing toilet, manusia tertidur, dan hal-hal lain yang dapat menggairahkanmu. Tenang, kali ini tak perlu kau ceritakan lagi hal-hal ini kepadaku.
Berangkatlah. Barangkali kapal terakhirmu akan berlayar hari ini. Segala urusan daratan yang sebelumnya adalah urusanku, biarlah menjadi urusanku sendiri. Tiada mengapa jika engkau tak berlabuh pada dermaga yang telah aku buat untuk menyambutmu seorang. Barangkali dermaga itu memang bukan untukmu.
Aku pernah dengar cerita citamu tentang cakrawala 360 derajad. Aku ingat betul bagaimana gambaran visual di kepalaku ketika kau mengajakku untuk ikut serta membayangkan senja di Barat, purnama di Timur. Lalu kita tertidur terombang-ambing ombak. Nyenyak dengan suara lirih debur dan debar.
Berangkatlah. Barangkali pesawatmu akan lepas landas malam ini. Tak perlu takut dengan hal-hal yang tinggi. Kau tidak sedang membuat rendah orang lain. Bisa jadi kau akan menjalani sudut pandang Tuhan, seperti yang kita pernah tertawakan.
Di langit dapat kau temui juga cakrawala. Kalau musim kemarau seperti ini, bisa jernih dan kau bisa melihat lampu-lampu kecil. Jangan ditiup. Ingat, itu bukan lilin dan kau tidak sedang berulang tahun.
Barangkali di atas bisa kau temui cita-cita kecilmu yang pernah kau gantung di langit; bersanding dengan bintang dan bulan. Petiklah ia, lalu periksa lagi. Apakah telah mewujud atau malah membuatmu merasa asing? Tapi kali ini tak perlu kau ceritakan mereka padaku. Bukan aku tak lagi peduli, tapi cita-citamu yang menjadi cita-citaku juga sudah menumpuk di gudang ingatanku.
Berangkatlah. Bawa serta segala apa yang telah kau bagikan denganku. Jangan biarkan aku berhutang padamu. Sebab janji-janji yang telah kau buat telah aku ikhlaskan untuk tidak kaupenuhi. Aku tak akan menagihmu segala apa. Aku telah siap dengan perjalanan-perjalananku.