Tulisan kali ini terinspirasi dari sebuah postingan instagram tentang psikologi yang sudah tidak dapat kutemukan lagi. Pertanyaan yang kujawab di sini seharusnya memiliki nama, tapi aku tidak dapat menemukan postingannya lagi. nanti kucoba cari lagi.
Intinya adalah kita diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai bagaimana kita 5 tahun mendatang, bagaimana kita 5 tahun mendatang apabila kita memilih jalan berbeda sebelumnya, dan bagaimana kita 5 tahun mendatang apabila uang bukanlah segalanya di dunia ini.
Mari kita mulai dengan pertanyaan pertama
Bagaimana saya dalam 5 tahun mendatang?
Dalam pikiranku, 5 tahun mendatang, saya akan dipromosikan dalam pekerjaan, bukan menjadi seorang manajer atau setingkatnya, hanya lebih pekerjaan yang telah terspesialisasi. dan sebagaimana kebijakan tempatku bekerja sekarang, saya akan berkantor di suatu daerah yang jauh dari rumah, dibaca Papua atau bagian Nusa Tenggara.
Tentu saja, KPRku belum lunas dan saya masih bergelut dengan bagaimana agar tidak terbebani oleh hal itu. But i enjoy my life more. I take vacation regularly, tidak seperti sekarang. Dan saya sudah memiliki seseorang untuk berkeluh kesah. Kurasa 5 tahun ke depan masih begitu awal untuk memulai usaha, mengingat bagaimana saya tidak memiliki gambaran mengenai apa itu ber-usaha.
Mari lanjut ke pertanyaan kedua
Bagaimana kita 5 tahun mendatang apabila kita memilih jalan berbeda sebelumnya?
Jalan yang berbeda yang saya hadapi mungkin adalah terkait studi kuliah yang saya pilih. Apabila saya memilih memilih studi kedokteran hewan, dalam 5 tahun ke depan saya akan mulai membuka klinik, setelah beberapa tahun terakhir ini fokus membenahi diri setelah perkuliahan. Saya akan tersenyum sembari mengobati hewan-hewan yang datang ke klinik saya. Klinik ini tentu saja saya kelola sendirian, karena mengelola orang lain sungguh merepotkan. Meski tidak begitu ramai, tapi suara dari hewan-hewan itu akan mengisi hari-hariku. Tentu saja, saya juga akan berusaha menjadi pegawai negeri untuk mendapatkan benefit stabilitas finansial, meski terkadang akan mengorbankan mental.
Oh betapa bahagia hidup yang tidak harus mengorbankan mental. Untuk urusan pendamping, di jalan ini, sepertinya akan berlangsung lebih lama lagi. Mungkin akan menunggu waktu lama karena saya terus-menerus merasa belum siap dan belum puas dengan diri.
Ah sesuatu terlintas di benakku. Saya ingin menjadi dokter hewan di suaka margasatwa, tempat penangkaran hewan, seperti Way Kambas, one of my dreammmmm. Way Kambas tunggu saya. Menjelajahi hutan dan bertemu hewan-hewan liar, betapa menakjubkannya.
Beralih ke pertanyaan terakhir.
Bagaimana kita 5 tahun mendatang apabila uang bukanlah segalanya di dunia ini?
Jujur saya bingung, pandangan saya akan hidup begitu melekat dengan uang. Semuanya saya nilai dengan uang. Bahkan kebaikan seseorang saya nilai dengan jumlah uangnya.
Apabila uang tidak berarti, mungkin saja saya akan melanjutkan kuliah di kedokteran umum, one of my dream sewaktu SMA. Sehingga di 5 tahun mendatang, saya akan menyandang gelar dokter umum dan sedang bertugas di sebuah rumah sakit di suatu Kabupaten, mungkin saja sedang berpikir untuk mengambil spesialis.
atau juga mungkin, karena uang bukan segalanya, maka saya akan berdiam diri saja, menikmati rebahan. Meskipun saya yakin rebahan setelah sekian tahun dapat rebahan akan terasa membosankan. Akan tetapi dalam lubuk hati ini, kalau bisa tidak bekerja dan tetap hidup makmur, saya akan memilih jalan tidak bekerja itu. Entah siapa manusia pemalas dalam diri ini.
HAHAHA
itulah gambaranku sekarang bagaimana saya 5 tahun mendatang. Menjawab ini membuat saya berpikir betapa membosankannya jalan yang saya pilih ini. Seolah-olah saya memerlukan tantangan baru, tapi di sisi lain saya tentu saja akan menghindari tantangan yang datang.
Culinary Class Wars, sebuah variety show asal Korea yang mempertandingkan 100 chef untuk menunjukkan kemampuan mereka. Sebuah variety show yang menghibur disertai insight baru di bidang kuliner. Sudah tayang di Netflix.
Beberapa minggu lalu, aku mulai menonton variety ini. Kebetulan waktu variety ini on-going, masih ada Jinny's Kitchen yang masih harus kuselesaikan. Jadilah, aku baru nonton variety ini beberapa minggu lalu, dan tentu saja selesai dalam waktu 3-5 hari saja.
Hal pertama yang terlintas waktu nonton ini itu WAAAAAH. Bagaimana kru nya bisa memikirkan konsep acara memasak seperti ini dan mengumpulkan begitu banyak chef, apalagi chefnya bukan chef abal-abal. Setnya mewah banget, bener-bener dipikirin.
Tantangan tiap babaknya keren sih, dari babak untuk memfilter dari 80 peserta ke 20 peserta black chef sampai babak memasak hidangan tanpa henti. Tapi babak memasak hidangan tanpa henti ini sih yang bener-bener menunjukkan kehebatan chefnya ya.
Di babak yang pertama ini, awalnya aku berpikir kalau penilaiannya ini engga adil, karena standar dari kedua jurinya terasa timpang. Satunya menilai dengan sistem fine-dining, sedangkan satunya berdasarkan cita rasa pada umumnya. Tapi, pada akhirnya aku berpikir ya inilah tantangannya, bagaimana chef harus bisa memasak yang memenuhi sistem fine-dining dan cita rasa umum secara bersamaan. Sayangnya karena jumlah peserta yang begitu banyak, jadi beberapa peserta tidak ditampilkan dengan maksimal.
Di babak selanjutnya, 20 black chef terpilih akan melawan 20 white chef. Honestly, aku banyak menyayangkan babak ini karena banyak chef yang kusuka harus gugur. But show must go on. Ada beberapa kontroversi dari penilaian juri menurutku, tapi penilaian juri padahal sudah seobjektif mungkin dengan menggunakan penutup mata. Lagi-lagi banyak match yang tidak terhighlight, membuat beberapa chef yang tereliminasi belum berkesempatan mempelihatkan kemampuan memasaknya sepenuhnya.
Di babak berikutnya dimana chef black vs chef white di dua kategori perdagingan duniawi dan perikan lautani untuk 100 juri. Jadi tantangannya bukan cuma tentang kerja sama tapi juga tentang menciptakan makanan dalam jumlah banyak. Di sini cukup kesel kepada white chef yang engga bisa kerja sama dengan sesamanya yang menghasilkan 1 kelompok white chef harus keluar. Makanannya jujur engga begitu wah.
Chef yang timnya kalah di babak sebelumnya, diberi kesempatan untuk kembali bergabung melalui sebuah tantangan memasak hidangan dengan bahan yang berasal dari minimarket. Kirain bakal mudah, tapi nyatanya ini sulit. Karena bahan-bahan yang tersedia adalah bahan-bahan yang telah diolah dan tentu saja sudah memiliki cita rasa. Sehingga, tentu saja sulit bagi para chef ini dan datanglah Napoli yang membuat tiramisu yang enak. Cuplikan scene ini yang sebenarnya membuatku tertarik nonton variety ini. Di sini cuma 3 chef yang bertahan
Tantangan berikutnya adalah pertarungan tim lagi tapi kali ini dengan konsep restoran dimana para chef diberi kesempatan untuk membuat menu yang akan mereka sajikan. Scene ini ada beberapa drama yaitu beberapa anggota setiap tim harus dikeluarkan dan membuat tim sendiri. Selain itu ada lah dinamisasi antar setiap tim. Aku sebenarnya kurang sreg dengan strategi chef handal itu yang mematok harga mahal. Tapi pada akhirnya dia menang. AHHHHHH
Chef yang berhasil lolos selanjutnya ditantang untuk membuat hidangan turning point mereka. I just see the drama here, agak sulit untuk bersimpati. Kemenangan Napoli sebenarnya cukup aku sayangkan sih. Intinya, aku belum bisa bersimpati kepada beliau, aku melihatnya dia engga tulus buat masakan itu. Dia buat masakan itu, purely karena mau menang.
Chef yang tidak menang pada challenge sebelumnya harus menghadapi tantangan lagi untuk memperebutkan satu tiket final. Tantangan yaitu : memasak tanpa henti. Ini tantangan favorite ku, apalagi bahannya sangat out of the box, "tahu". Literally tahu, yang aku pun gak suka. Di tantangan ini, kemampuan chef itu beneran keliatan, endurance mereka, kreativitas mereka, dan teknik mereka. Sangat menyangkan triple star yang blunder di pertandingan terakhir. Kagum banget sih sama kreativitas Edward Lee, dia buat sesuatu selalu tidak terduga-duga. Tapi di pojokan otakku, aku berpikir kalau Chef Edward menang supaya di final itu white vs black. Kalau di final triple star vs napoli kan aneh. Kemampuan white chefnya cuma segitu.
THE FINAALLLLL
Menurutku ini final yang antiklimaks, lebih meriah finalnya masterchef. Chef Edward cuma bikin dessert yang bahkan engga sesempurna itu eksekusinya. Di sisi lain Napoli Matfia membuat hidangan lengkap. Sudah pasti lah Napoli Matfia yang menang. Kecewa sama keputusannya Chef Edward.
dan ini berdasarkan pandanganku ya, karena Napoli Matfia engga ikut di tantangan terakhir sebelum final, yang tahu tahu itu. Jadinya kemenangannya agak kurang gitu. Aku tahu kalau itu keuntungannya sebagai pemenang tantangan sebelumnya lagi. Tapi, serasa kurang aja gitu.
Sekian gumaman tentang Culinary Class Wars ini. Gumaman yang sudah kusimpan dari kemarin karena tidak ada tempat untuk bercerita.
Yang sempurna tak akan mampu di raih oleh yang tak sempurna. Maka akan lebih baik berusaha untuk mendekati kesempurnaan. Jika tidak bisa, biarlah kita saling menyempurnakan. Bukankah itulah tujuan dari hidup bersama?
Ia senang bergumam. Ia sering melakukannya. Bergumam. Dalam kondisi apapun. Di tengah keramaian atau di perangkap sepi. Berbicara tidak jelas yang lebih ditujukan kepada diri sendiri. Dengan suara pelan. Atau yang berusaha dipelankan. Orang-orang sering menebaknya. "Dia itu sedang mengumpat." "Dia itu sedang merapal mantra." "Dia itu sedang kumur-kumur." "Dia itu sedang berzikir." "Goblog! Dia itu sedang bernyanyi!" Ia dengar semua spekulasi orang-orang. Ia tidak perrrduli Ia terus saja bergumam. 09032016
Kalau gak secepatnya dituangkan, saya akan memikirkannya terus dan gak fokus melakukan yang lain. Jadi, selama ini saya masih terus bertanya-tanya bagaimana hakikat sebuah teori, bagaimana ia dirumuskan? Bukannya ia terbuat dengan metode deduksi ya? Berasal dari setiap kejadian dan fakta kecil, lalu ditarik garis umum? Semacam detektif yang mempelajari bukti-bukti kecil lalu membuat analisanya dan menentukan siapa pelaku yang sebenarnya.
Oke lupakan tentang detektif, balik ke teori. Lalu untuk memudahkan menarik sebuah teori, kita ciptakan batasan agar tidak rumit, biasa disebut asumsi. Tapi, ini asumsi kadang bukannya memudahkan, malah mempersulit, karena asumsi tersebut tidak pernah selalu terpenuhi. Untuk memenuhiya adalah pekerjaan tersendiri. Teori menjadi tidak efektif lantaran asumsi dibuat terlalu ideal hingga sulit terpenuhi. Lalu apa guna teori? Bukan, bukannya teori menjadi tidak berguna. Mungkin sebaiknya asumsi tersebut yang perlu dikoreksi.
Bicara tentang teori, sebenarnya kasus yang sama saya pertanyakan juga pada kebijakan. Apakah dalam membuat kebijakan kita juga menggunakan asumsi untuk mempermudah proses penciptaannya? Sepertinya iya, fatalnya asumsi yang sering digunakan adalah bahwa semua daerah/rakyat/masyarakat memiliki karakteristik yang sama. Nyatanya, bangsa kita terdiri dari beragam kebudayaan, beragam strata pendidikan , dan beragam otak dan pemikiran. Inilah yang bagi saya merupakan tantangan besar dalam pelaksanaan desentralisasi. Dan, saya menyetujui pernyataan Bu Miranda Gultom, sewaktu mengajar di kelas Kebanksentralan, bahwa sulitnya penerapan sebuah kebijakan adalah karena target kita adalah moving target, selalu bergerak.
Sudah tiga paragraf saya tulis dan saya merasa tulisan di atas sungguh berantakan tidak mengikuti sistematika penulisan yang benar. Ada kalimat-kalimat yang menyimpang yang kurang sinkron tempatnya. Tak apa, saya hanya ingin menuliskan apa yang saya pikirkan, haha. Kemarin teman saya membahas ada seorang temannya yang mendapat nilai sempurna pada psikotes analisis konsistensi. Katanya itu gak wajar kalau dapat nilai sempurna, tapi teman saya berdalih kalau temannya itu adalah anak IPA jadi ya wajar-wajar aja. Sedangkan kalau anak IPS, gak mungkin bisa konsisten sempurna. Misal, soal 3+3=6 bagi anak IPS belum tentu benar. Terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang tercipta bagi anak IPS dalam setiap persoalan. Hal ini menjadikan ia tidak se-konsisten anak IPA.
Saya anak IPS dan tulisan ini adalah pembuktian ke-tidak konsisten-an saya, kan? haha