i do sorta feel like using this again, idk why out of all sites im most intimidated with this one still, no particular reason either

seen from T1
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from China
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from China

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from China

seen from France
i do sorta feel like using this again, idk why out of all sites im most intimidated with this one still, no particular reason either
i don't have any instruments at my house anymore but i wanna sing my friends a song so i'm gonna go do that the moment i find time to
Vamos começar com a chuva de fotos do evento mais badalado de beleza do ano a Beauty Fair! Infelizmente não consegui postar em tempo real por 3 motivos, 1. A internet não funcionava dentro do Expo Center Norte, 2. Andávamos o dia todo e por isso não podíamos sair do local, 3. Chegávamos tão tarde no hotel que eu não conseguia ter forças pra postar e ainda acordar cedo para o próximo dia. Fizemos um voo longo na madrugada de sexta e já chegamos direto para o @beautytalkdigital que foi um evento incrível direcionado apenas para as blogueiras selecionadas. Viajamos pela @latamairlines que infelizmente deixou muito a desejar com esse método de mercado no voo pois já pagamos caro nas passagens e os produtos são muito caros e ainda mais esse novo jeito de levar as bagagens, depois se quiserem conto os detalhes. Nessa viagem fomos @janaland_ , @kessiarosablog e eu, ficamos hospedadas no Hotel Ibis Buget São João pelo @bookingcom , tivemos um excelente atendimento e hospedagem, foi super seguro a reserva e pagamos só na hora do chek-in. Acho que resumi um pouco do começo da viagem, vou postar também pelo stories, acompanhem lá! Já gravei o vídeo de recebidos e logo estarei postando tudo que ganhei na @beautyfairprofissional . • • • #blogueirasBF #beautyfair2017 #beautyfair #beautybloggersday #alinezanattafotografia #alinezanattanabeautyfair2017 #viagem #feiradebeleza #saopaulo #vejasp #alinezanattaemsp #sp #btalk #beautytalk (em Marechal Rondon International Airport)
Mais um mimo lindo do #beautytalk que vou trazer a resenha em breve para vocês. Não deixe de seguir é receber tudo em primeira mão e participar do concurso que iremos fazer em breve @angelcomarte. #beautytalkaspa #influenciadora #blog #blogger #youtuber #osasco #sp #angelcomarte #abelezadomundodigital #btalk #beautytalk #aspa (em Expo Center Norte)
Mimo lindo e recheado que recebemos na #beautytalk #taiff #vult #kiss #aspa #niely #influenciadora #blog #blogger #youtuber #osasco #sp #angelcomarte #abelezadomundodigital #btalk #beautytalk (em Expo Center Norte)
Já estamos aqui aproveitando cada detalhe desse maravilhoso evento voltado para as Digitais Influencers. Me acompanhem lá no stories que tem muita acontecendo nessa viagem incrível. • • • #beautytalkaspa #beautyfair2017 #btalk #beautytalkvult #beautytalkkissny #beautytalktaiff #beautytalkniely #boatarde #goodafternoon (em BeautyFair Feira Profissional)
Writing’s Journey #4 - Premis dan Outline yang Memudahkan
Dari kemarin kayaknya kebanyakan curhat seputar buku Sebatas Mimpi dan KALA yak. Hehe. Maka, kali ini mungkin akan sedikit ada ‘sesuatu’ yang diulas. Biar lebih berfaedah ~
Apa sih yang pertama kali dikerjakan kalo ingin menyelesaikan satu naskah buku?
Kalo pertanyaan itu diajukan ke saya saat ini, maka jawabannya adalah premis dan outline. Percayalah saya engga lagi sedang sok keren dengan jawab kayak gitu, tapi emang kedua hal itu yang bikin saya bisa nyelesaiin naskah saya. Tapi kalo pertanyaan itu diajukannya dulu, sewaktu saya hanya iseng nulis di socmed maka saya engga akan pernah mengeluarkan jawaban itu.
Well, seperti yang temen-temen tau, tulisan-tulisan saya di Tumblr ini berdiri begitu aja. Engga ada namanya mikirin premisnya apa, cara penyampaiannya gimana, bahkan engga mikir tentang outlinenya seperti apa. Intinya kalo lagi ada ide dan ngerasa ada sesuatu yang mau disampaikan dan dibagi ya langsung aja nulis.
Tapi kemudian ketika pertama kali kenal sama Kak Ry—editor Sebatas Mimpi—dan ditawarin bikin naskah untuk dibukukan saya langsung ditodong, “kamu bisa mulai memikirkan konsep bukumu seperti apa? Outline-nya seperti apa? Temanya tentang apa? Kamu bisa kirim ke emailku ya.”
Saya sih waktu itu langsung jawab oke oke aja, tapi di balik itu semua sejujurnya saya agak sedikit pening. Ya gimana dong ya, kebiasaan nulis asal jadi gitu aja, trus diminta sesuatu yang lebih structural. Dan sejujurnya saya bahkan belum ada bayangan untuk awal dan akhirnya kayak gimana, eh ndilalah langsung disuruh bikin perencanaan. Udah macem nulis skripsi aja huff.
Awal kali dikasih tau kayak gitu saya langsung googling tentang outline buku dan langsung nge-pm teh Nyta yang waktu itu sudah lebih dulu persiapan nulis naskah RyT. Karena jujur, saya sama sekali gatau seperti apa isi outline yang harus saya kasih ke penerbit. Yak, pengetahuan saya tentang dunia tulis menulis masih cetek banget emang, sampe sekarang bahkan, makanya saya sharing beginian biar bisa sama-sama belajar.
Yang selama ini saya tau hanya saya suka nulis, udah itu aja. Masalah tulisan saya masuk genre apa, diksinya bener apa engga, dan seluruh komponen lainnya saya engga pernah mikirin sama sekali.
Pun pendukung saya belajar juga paling dari novel yang saya baca. Mengkhususkan diri dengan ikut acara kepenulisan? Kayaknya engga pernah selain dateng ke launching buku Dee Lestari. Baca buku tentang kepenulisan? Pernah sih, tapi dulu saya gampang bosen baca sesuatu yang lumayan ‘berat’.
Oke balik ke topik, masalah outline kelar dengan saya yang menggunakan waktu seminggu untuk merenungkan itu buku akan seperti apa dan mau bikin outline macem apa. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk melengkapi outline itu dengan; Judul sementara, nama penulis, genre buku, target pembaca, isi buku secara keseluruhan, jumlah bab, isi per-bab, judul per-bab, dan estimasi halaman.
Saya engga mikirin itu bener apa engga, yang waktu itu ada di kepala saya adalah pokoknya dengan outline yang saya tulis itu harus bisa menggambarkan isi kepala dan buku saya nantinya akan seperti apa.
Outline selesai, semula saya kira semuanya udah selesai sampe itu aja dulu, tapi waktu itu Kak Ry pernah bilang, “premisnya sekalian ya.”
Selesai satu kepeningan, ternyata masih berlanjut lagi, saya bingung banget buat nentuin premis. Di situ rasanya mau nyerah aja, mikirnya adalah yaelah mau nulis aja kok ya jadi ribet, padahal biasanya saya bebas-bebas aja.
Karena menurut hasil bertanya pada yang maha tau di dunia maya (re:googling), premis itu intisari cerita dalam satu kalimat. Nahloh, saya kelabakan, secara saya paling bisa jelasin sesuatu hal dengan dipanjang-panjangin. Kalo singkat rasanya engga pernah asik, tapi ini diminta buat satu kalimat aja.
Waktu itu outline saya engga dilengkapi dengan premis yang singkat. Saya bahkan gabisa bilang itu premis, karena yang saya tulis adalah intisari buku saya dalam beberapa kalimat. Tapi dengan kepedean yang entah ada di tingkatan ke berapa, saya kirim aja outline itu. Dengan harap-harap cemas saya cuma berdoa semoga editor saya paham maksud outline saya dan beliau berbaik hati untuk mengajarkan saya di kemudian hari kalo sekiranya saya salah.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, saya dikasih beberapa bacaan yang sangat amat membantu dari Kak Ry. Dari buku-buku itu juga saya paham kalo premis itu rumusnya; Premis = Karakter Utama + Tujuan + Halangan.
Jadi, kalo dulu dibayangan saya nulis buku akan terasa nyaman ketika sebebas nulis satu prosa di Tumblr yang engga perlu mikirin outline, nah kalo sekarang beda, setiap memulai satu naskah baru saya lebih nyaman kalo ada outline dan punya premis. Even saya akan selalu pusing untuk memulai membuatnya. Tapi itu lebih enak, daripada saya harus pusing di tengah jalan.
Karena mennn nulis buku dan nulis buat di Tumblr tuh beda banget. Nulis buku itu berlembar-lembar, nulis buku itu ada tanggung jawab yang lebih besar dan ada bab-bab yang engga mungkin engga ada kaitannya, terutama ketika bikin novel. Yakali alurnya engga sesuai, ntar malah bikin bingung pembaca. Eh engga sampe pembaca juga sih, karena editor pasti udah komen duluan pas editing haha.
Saya dulu pernah bikin cecerpenan, tapi setiap di tengah jalan saya selalu ngerasa punya ide-ide baru, bahkan yang awalnya saya berencana bikin akhir A malah bisa jadi D akhirnya. Engga jarang cerpen saya berakhir di draft karena saya gatau harus ngelanjutin kayak apa. Karena di tengah jalan suka stuck, kayak engga punya arah mau sampe di akhir cerita yang begini begitu harus gimana ngerangkai alurnya. Tapi, kalo ada outline tuh saya engga ngerasa kehilangan arah, jadi selalu tau ke mana arah pulang (?) ehehe. Karena itu tadi, saya udah nyiapin semuanya dari awal, saya udah pusing-pusing ngerencanain semuanya dari awal banget.
Buat saya pribadi, outline itu udah kayak peta yang isinya adalah; titik di mana saya mulai jalan sampe titik akhir tujuan saya. Dan di sepanjang perjalanan itu saya punya rambu-rambu yang akan selalu ingetin saya biar engga nyasar, engga salah jalur dengan memperlama waktu tempuh dan bikin saya bisa sampe di tujuan dengan selamat.
Jadi, buat temen-temen yang sering nanya ke saya biar engga kehabisan ide di tengah nulis buku gimana caranya? Gimana cara biar engga bingung nyambungin alur? Dan gimana cara nyelesaiin satu buku yang isinya bisa beratus-ratus halaman. Jawabannya saya adalah mulai siapkan premis dan outline sebaik, semateng dan selengkap mungkin. Biar bisa punya pedoman yang lebih asik~~
Di akhir tulisan ini saya cuma mau bilang, yuk mulai berkarya dengan sejujur dan sebaik yang bisa kita lakukan. Semangat dan teruslah menulis :)
Untuk yang lain yang mau bertanya atau mengajukan saran tulisan boleh cek infonya di bawah ini:
Salam, Janpi aka Stefani Bella
Tangerang, 8 Agustus 2017
Writing’s Journey #3 – “KALA-borasi”
Kemarin saya ada bilang kalo kolaborasi bisa jadi salah satu alterrnatif ketika udah punya komitmen tapi tanggung jawab untuk menulis masih kurang hanya dengan ikut Writing Project.
Yak, kolaborasi! Kebetulan partner saya dalam menulis KALA juga udah membahas tentang kolaborasi dan sudah sempat saya reblog juga (hayooo jangan males stalk ke bawah dikit). So, kali ini saya mau cerita-cerita aja tentang gimana akhirnya KALA bisa lahir~
Jadi, akhir tahun 2016 lalu, saya diajak nulis buku bareng sama si partner nulis saya ini. Iya ini sekalian klarifikasi soalnya dia suka ngomong saya yang ngajak duluan, mungkin lupa, manusya emang tempatnya lupa yekan (dih dibahas Bell--“). Kemudian saya mengiyakan dengan niatan akan nyoba untuk masukin di penerbit major atau kalo emang engga memungkinkan yaudah di indie aja.
Intinya sih yang penting beneran jadi sebuah karya, biar isi chat setidaknya jadi lebih berfaeda hehe. Tapi, Tuhan selalu punya rencana indah emang buat hamba-Nya yang mau saling membantu menggapai mimpi, cielah. Beberapa bulan semenjak Sebatas Mimpi lahir, ada penerbit major lagi yang nawarin nulis buku. Trus keidean untuk nawarin konsep duet atau kolaborasi tersebut.
Dimulailah dengan dimintai outline yang bikinnya ngebut sekalehhh, abis itu ketemulah dengan pemrednya dan yak disetujuin donggggggg naskah duet! Kyaaa senang, maka dimulailah perjalanan KALA. Ohya fyi aja sih KALA sebenernya diawal outline itu akan menjadi sebuah buku prosa, tapi pas eksekusinya berubah total jadi novel. Iya jauh banget emang melencengnya haha >.<
Jangan dibilang karena saya cukup dekat dan lumayan kenal dengan mas Iid maka semua proses menulis berjalan lancar-lancar aja. Nulis novel buat saya itu engga gampang, susah banget iya, ngendaliin isi kepala sendiri aja susah apalagi harus nyocokin dengan isi kepala orang lain. Untuk KALA sendiri, saya bahkan dengan jujur berani bilang hampir sering banget nangis selama proses pengerjaannya. Iya saya memang secengeng itu :(
Nangisnya kadang karena hal sepele. Mulai dari apa yang saya sampein engga diterima sesuai dengan maksud saya. Trus saya yang bahas bab 7 sampe ngeyel-ngeyelan ternyata dia lagi ngomongin bab 8. Trus juga mengenai bagian mana yang mau dihapus dan mana yang perlu ditambah (awal sekali, KALA berjumlah 500 halaman, iya dipotong banyak makanya nangis haha). Sampe dengan menyamakan ritme keaktifan menulis, iya di beberapa waktu saya yang ketika malam udah tiba, maunya manja-manjaan sama kasur karena udah lelah dengan kerjaan kantor, tapi dia lagi aktif-aktifnya mau bahas isi buku tersebut.
Kenapa nangis? Karena saya susah banget untuk marah-marah sama orang, jadi emosinya tersalurkan ke sana hehe. Tapi dibalik semua tangisan itu saya belajar banyak hal. Salah dua hal yang saya pelajari adalah mengendalikan ego dan bertanggung jawab.
Ya, saya belajar untuk mengendalikan ego, karena bisa saja ketika saya menuruti ego saya justru hal itu akan melukai ego orang lain. Saya belajar untuk bertanggung jawab, ya tanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai meski di perjalanannya banyak tantangan yang bikin niat jadi goyah. Tanggung jawab ke penerbit dan tanggung jawab ke partner menulis saya juga tentunya.
Kan kakak sering nangis tuh, apakah kapok untuk kolaborasi lagi dengan mas Id? Haha, engga kok, sans, pokoknya nantikan karya kami selanjutnya, insyaa Allah KALA bukan kolaborasi terakhir (ini bukan kode, ini pemberitahuan aja gengs, doakan yes!)
Selama masa penulisan KALA, saya banyak berkontemplasi dengan diri saya sendiri, tentang hidup, tentang kepenulisan itu sendiri, tentang memilih penerbit, tentang pembaca dan banyak lagi hal lainnya. Pun hal itu jadi bahan perbincangan yang menarik untuk saya dengan mas Id.
Bisa dibilang selama satu bulan menulis KALA, waktu kami hanya seputar laptop, internet, dropbox, dan chat line. Ya, engga ada telpon dan tatap muka selama kami mengerjakan KALA, gausah heran dan jangan lagi kalian bilang jarak menghalangi terciptanya sebuah karya. Selama ada niat dan usaha, semuanya akan berjalan lancar insyaa Allah.
Dan ah ya jangan ditanya soal enek apa engganya selama nulis 300 halaman yang udah menjadi buku itu, karena rasa bahagia atas apresiasi teman-teman yang membeli buku KALA-lah yang membuat saya dan mungkin juga mas Iid lupa dengan seluruh rasa engga enaknya kemarin. So thank you guys karena sudah mengadopsi KALA dan mengapresiasi sampe sebegitunya. Saya sangat berterima kasih untuk itu *kecup atu-atu*
Maka, di akhir tulisan yang udah cukup panjang ini saya cuma mau bilang, lets wake up! Berkaryalah, kalo merasa belum sanggup sendirian, mencoba bareng orang lain bukanlah sebuah kesalahan.
Untuk yang lain yang mau bertanya atau mengajukan saran tulisan boleh cek infonya di bawah ini:
Salam, Janpi aka Stefani Bella
Tangerang, 19 Juli 2017 (iya dipostnya 20 Juli hehe)