Tak Bisa Bicara di Depan: Apakah Kita Seperti Domba yang Siap Diterkam?
Sebuah Catatan Menarik
Oleh Eka Fajria Sari
PBI, UNY 2017
***
"Ayo, siapa yang mau mengajukan konsep belajar kita mau seperti apa? Silakan angkat tangan," Tanya Pak Budi, dosen bahasa Indonesiaku.
Sungguh! Pertanyaan sejenis ini memang sangat familiar di telinga pelajar dan selalu berhasil dalam membuat para pelajar menundukan kepalanya secara serentak, entah itu untuk pura-pura membuka buku, atau hanya sekadar menghindari mata sang dosen, sesekali mereka juga saling tengok untuk melihat siapa yang berani angkat tangan. Terkadang ada yang sudah ingin mengangkat tangan, namun takut untuk menyuarakan suaranya di depan umum. Menghadapi pandangan mata yang lurus kepadanya adalah hal yang sedikit membuat risih untuk sebagian orang.
"Wahh mendadak mengheningkan cipta semua ini," lanjut pak Budi yang disambut tawa oleh kelasku. "Nah ini yang perlu dirubah, kenapa kalian harus takut menyuarakan pendapat kalian. hadapilah semua orang, bukan karena kamu seorang pemberani tapi karena yang kamu hadapi adalah seorang penakut. "
SSSSSyuttt kurang lebih begitu jika kugambarkan bunyi melesatnya ucapan Pak Budi ke pikiranku. Ucapan sederhana namun memiliki makna yang begitu mendalam bagiku. Memang benar adanya, orang terlalu takut untuk menyuarakan suaranya sehingga memilih diam padahal bisa jadi di kepalanya berisi ide-ide yang cemerlang.
"Ternyata benar, Kita semua adalah domba yang siap diterkam sampai diri kita sendiri yang membuktikan bahwa diri kita adalah seekor singa." Lanjut pak Budi. Lagi-lagi perkataannya merasuk cepat ke kepalaku. Sepertinya memang kata-kata yang keluar dari mulut beliau memiliki kemampuan untuk membuat orang yang mendengarnya ingin mencatat setiap kata demi kata. Semuanya tampak seperti petuah.
Akhirnya seseorang mengangkat tangan dan dia pun menyuarakan pikiran yang ada di kepalanya. Tentunya bukan aku, aku masih terlalu takut untuk mengangkat tangan. Dia adalah temanku yang telah membuktikan dia bukanlah seekor domba, melainkan singa yang gagah dan perkasa.
***
Kurang lebih begitulah cerita singkat mengenai pertemuan pertamaku dengan Pak Budi di kelas. Sebuah pertemuan yang menyadarkanku akan keberanian menunjukan diri untuk menghadapi dunia.
Untuk sebagian orang, berbicara di depan umum adalah hal yang sangat menakutkan terlebih untuk seseorang yang memang penakut di depan umum. Ada yang sampai grogi dan gemetaran, tak jarang pula ada yang sampai keringetan. Ya begitu gambaran orang yang belum siap untuk berbicara di depan umum, namun berbeda ceritanya jika mereka sudah memiliki kemampuan *Ilmu Komunikasi*.
Untuk orang yang memiliki ilmu komunikasi, mereka akan merasa santai untuk berbicara di depan umum. Pandangan mata setiap orang mampu dia tangkap dengan tenang, tak ada kekhawatiran. Untuk itu ilmu komunikasi memang sangat penting, terlebih jika kita ingin meyakinkan seseorang, kita memerlukan kecakapan dalam berbicara.
Seperti halnya seorang sales. Sales yang handal adalah yang berhasil meyakinkan pelanggan jika barang yang dia jual itu bagus sehingga pelanggan membelinya. Tentunya hal itu tidak akan didapatkan seorang sales jika sales itu tidak pandai menawarkan dagangannya, lagi-lagi ini mengenai ilmu komunikasi.
Ilmu komunikasi memang sangat dibutuhkan, khususnya dalam hal meyakinkan. Di sini kita juga perlu tahu tentang pentingnya untuk _meyakinkan_ tersebut karena bahkan dalam hal penyembuhan, obat hanya berpengaruh 20% dan sisanya adalah sugesti orang itu sendiri. Oleh karena itu untuk menjadi seorang dokter, kita juga perlu memiliki ilmu komunikasi yang baik agar dapat menanamkan sugesti yang baik di benak pasien kita.
Bukan hanya sekadar sales dan dokter yang memerlukan ilmu komunikasi, bahkan semua bidang termasuk dalam berkeluarga juga perlu adanya ilmu komunikasi. Seorang suami harus sering-sering memuji istrinya dan suami/istri juga harus sering berkomunikasi jika ada masalah agar masalahnya dapat teratasi dengan segera.
Dan jika diimplementasikan ke dalam kehidupan kita sebagai mahasiswa, yang katanya Agent of Change maka ilmu komunikasi sangatlah diperlukan. Kenapa kita perlu memiliki ilmu komunikasi? Lagi-lagi ini tentang pentingnya menyampaikan ide-ide dan pikiran kita yang bisa jadi adalah ide cemerlang yang terpendam di kepala kita.
Mengutip dari salah satu perkataan Ali bin Abi Thalib,
"Kedzaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik."
Oleh karena itu jika kita mau menjadi Agent of Change yang baik, sampaikanlah ide-ide cemerlang kita. Sebuah mutiara tidak akan menjadi kalung yang indah jika kita tidak mengeluarkannya dari cangkangnya











