Hidup tak pernah selesai ditulis. Kita semua hanya sedang membaca, belajar, dan mencoba memahami arti halaman berikutnya.

seen from Switzerland

seen from Malaysia
seen from China

seen from Germany
seen from Switzerland

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Finland

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Brazil

seen from T1
Hidup tak pernah selesai ditulis. Kita semua hanya sedang membaca, belajar, dan mencoba memahami arti halaman berikutnya.
Tentang penyesalan yang emang selalu hadir diakhir perjalanan hidup.
Setelah banyak hal yang dilalui, kini aku memulai kembali untuk tetap belajar. Belajar secara serius dan memulai tidak hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.
Belajar untuk menulis kembali, membaca beberapa buku dalam sebulan sampai selesai dibaca.
Masih banyak hal yang ingin aku pelajari, apalagi mengenai cara penulisan yang benar. Dimana penulisan koma,titik, tanda seru yang betul itu bagaimana. Kebanyakan menulis hanya meniru dari contoh tulisan-tulisan yang ada, seperti mencatat ulang dengan topik yang berbeda.
Ternyata tidak semudah itu. Aku yang seringnya kebingungan hanya mendapati belajar dengan setengah-setengah atau loncat-loncat. Padahal seharusnya bisa belajar secara bertahap dari dasar hingga mahir.
Melihat orang-orang yang menulis dan membaca terlihat keren dimataku, sampai jadi orang yang random deh kalo nanya banyak hal. Kalo ada yang nanya aku nggak tahu. Iya tentunya aku cari di google dan copy beberapa atau pakai bahasa sendiri.
Sekarang medium untuk mencari informasi belajar atau alatnya sudah cukup baik, banyak dan adapun yang sudah terstruktur. Tidak sulit untuk ditemukan. Asal ada kemauan untuk belajar dengan sungguh-sungguh pasti ada hasilnya.
Disini kedepannya akan aku tulis yapping-yappingan dan beberapa tulisan maupun catatan yang pernah aku tulis dari sumber kajian, podcast, atau belajar waktu aku sekolah dan sampai dengan hari ini.
Writing is the only way to change the world without leaving bed.
Lenang Manggala, Founder Gerakan Menulis Buku Indonesia
Saat masuk era digital awal, orang masih posting tulisan atau foto dengan caption yang dibaca. Kemudian tren bergerak ke video youtube yang memasuki masa jayanya sampai muncul berita youtuber menjual akunnya karena audiens mulai beralih ke era short videos. Sangat terasa ketika orang mulai malas membaca tulisan bahkan untuk teks pendek, orang juga mulai malas menonton video panjang. Bagi generasi yang sempat melewati masa-masa penuh bacaan mungkin hanya butuh beradaptasi, tapi generasi sekarang, anak-anak, ini jadi masalah besar ketika atensi mereka sangat tipis bahkan alergi dengan bacaan dan bosan ketika menonton video panjang. Anak jadi sulit fokus, menyimak dan mendengarkan. Kemampuan itu terkikis pelan-pelan sampai muncul fenomena seperti yang terjadi di Amerika: anak kuliah tidak bisa membaca intensif sehingga kurikulum diubah dan standardisasi nilai harus diubah. Semoga ini bisa kembali pulih agar literasi tidak semakin terpuruk, konsentrasi membaca dan menyimak bisa kembali meningkat. Terhindar dari generasi gagal paham dan "sumbu lendek". Meski mungkin tidak akan kembali seperti dulu, tapi kita tidak boleh pesimis pada generasi masa depan.
Terlahirnya "@ruang_bising"
Lalu, aku pun kembali. Bukan untuk menulis, sebab jari-jariku sudah terlalu lelah mengeja luka. Bukan pula untuk berbagi patah hati, karena siapa lagi yang peduli pada pecahan hati yang bahkan pemiliknya sendiri sudah tak sanggup merangkainya kembali. Aku juga tidak datang untuk mengabari bahwa aku telah memiliki seseorang yang menemani, karena nyatanya, aku masih berjalan sendirian di lorong panjang yang sunyi ini. Aku kembali hanya untuk satu hal: memungguti sepenggal perasaan yang tercecer entah sejak kapan, dalam tulisan orang lain yang seakan-akan lebih mengenalku dibanding diriku sendiri.
Lucu, bukan? Bagaimana aku bisa merasa kehilangan perasaan di dalam diriku sendiri. Dan lebih lucu lagi, perasaan itu tiba-tiba kutemukan di antara bait-bait asing yang kutemui tanpa sengaja. Seolah ada penulis yang entah dari mana, berhasil menumpahkan isi hatiku ke dalam kalimat mereka, padahal aku tidak pernah bercerita, tidak pernah berbagi, tidak pernah menyingkap tabir sunyi ini.
Kadang aku ingin bertanya, sungguh ingin sekali, kepada para penulis yang tak pernah kukenal: bagaimana mungkin kalian bisa menuliskan persis perasaan yang diam-diam meronta di dalam dadaku? Bagaimana bisa kalian meraba kesepianku, sementara aku sendiri sering tidak tahu bagaimana harus menguraikannya? Apakah luka-luka di dunia ini begitu serupa, sehingga satu kata bisa merangkum ribuan sunyi milik orang lain? Atau barangkali, aku ini hanya satu dari sekian banyak jiwa yang menanggung hampa yang sama, hingga tulisannya terasa seperti cermin yang memantulkan wajahku sendiri.
Aku seringkali membaca, lalu berhenti di tengah, hanya karena terlalu sakit melihat kata-kata yang seolah-olah lahir dari hatiku sendiri. Aku berhenti, karena aku takut menyadari bahwa ternyata kesepianku bukanlah hal yang istimewa. Bahwa aku bukan satu-satunya orang yang diam-diam tenggelam, tetapi juga bukan satu-satunya yang berharap ada seseorang menanyakan: “Kamu baik-baik saja?”
Tapi tidak ada yang bertanya. Yang ada hanya tulisan. Tulisan yang seolah sengaja ditinggalkan untuk kutemukan, agar aku sadar bahwa perasaan tidak selalu lahir dari mulut sendiri. Bahwa ada kalanya, perasaan justru ditemukan dalam kata-kata asing yang entah kenapa terasa begitu akrab.
Dan malam-malam panjang pun berlalu. Aku masih membaca, masih menenggelamkan diri di antara huruf dan jeda, sambil berharap perasaan yang tercecer itu bisa kukumpulkan sedikit demi sedikit. Tapi anehnya, semakin banyak aku menemukan, semakin aku merasa kehilangan. Semakin aku membaca, semakin aku merasa sendirian. Karena ternyata, setiap tulisan yang berhasil menebak isi hatiku, juga menyadarkanku bahwa di dunia nyata, tidak ada yang benar-benar mendengar.
Aku kembali, bukan untuk apa-apa. Hanya untuk mencari diriku yang hilang. Untuk menyusuri kembali jejak perasaan yang berhamburan, dan berharap suatu saat, aku bisa menuliskannya sendiri tanpa harus menitipkan sunyi pada tulisan orang lain.
Namun hingga saat ini, aku tetap saja di sini—sendiri.
Semesta melihat.
Kesepian harga yang harus ku bayar mahal menjadi setenang ini. Riuh dikepala tak seriuh pertama kali badai menghatamku. Walau bekas luka masih terasa nyeri kebaluti dengan doa yang penuh hikmah.
Aku mulai memahami dengan rencana semesta, tak memeberontak. Hanya diam dengan memaknai harapan yang runtuh, Aku tumbuh dengan sepi yang aku pilih.
Dulu lutut dan diri ini bersimpuh dihadapanmu yang kupikir ratu, agar tetap tinggal, tetap disini. Tetap dalam hati yang dipenuhi cinta. Dalam sepi yang teramat nyeri. Semesta berbicara: pada setia duka,luka,kecewa,tromah. Seorang ratu tak perna mau rajanya bersimpuh dihadapanya. Melainkan melengkapi sisinya.
Ya, aku kira aku yang kehilangan dirimu. Tetapi semesta yang penuh bisu ini juga berbicara puan : kamu yang kehilangan orang yang penuh cinta untukmu. Hati yang tak perna kau lihat, adalah hati yang diam-diam berbicara lewat doa, Kubayar lunas Tampa ada utang dihatimu.
Kini aku belajar bersyukur pada setiap luka yang mengajarkan aku tumbuh. Mengajarkan dalam bentuk cinta terbaik adalah merelakan.
Dari demi hari kunikmati setiap tetes hujan bulan juni tampa menyalakan takdir sedikitpun. Aku belajar menjadi yang paling sabar untuk setiap derita.
Aku menikmati, aku sabar, aku serakan pada semesta, kutunggu giliranku bahagia.
Ranu/6agustus/2025
Kamu sering salah pakai tanda petik nggak?😅
Yuk, cek lagi cara pakai tanda petik yang benar🤩 biar tulisanmu makin keren Maka dari itu baca lah tanda petik diatas!!!"💡