Kyai Menipu Setan
Beliau KH. Bisri Musthofa atau lebih akrabnya dipanggil Mbah Bisri. Beliau adalah ayah dari ulama serta budayawan era kini yaitu KH. Mustofa Bisri atau dikenal dengan sebutan Gus Mus. Mbah Bisri kecil sudah terbiasa dilatih dengan keilmuan agama oleh kedua orangtuanya. Beberapa pesantren di nusantara sudah ia singgahi untuk memperluas ilmu agamanya. Bahkan untuk memperdalam ilmunya beliau juga belajar ke ulama-ulama Jazirah Arab, diantaranya Syekh Alwi al-Maliki, Syekh Hamdani al-Maghrobi, Sayyid Amin dan ulama lainnya. Semangat mencari ilmu di masa mudanya itu yang membuatnya menjadi salah satu ulama yang berpengaruh di Nusantara.
Selain memiliki ilmu keislaman yang tinggi beliau juga seorang yang sangat produktif baik dalam dakwah dan ceramah terlebih dalam bidang menulis dan mengarang. Sekitar 176 kitab dan karya tulis sudah ia buat. mulai dari Tafsir Al-Qur’an sampai novel Jawa dengan judul “Qohar lan Salikah”. Dalam bidang tafsir salah satu karya besarnya adalah Tafsir al-Ibriz. Adalah kitab tafsir yang berbeda dengan yang lainnya, kitab ini sangat erat ke-jawa-annya karena di dalamnya Al-Qur’an ditafsiri dengan bahasa jawa serta lengkap dengan ma’na jawa pegon ala pesantren di Pulau Jawa.
Suatu ketika Mbah Bisri kedatangan tamu KH. Ali Maksum Krapyak. Kedua ulama itu pun berbincang tentang dunia tulis-menulis. “Lak soal ilmu, aku ya ndak kalah Ngalim dari sampeyan Gus, bahkan mungkin aku lebih tinggi dari sampeyan. Tapi aku ya heran kenapa sampeyan itu lebih produktif dalam bidang menulis daripada saya. Saya kalo ngarang kitab iku ndak sampai setengah wes macet, kadang ya cuma sepertiga ya wes mandek.”
Jawab Mbah Bisri “ya nggih… paling sampeyan lak ngarang utawa nulis iku diniati Lillahi Ta’ala..” sambil tertawa ringan.
“Loh kan bener to Gus, ngarang kitab itu kan ibadah dadi kudu diniati seng sae-sae kudu Lillahi Ta’alaa.”
kemudian Mbah Bisri membalas lagi “Nak kulo mboten, kulo lak ngarang kitab iku tak niati nyambut gawe (bekerja). Dadi aku kudu niru tukang jahit. Tukang jahit meskipun ada tamu utowo pelanggan, dia akan tetap menjahit sembari melayani tamunya tersebut, soale kalau tukang jahit itu ndak njahit pawone (dapurnya) orah bakal murup (hidup)”
lanjut Mbah Bisri “Dan lagi kalau dari awal sampeyan sudah diniati yang baik-baik, yang mulia-mulia, nanti setan yang akan menggoda sampeyan itu setan kelas kakap, bongso setan seng gedi-gedi. Tapi kalau di awalnya diniati biasa-biasa saja kan setan yang menggoda juga setan biasa-biasa. Nanti kalau sudah rampung dan mau diterbitkan baru ganti niat. Kudu niat seng Lillahi Ta'ala dan ikhlas Linasyril ‘ilmi (menyebarkan ilmu) Setan perlu kita tipu.”
Author : M. Alfin sy.














