Apakah menjadi ibu rumah tangga itu bukan sedang berjuang?
Mungkin yang akan diceritakan adalah sebuah alasan tentang ke(belum)siapan berumah tangga.
Kalau lagi begini itu pikiran,
"Mau kuliah lagi aja"
"Udah nikah. Yang mau bayarin siapa?"
"Suami. Ih pede banget. Emangnya yakin dia rela? Dia juga manusia lho."
"Mau kerja. Mau punya uang sendiri."
"Ngga kerja juga nggapapa kok. Nanti Mas yang ngasih. Kalau ada keinginan, bilang."
"Enak ya, tapi ngga. Aku mau kerja."
"Iya kerja, jangan jauh-jauh."
"Adanya di jauh-jauh, cari yang dekat juga sedang diusahakan."
"Ingin banget kerja biar apa? Biar bisa kurus. Aku kurus karena berkegiatan. Kuliah juga gapapa."
"Ibu rumah tangga itu juga berkegiatan lho, kerjaan malah ngga ada habisnya. Pahalanya juga banyak. Kalau ikhlas."
"Ikhlas itu susah. Sholihah itu susah. Makanya Ibu ibu sholihah tu masuk surga."
"Ngga pengen sholihah gitu? Mengabdi dekat suami? Pengen. Wajib, kan?"
Kurang lebih.
Cuma terus jadi ingat,
"Istri itu tanggungannya suami. Kalau suami ngga ridho, istri ngga bakal nyium bau surga."
Eh iya bukan? Intinya gitu lah. Jujur aja nih. Batin lagi perang adu argumen gitu....sama Yang Menciptakan batin. Sebagai hamba kalau bukan nurut sama Yang Menciptakan, dibuangnya bukan lagi ke rawa-rawa. Ke neraka. Serem. Iya.
Jadi nurut karena takut? Iya. Kata Mas, takut itu sebuah nikmat.
Mungkin ini mengapa istri sholihah (yg sholat 5 waktu, puasa, taat pada suami) itu masuk surganya bisa milih dari pintu mana saja.
Oh egoku, kumohon turunkan sedikit banyak dirimu.
Oh petugas yang bagian kerjanya bagi-bagi wilayah mutasi, bisakah tiba-tiba suamiku mutasi ke kota beruniversitas yang mempunyai program pascasarjana Matematika dengan akreditasi A?
Jadi, sebenarnya ibu rumah tangga itu sedang berjuang atau tidak?
Selalu.
Berjuang untuk apa?
Ikhlas.











