Kamu yang pergi, aku yang kehilangan. Tidakkah semesta bisa adil untuk memberi rasa yang sama?
I'd rather be in outer space 🛸

Discoholic 🪩

pixel skylines
art blog(derogatory)
Show & Tell
Phantogram Three
Game of Thrones Daily
h

Origami Around
Not today Justin

❣ Chile in a Photography ❣
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
occasionally subtle
Noah Kahan
sheepfilms

Love Begins
Claire Keane
One Nice Bug Per Day
Mike Driver
The Stonewall Inn

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Sweden
seen from United Kingdom

seen from Lithuania
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from Belize
seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from Kenya
seen from United States
seen from Venezuela

seen from Israel

seen from Ireland

seen from Sweden
seen from United States
seen from United States
@waisssssss-blog
Kamu yang pergi, aku yang kehilangan. Tidakkah semesta bisa adil untuk memberi rasa yang sama?
Pada pilihan yang kau tidak tahu baik atau buruk, berterus–teranglah bahwa saat ini kau begitu khawatir
Pada akhirnya satu per satu pergi meninggalkan
Akun Tumblr-nya 😢
Aku adalah sebagian kecil dari mereka
Yang bertahan
Aku cemburu, terlebih saat tau
Kenapa harus dia :(
Semakin dewasa kamu, semakin kemudian paham bahwa di usia dewasa sulit dipahami
Tak Bisa Bicara di Depan: Apakah Kita Seperti Domba yang Siap Diterkam?
Sebuah Catatan Menarik
Oleh Eka Fajria Sari
PBI, UNY 2017
***
"Ayo, siapa yang mau mengajukan konsep belajar kita mau seperti apa? Silakan angkat tangan," Tanya Pak Budi, dosen bahasa Indonesiaku.
Sungguh! Pertanyaan sejenis ini memang sangat familiar di telinga pelajar dan selalu berhasil dalam membuat para pelajar menundukan kepalanya secara serentak, entah itu untuk pura-pura membuka buku, atau hanya sekadar menghindari mata sang dosen, sesekali mereka juga saling tengok untuk melihat siapa yang berani angkat tangan. Terkadang ada yang sudah ingin mengangkat tangan, namun takut untuk menyuarakan suaranya di depan umum. Menghadapi pandangan mata yang lurus kepadanya adalah hal yang sedikit membuat risih untuk sebagian orang.
"Wahh mendadak mengheningkan cipta semua ini," lanjut pak Budi yang disambut tawa oleh kelasku. "Nah ini yang perlu dirubah, kenapa kalian harus takut menyuarakan pendapat kalian. hadapilah semua orang, bukan karena kamu seorang pemberani tapi karena yang kamu hadapi adalah seorang penakut. "
SSSSSyuttt kurang lebih begitu jika kugambarkan bunyi melesatnya ucapan Pak Budi ke pikiranku. Ucapan sederhana namun memiliki makna yang begitu mendalam bagiku. Memang benar adanya, orang terlalu takut untuk menyuarakan suaranya sehingga memilih diam padahal bisa jadi di kepalanya berisi ide-ide yang cemerlang.
"Ternyata benar, Kita semua adalah domba yang siap diterkam sampai diri kita sendiri yang membuktikan bahwa diri kita adalah seekor singa." Lanjut pak Budi. Lagi-lagi perkataannya merasuk cepat ke kepalaku. Sepertinya memang kata-kata yang keluar dari mulut beliau memiliki kemampuan untuk membuat orang yang mendengarnya ingin mencatat setiap kata demi kata. Semuanya tampak seperti petuah.
Akhirnya seseorang mengangkat tangan dan dia pun menyuarakan pikiran yang ada di kepalanya. Tentunya bukan aku, aku masih terlalu takut untuk mengangkat tangan. Dia adalah temanku yang telah membuktikan dia bukanlah seekor domba, melainkan singa yang gagah dan perkasa.
***
Kurang lebih begitulah cerita singkat mengenai pertemuan pertamaku dengan Pak Budi di kelas. Sebuah pertemuan yang menyadarkanku akan keberanian menunjukan diri untuk menghadapi dunia.
Untuk sebagian orang, berbicara di depan umum adalah hal yang sangat menakutkan terlebih untuk seseorang yang memang penakut di depan umum. Ada yang sampai grogi dan gemetaran, tak jarang pula ada yang sampai keringetan. Ya begitu gambaran orang yang belum siap untuk berbicara di depan umum, namun berbeda ceritanya jika mereka sudah memiliki kemampuan *Ilmu Komunikasi*.
Untuk orang yang memiliki ilmu komunikasi, mereka akan merasa santai untuk berbicara di depan umum. Pandangan mata setiap orang mampu dia tangkap dengan tenang, tak ada kekhawatiran. Untuk itu ilmu komunikasi memang sangat penting, terlebih jika kita ingin meyakinkan seseorang, kita memerlukan kecakapan dalam berbicara.
Seperti halnya seorang sales. Sales yang handal adalah yang berhasil meyakinkan pelanggan jika barang yang dia jual itu bagus sehingga pelanggan membelinya. Tentunya hal itu tidak akan didapatkan seorang sales jika sales itu tidak pandai menawarkan dagangannya, lagi-lagi ini mengenai ilmu komunikasi.
Ilmu komunikasi memang sangat dibutuhkan, khususnya dalam hal meyakinkan. Di sini kita juga perlu tahu tentang pentingnya untuk _meyakinkan_ tersebut karena bahkan dalam hal penyembuhan, obat hanya berpengaruh 20% dan sisanya adalah sugesti orang itu sendiri. Oleh karena itu untuk menjadi seorang dokter, kita juga perlu memiliki ilmu komunikasi yang baik agar dapat menanamkan sugesti yang baik di benak pasien kita.
Bukan hanya sekadar sales dan dokter yang memerlukan ilmu komunikasi, bahkan semua bidang termasuk dalam berkeluarga juga perlu adanya ilmu komunikasi. Seorang suami harus sering-sering memuji istrinya dan suami/istri juga harus sering berkomunikasi jika ada masalah agar masalahnya dapat teratasi dengan segera.
Dan jika diimplementasikan ke dalam kehidupan kita sebagai mahasiswa, yang katanya Agent of Change maka ilmu komunikasi sangatlah diperlukan. Kenapa kita perlu memiliki ilmu komunikasi? Lagi-lagi ini tentang pentingnya menyampaikan ide-ide dan pikiran kita yang bisa jadi adalah ide cemerlang yang terpendam di kepala kita.
Mengutip dari salah satu perkataan Ali bin Abi Thalib,
"Kedzaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik."
Oleh karena itu jika kita mau menjadi Agent of Change yang baik, sampaikanlah ide-ide cemerlang kita. Sebuah mutiara tidak akan menjadi kalung yang indah jika kita tidak mengeluarkannya dari cangkangnya
Mana bisa aku tidur nyenyak, sedangkan hatiku diselimuti dengan amarah :“
-ichas-things🍃
Mana bisa aku tidur nyenyak, sedangkan di kepalaku ada kamu yg penuh sesak.
Mana bisa aku tidur nyenyak, sedangkan tadi aku lihat kamu sangat bahagia dengannya..
Untuk sekarang, jangankan tau keberadaanmu, melihatmu saja perlu waktu yang tepat, tanpa rencana dan hanya sesaat. Secepat itu kah bahagia?
Aku hanya rindu, satu masa dimana wajahmu yang setiap hari aku lihat, keluh kesahmu, apa yang sedang terjadi padamu, hingga saat-saat dimana kamu terlelap mengakhiri hari yang melelahkan
Aku rindu rumah, satu atap yang menyejukkan, tanpa penolakkan atas kehadiran raga, tanpa berpikir harus bagaimana untuk diterima, dibawahnya, selalu ada bahagia meski tak jarang ada sedikit cemas..
Aku rindu rumah, satu pelukan hangat yang mendinginkan, tanpa ragu atas langkah singgah, tanpa berpikir bagaimana untuk tidak dipandang buruk, di peluknya, ada ribuan asa yang harus diwujudkan..
Kemudian aku pergi, sampai titik ini..
Yang terus perlu kamu pahami, akan ada orang-orang yang begitu tulus menyayangimu, menginginkanmu semakin membaik, mendoakanmu dalam diamnya, mendukungmu meraih mimpi mimpimu.
Tapi kamu juga harus pahami, akan selalu ada orang-orang yang tak menyukaimu, menjauhimu, melihatmu dengan tatapan mata tak mengenakkan. Akan selalu ada yang seperti itu.
Tapi kumohon, teruslah belajar (meski mungkin tak mudah) teruslah belajar untuk menerima setiap keadaan. Jangan sibuk untuk balik membenci dengan yang tak menyukaimu, justru teruslah berusaha untuk membenahi dirimu. Sebab barangkali dengan hadirnya mereka, Allaah ingin menunjukkan ketidakbaikanmu, dan Allaah ingin kamu memperbaikinya. Barangkali kalau kamu selalu di kelilingi dengan orang-orang yang menyukaimu, memujimu meskipun kamu tidak baik justru akan membuatmu lalai.
Selalu ada kebaikan, jika kita mampu membaca baik-baik hikmah apa yang hendak Allaah sampaikan.
Dan didiklah hatimu, untuk cukup pada penilaian Allaah saja. Berbuat baik karena Allaah, bukan karena ingin banyak orang berbuat baik padamu, melihat kebaikanmu. Bukan itu sayang.
Rasa-rasanya perkara siapa yang akan Allaah kirimkan menemani kita, siapa yang Allaah pilihkan untuk berbuat baik pada kita itu sepenuhnya kuasa Allaah untuk memampukan mereka juga melembutkan hati mereka untuk berbuat baik padamu.
Bukankah memang jalan menuju Allaah terkadang memang terasa begitu sepi, tapi kita bersama Allaah dan siapa yang cukup baginya Allaah, dia tak akan pernah merasa kesepian. Alhamdulillaah.
Jangan khawatir! Setiap kebaikan tidak pernah menjadi sia-sia di sisi Allaah.
© Menyapa Mentari
Teruntuk orang-orang yang terjebak dalam sebuah pilihan
Pilihan selalu mengungkap kebenaran di akhir, realita yang sesuai ekspektasi atau malah sebaliknya. Tergantung bagaimana kamu menerima kenyataan. Untuk kamu yang hatinya sempat terpatahkan, percayalah bahwa semua itu adalah proses pendewasaan, cara tuhan untuk membuatmu lebih tangguh menghadapi masalah. Lantas kenapa kemudian harus membenci seseorang yang justru karenanya kamu mampu berpikir dewasa...??
Coba belajar untuk saling menghargai dan mendukung, tujuan kita sama, kenapa harus ada sangkalan ketika sebuah perintah terucap? Siapa disini yang bertanggung jawab?
Pertemuan selalu mengukir kisah, tentang rindu yang sudah tidak berjudul
Ceritanya sudah berakhir, silakan kalau mau memulai, aku enggan... sebab sulit untuk mengakhiri
Pertemuan selalu mengukir kisah, tentang rindu yang sudah tidak berjudul
Untuk sosok yang pernah singgah, namun malah membuat hati ini menjadi patah:
Maaf.
Kamu akan kubuat abadi, lewat sebuah tatanan aksara yang kujadikan pemulih luka hati.
— Arief Aumar Purwanto
Untuk sosok yang pernah singgah, namun sering membuat gundah.
Maaf.
Justru aku tidak ingin menulismu lagi, sebab sosokmu ialah sesak yang tidak ingin aku ulang.
Di Sini, Aku Membunuh Sepi
Malam ini langit redup tanpa bulan dan bintang. Gerimis turun menghantarkan petrikor. Persis malam itu, suatu hari di bulan Maret. Pertama kita bertemu di kedai kopi milikmu. Kita saling tersipu, ingin menatap lebih lama tapi pandangan harus dijaga. Setelah mati rasa yang begitu lama. Bertemu kamu membuat degup dadaku kembali kehilangan ritmenya.
Gerimis selalu jadi tanda, ada jiwa-jiwa yang teriris. Seperti kata, yang mampu mewakili segalanya. Bahagia dan kesedihan. Perpisahan dan pertemuan. Ketika beberapa baris yang basah oleh air mata, bermuara pada sebuah samudra—yang ternyata mengalir deras di matamu. Tepat, ketika kita mulai menyebut nama masing-masing, lalu mencoba untuk menguasai debar jantung yang mulai berirama beda.
Kehangatan kedai kopimu meresap dalam dada. Kemudian jemariku tanpa sadar mulai menjejak beberapa kata. Aku dilanda cinta. Sepertinya semesta turut merestui rasa yang sedang merekah di antara kita. Lewat prosa kita sama-sama menyisipkan semoga. Ada keyakinan besar kita akan bersama, meski entah bagaimana cara-Nya.
Sebab di sepasang matamu, aku menemukan segalanya, Puan. Setelah perpisahan di masa lalu jatuh sebagai hujan, kaudatang sebagai payung—menawariku keteduhan. Dan di pelukan waktu, kita tumbuh bersama dalam katakata. Sampai ternyata, jarak yang bentang telah terlipat rapi. Di sini, aku membunuh sepi. Di sana, kau bisa saja memberiku nyawa lagi.
Aku ingin memberi nafas pada masa depanmu. Berada di sisimu, menggenapi ganjilmu, mengusir sepimu, meredakan resahmu dan jadi tempatmu memulangkan semua rindu. Tapi, ada ragu yang memenuhi pikiranku. Apa aku pantas membersamai lelaki hebat sepertimu?
Buat apa kau meragu, Puan? Di wajahmu, aku ingin melukis bahagia. Di semestamu, aku ingin menjadi langit, melahirkan senja dan bintang untuk mencuri senyum darimu. Keraguan hanya menjadi dinding; menjadi jembatan untuk muara yang tak kita inginkan.
Aku takut kamu kecewa. Aku merasa bahwa aku bukan pasangan sempurna bagimu. Kekhawatiran itu yang menggerus keberanianku. Izinkan aku menepi sebentar. Aku perlu berpikir untuk terus menujumu atau berhenti disini dan merelakanmu.
Lupakan tentang ragu—ingatlah tentang rasa yang kaupupuk. Mekar sebagai bebungaan di hatimu. Bila apa yang tumbuh di hatiku hanya kata hilang, bukan itu yang kutanam selama ini, Puan. Ingatlah, ada aku di sini; raihlah jemariku, melipat jarak hingga akhirnya kita dipisahkan satu napas saja—berisi namamu, nama ayahmu, dan seperangkat alat salat dibayar tunai.
Beri aku waktu untuk memantaskan diriku. Sampai kembali rasa percaya diriku, maukah kamu menungguku? Kamu pernah bilang, kita adalah jauh yang didekatkan lewat doa. Maka berdoalah, barangkali semesta mau berbaik hati memberi kita masa depan seperti yang kita ingini.
Aku selalu menyematkan namamu di setiap sepertiga malamku. Sampai suatu waktu, keraguanmu membuat segalanya taklagi sama. Jalan yang kita tuju taklagi bermuara pada apa yang ingin. Kamu menjauh, dan aku takingin berdiri di sini—tempat aku menunggu jawabmu. Ada seseorang lain yang ingin memintal jarak denganku, tetapi kautahu, aku hanya ingin kau.
Merelakanmu sama saja bunuh diri. Tapi, siapa aku menahanmu lamalama di sini. Pergilah, dengan dia yang lebih siap berangkat menuju akad denganmu. Aku akan coba mengikhlaskan meski terluka.
Baiklah, bila semudah itu kau mengucap kata pergi. Pada apa yang pasti, aku berharap menemukan rumah—meskipun, aku yakin, di pelukanmu nanti aku menemukan nyaman. Yakinkan hatimu, Puan. Bahwa pada pada sepucuk perpisahan yang sampai di jendelamu, aku mengabarkan bahagia, yang muaranya dengan seseorang lain. Semoga kamu tidak menyesalinya. Sampai jumpa.
Mencintai Tuhanku berarti harus mencintai ketetapannya juga. Barangkali perpisahan kita memang sudah ditakdirkan oleh semesta. Perihal menyesal, biar jadi urusanku dengan sang waktu. Izinkan aku memberikan selamat lebih dulu. Semoga dengan dia yang bukan aku, kamu bahagia selalu. Selamat tinggal.
Kolaborasi tentang belajar menerima ketetapan takdir,
@pelangi1894 dan @ariqyraihan
Tangerang - Jakarta,
12 Agustus 2018
Yatuhan, sedalam ini :')