Satu hati aku tutup rapat. Tidak ada ruang lagi, selain untuk kamu. Sempit, hingga kita bisa saling menghirup nafas satu sama lain.
Sampai ketika, aku terlalu sesak di dalamnya. Sedikit kubuka, agar aku bisa sedikit menghirup udara luar.
Ada udara segar yang langsung mengisi rongga dada, begitu aku menghirup udara luar. Segar dan wangi. Akupun terlena.
Hingga aku merasa perlu untuk membagi ruang itu dengan kamu, agar kita tidak terlalu penat.
Tapi kamu semakin bergeser, hingga hanya tinggal tersisa sedikit kamu di sudut gelap.
Dia yang selalu penuh kejutan, hingga tidak hanya ruangan yang kubagi, tapi kupu-kupu juga ikut menari merasakan kegirangan ini.
Celaka! Kupu-kupu menari pertanda bunga akan mekar. Tapi aku tidak bisa mencegah, bahkan semakin menikmati alunan musik, dan tariannya.
Kamu sesekali mengajak aku menari, seolah tahu akan kebiasaan baruku. Menari. Menyadarkanku dari kebahagiaan semu.
Semu? Bagian mana yang semu? Dia yang sanggup membuat ku menari dan tertawa terbahak, atau kamu yang selalu mengisi ruang itu?
Entahlah, pikiranku kacau. Seiring dengan hilangnya kebiasaan dia menari. Dia memilih untuk berhenti menari. Katanya, hentakan musik yang aku mainkan terlalu keras, membuat dia kesakitan.
Aku tak banyak berkata. Tidak juga ingin memainkan musik, tak bisa melihatnya terlalu sakit.
Kamu bergegas menarik ku kembali ke dalam ruang sempit ini, dan menutup rapat-rapat. Kali ini kamu menggunakan simpul emas berhiaskan batu permata untuk menutupnya. Konon, cara ini paling kuat untuk mengikat. Agar hati selalu tertambat.
Lagi-lagi aku tak banyak berkata. Hanya sedikit air mata.