Setiap kali aku kangen dengan hubungan kita, aku selalu mendoakan banyak hal tentangmu. Terakhir kali kita ketemu setahun yang lalu, aku merasa doaku untukmu dikabulkan pelan-pelan oleh Tuhan. Tapi sayang, doaku untuk diriku sendiri belum dikabulkan. Bantu doakan, ya.
Aku tiada lagi bisa berpikir untuk mendoakan kebaikanmu. Kali ini aku ingin egois. Aku ingin mendoakan diriku sendiri. Aku tiada peduli bagaimana hidupmu seperti kau tiada pernah peduli perasaanku.
Sekalipun seluruh kota pernah kita jelajahi, gang tikus kita telusuri, tapi tempat paling bajingan adalah pikiranku sendiri. Karena ruang-ruang di kepala yang pernah aku ciptakan sendiri itu telah kamu hiasi dengan pemikiranmu juga. Bodohnya aku telah mengizinkanmu masuk ke ruang itu. Ruang yang selama bertahun-tahun hanya kutinggali sendiri.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh kali konseling setahun belakangan, aku menangis. Aku menangis ketika aku menyebutkan namamu. Bahkan ketika psikologku memanduku untuk menghadirkanmu di ruangan itu, aku tak berani mengarahkan badanku ke sosok dirimu yang hanya berbentuk imaji. Aku tak sudi mencacimu. Aku tetap tak bisa membencimu.
Duka apa yang sedang kau bawa? Kesedihan macam apa yang sedang meresap di dadamu? Kesulitan apa yang sedang kau hadapi? Beban berat apa yang ada di pundakmu? Apa hal yang tak bisa kau tangani dengan kedua tanganmu? Apa yang membuatmu selalu murung dan tak secerah dulu?
Sini, aku bantu. Izinkan aku ada disana; di dekatmu. Aku ingin ikut membawa serta segala apa yang sedang kau rasakan dengan dua tangan yang terbuka.
Lalu, hal-hal apa yang tak bisa kau terima? Apakah itu masa lalumu? Takdirmu yang sedang kau hadapi ini? Tubuhmu bagian mana yang paling kau benci? Sifat dan watak apa yang ingin kamu hilangkan dalam dirimu? Apakah kau sering menyalahkan —bahkan membenci—diri sendiri pada hal-hal yang telah terjadi dalam hidupmu?
Sini, aku mau cintai segala hal yang kau benci dalam hidupmu. Aku mau menerima segala kurangmu dan hal-hal yang tak kau miliki dengan dua tangan yang terbuka.
Harusnya kamu tidak terlahir di dunia. Harusnya kamu dibesarkan dengan cara yang salah oleh bapak ibumu. Harusnya kamu ikut saja mabuk-mabukan dengan sepupumu ketika SMP, sehingga kamu tak punyai ingin melihat dunia lebih luas dan punya cita-cita lebih tinggi, lalu kamu hidup di kabupaten saja dan sudah menikah karena menghamili pacarmu sepuluh tahun lalu.
Harusnya kamu tak pernah dilahirkan. Pun kalau kamu lahir, kamu tak tumbuh dengan baik karena ketika krisis moneter 98, orangtuamu sedang dalam kesusahan di rantau orang, dan tak mampu membelikanmu makanan bergizi, sehingga kamu tidak tumbuh dengan isi kepala cemerlang.
Harusnya ibumu tak mendidikmu dengan cara yang baik. Harusnya kamu lebih banyak bergaul dengan bapakmu dan teman-temannya yang lebih patriarki itu agar kamu punya cara pikir yang ikut-ikutan patriarkis sehingga kamu tidak mau menangis karena akan menggores kejantanan, tidak mau berhati lembut seperti perempuan, nirempati, apatis, dan sifat-sifat inhuman lain.
Aku ingin membencimu dengan banyak cara. Aku ingin mengutukmu dengan banyak keburukan, mengirimkan banyak pesan sumpah serapah, dan mengobarkan amarahku di depan wajahmu.
Aku juga ingin melawan takdirmu; membuatmu mati di tanganku; entah dengan darah atau dengan bisa. Agar aku bisa menangis melolong karena kehilanganmu dengan penuh dan utuh. Agar aku tak perlu lagi temui kesakitan yang menjalar setiap kali namamu terlewat di kepala atau ragamu yang mengedar tanpa arah.
Tapi aku bisa saja tak membunuhmu dengan ujung jemariku tanpa benda tajam kalau kau tak benar-benar terlahir di dunia.
Aku pikir kamu terbuat dari cahaya; seperti malaikat. Kerja-kerja yang kamu lakukan selalu berkaitan dengan cahaya: fotografi dan pencahayaan pada instalasi pameran.
Aku kadang berpikir, barangkali kamu suka membagikan korek api atau kadang menjadi panitia penerbitan matahari. Kamu suka sekali dengan peristiwa matahari terbit. Kamu juga pernah mengajariku bagaimana menghadapi gemuruh petir setelah kilat menyambar.
Kamu datang begitu lembutnya seperti lilin kecil. Tidak pernah dalam gelombang yang besar, yang dapat menyilaukan mata, yang kemudian membuatku selalu waspada.
Kamu pernah berkata padaku ketika kedukaan datang tiap malam, "Kalau malam adalah manusia, barangkali akan aku bunuh ia. Atau setidaknya, kudatangi ia. Kutanya apa maksudnya membuatmu selalu menangis ketika kalian berjumpa."
Pada hari-hariku yang selalu gelap, kamu seperti penerang. Pada hari-hariku yang biru, kamu adalah oranye.
Seperti malaikat pula lah, engkau tak mudah aku rengkuh.
Setiap kali aku kangen dengan hubungan kita, aku selalu mendoakan banyak hal tentangmu. Terakhir kali kita ketemu setahun yang lalu, aku merasa doaku untukmu dikabulkan pelan-pelan oleh Tuhan. Tapi sayang, doaku untuk diriku sendiri belum dikabulkan. Bantu doakan, ya.
Kita tuh lama ya gak ngobrol. Aku kangen banget loh ama obrolan-obrolan kita. Tapi aku masih belum bisa ngobrol banyak lagi ama kamu. Aku harus bikin jarak ini lagi. Ini untuk kebaikanku, biar aku bisa move on dari kamu dan ketemu orang baru. Kayaknya sih aku udah move on, ya. Aku udah nggak takut ketemu kamu dan mulai nyari orang baru. Tapi aku takut ini cuma manipulasi pikiran. Makanya aku harus kasih jarak ini lagi. Gapapa, ya?
Belakangan tuh aku seperti kehilangan gairah terhadap dunia. Aku sering ngerasa gini. Aku kehilangan hal-hal yang biasanya menarik dan menggairahkan. Aneh banget rasanya. Pingin melakukan itu lagi tapi beneran ga ada hasrat. Kayak...aku ga punya motivasi yang kuat atau alasan kenapa aku harus melakukan hal-hal itu. Aku ga punya temen yang bisa diajakin ngobrolin itu.
Rasa-rasanya juga aku ga punya tujuan hidup. Aku gatau harus ke mana. Keinginan, mimpi, cita-cita yang aku bangun bertahun-tahun seperti kabur dan aku tak tahu harus dikejar ke mana. Aku sekarang nganggur. Untuk pegang naskah-naskah magak-karya untuk diselesaikan aja juga ga ada gairahnya. Tapi aku masih bisa menulis surat ini untuk kamu. Otakku masih bisa merangkai kalimat-kalimat secara komperhensif. Haha.
Kamu pasti kaget kalo sekarang yang bisa aku lakukan adalah belajar lari. Kebiasaanku yang penakut dan ingin lari dari kenyataan ini aku lampiaskan ke olahraga lari. Belum bagus banget dan motivasinya naik turun banget. Tapi yaudah gak apa. Seenggaknya ada yang bisa aku lakukan, kan? Larinya sih aku biasa aja. Tapi aku bisa ketemu temen baru untuk membahas hal ini, cari jajan, temen ngobrol, dll. Aku yakin suatu hari nanti aku bakal bosan, meninggalkannya, dan mencari kegiatan baru.
Aku pingin cerita banyak banget ke kamu. I wish you were here as a bestfriend.
Hal-hal yang Ingin Aku Tanyakan Meski Pada Akhirnya Tak Perlu Kamu Jawab
Kebonnya sudah panen apa? Lagi di mana sekarang? Lagi garap proyek di mana? Gimana proyeknya? Lancar? Kliennya gimana? Ais lagi di rumah? Di sana hujan, gak?Ada cerita apa hari ini? Ponakanmu apa kabar? Udah berapa senti dia sekarang? Udah bisa apa dia? Kamu gak ada kekangenan dengan masa-masa remajamu, kah? Kamu gak ada cerita tentang bromance bersama ayahnya keponakanmu, kah? Terakhir baca buku apa? Bagus, gak, bukunya? Isinya tentang apa? Bapak apa kabar?Ibu gimana?
Berangkatlah. Barangkali keretamu yang ini akan membawamu dari ujung ke ujung. Belasan jam akan kau tebus dengan suara-aroma-citra kehidupan: tantrum anak kecil, curi dengar percakapan, musik disko-koplo, desak keringat, pesing toilet, manusia tertidur, dan hal-hal lain yang dapat menggairahkanmu. Tenang, kali ini tak perlu kau ceritakan lagi hal-hal ini kepadaku.
Berangkatlah. Barangkali kapal terakhirmu akan berlayar hari ini. Segala urusan daratan yang sebelumnya adalah urusanku, biarlah menjadi urusanku sendiri. Tiada mengapa jika engkau tak berlabuh pada dermaga yang telah aku buat untuk menyambutmu seorang. Barangkali dermaga itu memang bukan untukmu.
Aku pernah dengar cerita citamu tentang cakrawala 360 derajad. Aku ingat betul bagaimana gambaran visual di kepalaku ketika kau mengajakku untuk ikut serta membayangkan senja di Barat, purnama di Timur. Lalu kita tertidur terombang-ambing ombak. Nyenyak dengan suara lirih debur dan debar.
Berangkatlah. Barangkali pesawatmu akan lepas landas malam ini. Tak perlu takut dengan hal-hal yang tinggi. Kau tidak sedang membuat rendah orang lain. Bisa jadi kau akan menjalani sudut pandang Tuhan, seperti yang kita pernah tertawakan.
Di langit dapat kau temui juga cakrawala. Kalau musim kemarau seperti ini, bisa jernih dan kau bisa melihat lampu-lampu kecil. Jangan ditiup. Ingat, itu bukan lilin dan kau tidak sedang berulang tahun.
Barangkali di atas bisa kau temui cita-cita kecilmu yang pernah kau gantung di langit; bersanding dengan bintang dan bulan. Petiklah ia, lalu periksa lagi. Apakah telah mewujud atau malah membuatmu merasa asing? Tapi kali ini tak perlu kau ceritakan mereka padaku. Bukan aku tak lagi peduli, tapi cita-citamu yang menjadi cita-citaku juga sudah menumpuk di gudang ingatanku.
Berangkatlah. Bawa serta segala apa yang telah kau bagikan denganku. Jangan biarkan aku berhutang padamu. Sebab janji-janji yang telah kau buat telah aku ikhlaskan untuk tidak kaupenuhi. Aku tak akan menagihmu segala apa. Aku telah siap dengan perjalanan-perjalananku.
"Kamu rumahnya di mana?" Begitu tanyamu ketika kita berdua sedang sama-sama berhenti di lampu merah di atas sepeda motor masing-masing. Setelah berdebat pada rapat tadi, melalui banyak pertemuan di kantor, pertukaran jokes bapak-bapak di grup WhatsApp divisi, bertukar pikiran, dan berdebat satu sama lain, lalu hari ini pun tiba.
Tidak, aku tidak sedang membayangkan kamu memboyong keluarga besarmu untuk melamarku. Atau hal yang paling mungkin terjadi adalah tiba-tiba kamu mengantarkanku pulang. Tidak, itu terlalu jauh. Itu terlalu kanak-kanak. Aku jengah dengan fantasi.
Namun, tak dapat kupungkiri kalau dadaku seakan-akan hendak meledak. Untuk pertama kalinya, kamu menanyai hal yang sangat pribadi. Biasanya kamu hanya bertanya hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan atau hal lain yang hanya perlu ditanyakan. Tak pernah ada basa-basi.
Aku ingin menjawab, Rumahku ada pada cara tertawamu yang lepas dan tak ingin dikurung. Atau aku bisa saja balik bertanya, Ah, bukankah kita seharusnya pulang ke rumah yang sama? Tapi aku urung. Aku kurung lagi pertanyaan itu.
"Lampu merah depan, belok kanan," kujawab sesingkat mungkin dan sedingin mungkin karena aku sedang berusaha mati-matian dengan menggigit bibir untuk menyembunyikan pekikan bahagia yang sudah tercekat di ujung kerongkongan.
"Oh. Kalau rumahku masih lurus lagi, jauh ke Timur."
Aku tahu. Aku tahu rumahmu masih harus ke Timur, lurus jauh, hampir ke ufuk, tempat matahari terbit. Aku tahu jarak rumahmu dan kantor adalah 25 kilometer. Aku tahu segala tetek bengek tentangmu dari siar suara obrolan kanan kiri. Tapi aku harus menahannya. Topik obrolan tentangmu hanya boleh aku dengar dari bibirmu. Aku hanya mengangguk, "Oh."
Lalu tiba-tiba lampu berganti hijau, menyelamatkanku dari Motor kita melaju, dan kita berpisah di lampu merah selanjutnya. Tapi toh kita akan bertemu esok hari.