Kesadaran diri dalam berkendara (di Bandung)
Today, aku mau mengkritik “kita” para pengguna jalan raya terutama di Bandung, untuk sekarang yang makin semraut.
Hi, sebelum nyiyirin perlu diketahui, aku memberi opini dari banyak sudut pandang, jangan ada yang baper.
aku pengguna setia nyikreuh (terseok-seok jalan kaki) sedari kuliah aku sudah didik keras, ke kampus jalan kaki ke raya yang cukup jauh dari rumah (karena waktu itu mikir dua kali naek ojek mahal, wkwk) walaupun kami Alahmdulilah punya kendaraan bermotor roda dua dan empat tapi kami dipaksa olahraga, naik angkot, aku berwisata pake busway, metromini dan rebutan naik KRL sewaktu merantau di Jakarta.
Aku salah satu anggota geng pasukan semut motor, sejak SMA motor sudah menjadi teman setia yang nemenin aku kemana-kemana.
Aku juga pengguna mobil, karena kebetulan kami keluarga 5 sehat, gak mungkin naik motor berlima atau mesti touring pake motor kalau kencan keluarga atau mudik ke kampung babeh.
Mengingat sekarang Bandung sudah kurang kondusif kondisinya di jalan raya, maka:
1. Tolong bagi pengguna motor kalau macet ngantri yang tertib, jangan seribet-seribet ganggu pengguna mobil dan jangan sampe pake tortoar dong, kami yang jalan kaki males ngadepin asap motor kalian bro-sist.
2. Tolong pengguna mobil, kalau ngantri lampu merah atau sebagainya agar mengarahkan mobil sama dengan depannya dan bebaik hati menyisakan jalan untuk motor roda dua. Dan di Bandung sekarang udah gak bisa kepat-kepot jadi berjalanlah dengan kecepatan normal yah.
3. Tolong yang terhormat supir angkot, Bapak Tong ngagokan mun rek jalan laun nyisi di jalan bari someah atuh mun silih nyarek teh. Mun milarian artos sanes supir angkot wae, jadi hargaan waktos anu sanes nyak... J
4. Tolong pengguna angkot, bus Da*ri dll, kalau kita mau naik/turun kiranya memperhitungkan keadaan jalan dan jangan lelet bayarnya ya. Teruma nyai dan para emak-emak.
5. Tolong para pejalan kaki, jalan jangan mager, kami pengguna mobil susah lewat, dikira lebar jalan selebar lapang bola. Kalau di bel ngambek anak ababil apalagi
Dan masih banyak cerita, narasi dan anekdot lainnya, mohon kita selalu saling sadar diri dan saling menginggatkan iyess.
Peluk sarerea,
Destia













