I wanted to draw them in the opposite things. Angst and Fluff, there's no other thing with them

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from Guatemala

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Philippines

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Australia
seen from Mexico
I wanted to draw them in the opposite things. Angst and Fluff, there's no other thing with them
Setiap orang punya caranya masing-masing untuk berdamai dengan dirinya sendiri.
Wajar, kok, kalo kita merasa tersesat di pikiran-pikiran yang kita bentuk sendiri. Merasa tersudut dengan ketakutan yang kita buat sendiri. Yang penting kamu kuato. Sabaro. Memang prosesnya seperti itu. Merasa tak bisa apa-apa, tak berdaya dengan kenyataan, dan semacamnya, memang kita harus melewati itu dulu, kok.
Pada akhirnya nanti kita akan tersadar dengan sendirinya. Penerimaan itu akan datang seiring dengan kesadaran bahwa semuanya tergantung bagaimana respon kita terhadapnya. Sabaro. Ikhlaso.
Akan datang waktunya, kok.
__ Malang, 0407 @dimazfakhr
Tidak ada kegagalan, yang ada adalah bertambahnya pemahaman, dan semakin luasnya penerimaan. Tidak juga ada benci, yang ada adalah semakin mengerti, sadar dan mawas diri.
Niatmu Lo...
Nalorbo Modnar #5
"Art is not about showing off, it's about reflection of yourself"
Pernah gak se yumak ngerasa setelah bikin sesuatu yang menurut kalian itu oke banget, terus akhirnya pingin nunjukin hal itu ke orang banyak, dengan harapan dapet apresiasi yang bagus. Eh malah kenyataannya gak sesuai sama apa yang yumak harapkan. Jauh banget malah. Pernah kan?
Saya baru ngerasain kayak gitu. Lagi.
Ceritanya, kemarin setelah melewati bedrest selama semingguan lebih, akhirnya saya bisa mulai nggambar lagi. Ya walaupun stamina belom maksimal, saya bisa nggetu nggambar selama 2-3 jam. Nah, dengan kondisi yang belum fit bener kayak gitu, ternyata saya bisa menyelesaikan satu karya hand lettering ukuran A3 dalam waktu 3 hari. Woh! Sebuah hal yang bikin saya sendiri kaget. Seneng dong ya sayanya.
Karena ngerasa saya udah bikin sesuatu yang oke banget, di dalam hati saya udah mulai rame, “Wah, harus cepetan saya upload nih”, gitu.
Dengan perasaan seneng yang lagi tinggi-tingginya itu, saya keluar kosan, saya tata gambar saya tadi biar keliatan artsy instagrammable. Pret! Jepret! Pret! Saya sodrek pake kamera hape. Edit sana-sini. Bikin caption yang menjelaskan prosesnya. Eh hapus lagi, lebay ah kalo kayak gitu. Caption standar aja deh. Oke. Fix. Upload. Bret!
Lakok ternyata, responnya gak sesuai sama apa yang saya bayangkan. Loh, kok gini, ada yang salah sama gambarku ya, kurang apa sih, ah mbujuk’i pasti, krowak’e weci!. Gitu-gitu wes isinya di kepala saya. Kecewa sih emang. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi. Saya malah ketawa sendiri. Tiba-tiba kayak ada yang ngomong di kepala saya, “miiid mid, kon iku lo upload konok’an niatmu lak ate pamer se? makane olehmu yo sakmono mek’an. Pek’en iku. (kamu itu lo upload kayak gitu niatnya cuma mau pamer kan? Ya dapetmu cuma segitu. ***** ***)”
Kadang lucu sih emang ya. Perasaan terlanjur seneng sama apa yang udah selesai kita bikin kadang emang bisa membawa kita jadi pingin pamer, jadi sombong gitu ujungnya. Apalagi jaman sekarang kan, kayak didukung banget buat menunjukkan apa yang kita punya, apa yang lagi kita kerjakan, malah udah jadi tuntutan kayaknya. Dikit-dikit pret! upload, apdet stories, status, ngetwit, bikin quote baper. Susahnya disini sih emang. Gimana kita bisa membedakan mana yang emang sekedar pamer dan mana yang emang pingin berbagi ilmu, keresahan, dan hal lainnya. Saya sendiri juga masih kesusahan.
Di tengah-tengah kepikiran soal ini, saya tiba-tiba dapet rekomendasi video yang waksi dari om yutub.
Di akhir-akhir video Naufal bilang, "Art is not about showing off, it's about reflection of yourself". Saya setuju. Karena memang seni seharusnya menjadi medium bagi setiap orang untuk berekspresi. Karena tiap orang juga pasti berbeda, karya seni yang mereka ciptakan juga pasti berbeda, baik dari segi konsep, bentuk, eksekusi, pesan yang ditampilkan, dan elemen-elemen lainnya. Itu yang membuat sebuah karya seni menjadi sesuatu yang spesial. Sebab berangkat dari diri sendiri, dari keresahan dan pengalaman yang kita alami.
Beda lagi kalo berkarya hanya untuk pamer. Pasti hasilnya tak pernah bisa spesial. Jatuhnya malah terkesan sama dengan yang lain. Karena kalo pamer kan berarti ada parameter yang ingin ditunjukkan, ada hal lain yang ingin dikalahkan, pasti hasilnya gak bakal jauh-jauh dari hal itu. Akhirnya, karya yang dihasilkan gak bakal begitu dilihat sama orang banyak. Karena ya itu, gak begitu beda sama karya-karya sebelumnya. Mirip. Identik. Asaib ae.
Itulah kenapa kita perlu benar-benar berkarya, berkesenian, dengan berangkat dari keresahan ataupun pengalaman yang kita alami. Dengan berangkat dari hal itu, akan muncul interpretasi yang memang unik, yang bener-bener “wah ini aku banget”. Karena jika berangkat dari hati, dari pengalaman dan keresahan diri sendiri, karya yang kita hasilkan pasti akan bisa memberikan value baru bagi orang lain yang melihat karya kita. Itulah akhirnya yang akan memberikan pembeda antara karya kita dengan karya orang lain.
Ini semua tentang proses. Tentang gimana kita peka sama keadaan sekitar dan peka sama pemikiran kita sendiri.
Jangan berkarya karena pingin pamer. gak bakal dapet apa-apa. Berkaryao karena pingin membagikan apa yang menjadi keresahanmu.
___ Bandung, 210917 @dimazfakhr
Enak Banget #Lalapan #PecelAyam #Sambalterasi
#NgurahSuryaKusuma Youtube Channel: Ngurah Surya Kusuma
Le directeur du digital quitte le club Sportune
Samar rasa
Merajut sisa-sisa yang terbentuk sia-sia//
Melukis rupa warna tercoreng garis hampa//
Sebut nama ulang-ulang hanya angan yang tergenggam//
Lempar harap penuh nada yang tergapai rasa padam//
Rapal mantra tiada henti yang terasa hanya masam.