Teori Terpentak
Saya selalu sedih jika berbicara masalah usia di penghujung.
mungkin karena saya tipikal orang yang selalu berpikir dua kali merasa.
Iya, saya tipikal orang yang kalau terkejut, akan terkejut sekali, tertawa, akan nyaring sekali, dan kalau terhenyak, akan sesak sekali.
mungkin alasan ini yang bisa dipakai, kalau kalau ada yang bertanya
Mad, ini film jelek, ceritanya bisa ditebak, masa terharu berlebihan ?
jawaban saya pasti akan sama, ini terlampau sedih sekali, saya merasa harus terharu menontonnya.
sepertinya kalau berbincang masalah hidup, atau tentang keterbalikan hidup, entah cepat sekali, atau bahkan bisa sampai lama sekali, semua orang yang saling berikatan, pasti akan terpentak balik ketika terputus paksa.
“semakin kuat ikatan, semakin sakit pula terpentak, ketika terputus paksa“
mungkin cerita tentang hidup saya, atau kisah kisah perasa saya, yang saya bagi, bisa jadi tidak ada apa apanya, dibandingkan cerita hidup atau kisah perasa yang lain.
entah bagaimana gaungnya, saya sering mendengar yang semacam ini. mereka bilang kita tidak perlu sedih sekali, masih banyak diluar sana yang lebih sulit dan tidak ada penawarnya, ketika mereka bercerita tentang kisah-kisah pilihan tapakan yang mereka ambil berujung dimana.
tapi saya tidak setuju. menurut saya, cerita hidup saya, kisah perasa yang saya bagi, bukan lebih, tidak bermakna ketika dibandingkan. tetapi sejajar, dalam keteraturan. tersusun bersekat sekat, punya warna yang sama di urutannya. ketika diambil tanpa berpikir, tidak akan ada yang merugi.
kisah kita sama sama menyesakkan.
Saya sesak memikirkan telinga saya yang sakit, sesak ketika malah pengingat perasa hadir di tengah tengah kelabakan bermacam macam tanggung jawab, sesak mengingat suara tawa yang bergema pelan lagi, sesak memikirkan ini, memikirkan itu.
tapi ketika saya malam ini, ditengah tengah mencari bahan diskusi, ditengah tengah telinga saya yang sudah melenggang, saya membaca berita tentang teman saya, tentang teori terpentak keras.
sesak saya, malah sekarang terlampau besar. hitungan tepat untuk yang punya perasa dua kali.
Tuhan selalu tahu rencana terbaik, mari berpegang dengan ini saja, tidak usah kemana mana, semoga bisa jadi pelega barang sedikit, penawar untuk bernafas, dari teori terpentak keras.
- Ahmadulwan













