Seharusnya
Apa kalian tahu, kata apa yang paling ku benci di dunia? Ya! Kata "seharusnya". Mengapa demikian? Asap tidak akan muncul jika tidak ada api. Buih tidak akan muncul jika tidak ada air. Lalu apa alasan di balik kebencian ku pada kata "seharusnya" ini?. Sederhana saja, aku membenci kata itu karena kata itu biasa dipakai untuk orang yang mengalami penyesalan dalam hidupnya. Adakah seseorang yang menyesal, lalu dirinya tidak menyebutkan kata seharusnya? Hampir semua manusia melakukannya bukan... Bahkan orang bisu sekalipun. Apakah tidak ada kata yang lebih baik daripada kata itu? Mau tahu kata yang lebih bagus daripada seharusnya? "Harus" lah jawabannya. Ya kata ini tidak perlu tambahan "se" dan "nya". Satu kata yang sangat mudah diucapkan, tetapi sangat sulit untuk dilakukan. Bagaimana? Mau protes? Memang itulah faktanya!. Banyak orang yang menghindari kata "harus" dan akhirnya berujung pada kata "seharusnya". Mengesalkan bukan? Memang itulah manusia. Tidak ada yang lebih sempurna selain Tuhan sang pencipta. Setiap manusia pasti ada kekurangannya. Ya, saya akui. Tidak ada yang namanya manusia bodoh di dunia ini. Mereka hanya malas. Seperti yang disebutkan tadi. Mereka menunda-nunda apa yang harus dilakukan saat ini. Sehingga penyesalan pun pada akhirnya datang menghampiri. Jika sejak dini tertanam sikap "harus" pada diri manusia, maka pasti tidak akan pernah ada penyesalan yang mendatangi hidupnya. Apakah terlambat jika prinsip itu dilakukan sekarang? Tidak! Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik. Maka dari itu, janganlah engkau para manusia menunda-nunda apa yang harus kalian lakukan. Jika tujuannya baik, segeralah dilakukan. Dan jika tujuannya buruk, segeralah ditinggalkan. Manusia memang tidak sempurna. Tapi, bukan berarti manusia tidak memiliki jalan untuk bisa menjadi lebih baik. Bersama-sama kita terapkan harus, bersama-sama kita tinggalkan seharusnya.
















