Di media sosial saya melihat seorang wali siswa mengeluhkan informasi yang tidak lengkap dalam buku paket sekolah anaknya dan ketika si anak bertanya gurunya menyarankan untuk mencari informasi yang dibutuhkan lewat mesin peramban Google. Yang disayangkan oleh sang wali siswa adalah akses internet yang tidak dapat dijangkau secara setara dan merata, yang berujung pada tawaran solusi penyediaan infrasturktur. Namun saya melihat sesuatu yang berbeda, yang terpusat pada manusia. Sesungguhnya adapersoalan yang lebih dalam daripada penyediaan infrastruktur yang merata dan mampu dijangkau semua orang. Yang saya lihat adalah ketergantungan kita, manusia, terhadap internet.
Internet, memang dibangun demi memudahkan penenuhan kebutuhan manusia, salah satunya akan ketersediaan informasi. Kita bisa menemukan tak terhitung banyaknya informasi dengan sekali klik di laman peramban seperti google.com, bing.com, tor *eh. Bentuknya pun berbagai macam dari jurnal, artikel, gambar, video dan tanya jawab. Tapi apakah semua informasi tersebut reliabel? Oh, apakah kita pernah mempertanyakannya? Tidak semua orang meragukan hasil pencarian mereka di peramban. Banyak orang langsung menggunakannya sebagai rujukan tanpa peduli sumber dan tak mau repot-repot melakukan verifikasi. Semua ditelan begitu saja, tanpa mau repot mengunyah. Luapan informasi ditambah desakan untuk memperoleh segalanya secara instan dalam ritme hidup yang cepat, seringkali membuat kita kewalahan sehingga tidak sempat bahkan untuk sekadar mencari tahu sumbernya. Langsung salin, tempel dan bagikan. Semudah itu.
Padahal sangat banyak informasi palsu yang seringkali disebut HOAX berseliweran di internet. Dengan narasi yang menarik dan keterampilan SEO maka HOAX dapat menyebar luas dan dianggap sebagai fakta yang sungguh terjadi. Padahal HOAX bukanlah fakta sesungguhnya. HOAX bisa memuat informasi yan g s epenuhnya palsu ata u palsu sebagiannya. Dan yang terjadi berikutnya adalah informasi palsu ini lalu dibagikan di percakapan dalam forum-forum (atau grup) daring dan lini masa di media sosial, berulang kali, terus menerus. Seperti wabah HOAX menjangkiti setiap orang berakal sehat dan mengubahnya menjadi zombie. Karena potensinya bahkan HOAX seringkali juga dijadikan alat propaganda politik, pembentuk opini publik agar mendukung atau menentang suatu isu. Maka sangat penting bagi kita untuk mampu melakukan penyaringan, pengolahan dan verifikasi informasi secara mandiri dan efektif.
Di sisi lain kita memiliki buku (cetak). Setumpuk kertas bertinta yang dijilid rapi dengan ketebalan bervariasi. Ada berbagai genre buku yang tersedia yang tak pula kalah banyaknya. Namun buku memiliki kastanya sendiri di mata masyarakat banyak. Coba saja ke tempat umum, misalnya ruang tunggu sebuah rumah sakit atau lobby sebuah bank yang ramai pengunjung lalu keluarkan dan baca buku anda sambil perhatikan reaksi orang sekitar. Saya sendiri mendapatkan berbagai tanggapan ketika melakukannya, dari yang bersikap cuek, menjauh, memandang heran sampai memulai percakapan. Kabanyakan orang menilai buku merupakan pusaka agung milik para cerdik cendekia yang terlarang diakses sembarang orang. Ketika seseorang tampak membaca buku maka akan dianggap pintar (atau sok pintar) dan bersikap antisosial karena seorang pembaca dapat sebegitu tenggelamnya ke dalam bacaan sehingga nampak tak peduli akan sekitarnya. Buku, sayangnya, juga seringkali dianggap hanya untuk anak sekolahan/kuliahan, jadi kalau sudah lulus untuk apa lagi membaca buku? Maka tak mengherankan minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara, kedua terbawah setelah Botswana. (cnnindonesia.com).
Padahal semestinya informasi yang tersedia di internet merupakan perpanjangan dari buku. Yang juga dapat mengantarkan penggunanya kepada referensi-referensi yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan. Memang tak dapat dipungkiri bahwa ada juga informasi palsu dan meragukan terselip di antara buku-buku juga media lainnya yang tak kalah sakti dalam memengaruhi banyak orang. Lalu jika buku pun tak lepas dari HOAX, maka apa yang bisa kita percaya? Saran saya adalah: jangan percaya terhadap apapun (begitu saja).
Pertanyaan yang lebih tepat untuk diajukan adalah bagaimana agar kita mengetahui bahwa suatu informasi dapat dipercaya atau tidak. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menentukannya yaitu sebagai berikut:
1. Tentukan gambaran besar
Ketika menerima suatu informasi sangat penting untuk menentukan gambaran besarnya agar mampu memperoleh pemahaman yang tepat atas informasi tersebut dan tahu ke mana harus mencari informasi lanjutan apabila diperlukan. Tentukan tentang apa, siapa, kapan, di mana, bagaimana, seberapa dan latar belakang suatu informasi, lalu kita dapat melakukan langkah berikutnya.
Kebanyakan orang menerima informasi begitu saja bukan karena ketidakmampuan untuk melakukan verifikasi apakah suatu informasi valid atau tidak, namun karena mereka tidak berani untuk mempertanyakannya apalagi jika datang dari sumber yang kita percaya atau hormati. Kurangnya sikap kritis akan menjadi sangat berbahaya karena informasi akan menjadi landasan seseorang untuk bertindak dan informasi akan diduplikasi kepada orang lain. Jika yang digunakan adalah informasi palsu maka akan menuntun pada tindakan yang salah dan jika tersebar luas maka dapat menimbulkan bencana. Pertanyaan yang dapat diajukan saat menerima suatu informasi misalnya apakah yang kita terima adalah informasi yang akurat/sungguh terjadi, apakah informasi tersebut lengkap dan seberapa sesuaikah dengan konteks dan kenyataan di lapangan. Tidak berdosa untuk mempertanyakan segala sesuatu, namun akan berdosa jika kita menyebarkan informasi yang salah.
3. Cari rujukan lain dan telusuri
Kita tidak harus menerima segala informasi hanya dari satu sumber. Informasi juga dapat ditelusuri sumbernya sebagai tindaklanjut. Kita bisa mengumpulkan informasi lanjutan dengan menghubungi orang-orang yang terkait dengan informasi tersebut atau sumbernya langsung (misalnya penulis artikel/buku atau pengasuh situs berita) apabila memungkinkan. Atau kita bisa mencari tahu tentang topik sejenis di buku atau situs lain sebagai pendukung atau perbandingan. Carilah sehingga cukup untuk memuaskan pemahaman anda, namun tetaplah membuka diri menerima informasi baru atau yang bahkan bertentangan dengan apa yang sudah diketahui.
4. Selalu bersikap terbuka
Ada tujuh warna utama yang menyusun cahaya putih, bahkan ada jenis gelombang cahaya yang tak mampu ditangkap oleh mata telanjang manusia. Maka akuilah keterbatasan kita dan terimalah berbagai informasi meski tidak selalu sejalan dengan pengetahuan yang dimiliki. Bersikap dan berpikiran terbuka dapat membantu kita untuk memandang suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang sehingga kita memperoleh pemahaman yang menyeluruh bahkan bisa juga memberikan solusi yang lebih efektif daripada yang sudah ada.
Kita tidak diharuskan memercayai semua informasi yang diterima, malah sangat penting untuk melakukan verifikasi dan bersikap kritis terhadap informasi bahkan juga terhadap pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya. Dengan bersikap kritis kita akan terhindar dari sikap percaya buta dan mampu menentukan tindakan terhadap informasi yang diperoleh. Namun, berpikir kirtis berbeda dengan bersikap kritis. Berpikir kiritis adalah proses berpikir dengan mengumpulkan berbagai premis dan mengujinya demi membentuk kesimpulan. Berpikir kritis dapat membantu kita memahami sebuah informasi. Berpikir kritis tidak terjadi begitu saja, ia dapat dilatih dan dipelajari. Sekali menguasainya kita akan mampu menggunakannya secara efektif. Tidak hanya dalam memahami informasi, berpikir kritis juga dapat digunakan dalam berbagai aspek kehidupan lainnya termasuk dalam proses pemecahan masalah.
6. Uji/praktikkan apabila memungkinkan
Salah satu cara tercepat menentukan kualitas suatu informasi adalah dengan mengujinya secara langsung. Informasi yang valid haruslah dapat memberikan hasil pengujian yang sama meski dilakukan oleh orang yang berbeda-beda. Ketika melakukan pengujian, tentukan faktor apa saja yang membuat hasil pengujian sesuai atau tidak dengan informasi yang kita terima. Namun apabila pengujian secara langsung tidak memungkinkan kita bisa mencari informasi terkait atau menanyakannya kepada orang lain yang telah melakukan pengujian yang tak mampu kita lakukan.
Dari manapun asalnya, informasi tidak boleh selalu dipercaya dan disebarkan begitu saja. Informasi juga boleh dipertanyakan, dibantah bahkan diabaikan dan dibuang. Kita harus melakukan verifikasi terhadap setiap informasi dengan sikap skeptis, kritis sekaligus terbuka. Dan sesungguhnya tidak ada ruginya untuk berhenti sejenak, mengatur kembali ritme napas dan bertanya, apakah informasi yang saya baca ini sungguh akurat dan dapat dipertanggungjawabkan?