Wajahnya tenang dan terlihat ramah, santai gesturenya, mungkin terlihat malas.
Berkulit sawo matang, tinggi untuk orang Indonesia, bermata sayu belo, tidak tidak mungkin aku yg salah lihat, Dia berkacamata.
Berjaket beige, casual tapi rapih.
Terlihat hangat tapi enggan bicara,
Dia berbicara sopan memesan kopi, matanya memutar melihat sekeliling, tegas, nah mgkn duduk sebrangku? Yakan duduklah Dia. Di pojok.
Jago pilih kursi nih, pikirku. Tempat favorit, pojok, jauh dr ac, ku bisa melihat seluruh warung kopi, seperti tempatnya sekarang.
Ku kembalikan perhatian ke halaman 52 di buku ku. Tidak lama Dia berisik mengambil laptop d tas nya, alis nya naik karena tak menemukan kabel pengisi baterai, sesaat berlalu seolah kabel otu tak berarti.
Si mbak nganterin kopi, item dan tea? Oh baiklah. Haruskah kupeduli. Tingkah heboh jalan si mbak menyenggol kursi Dia duduk, kemudian dia berkata "gpp mbak?" kemudian alisku yg naik, ku mulai memperhatikan nya lagi. Si mbak cengar-cengir malu sambil pergi "maaf pak, maaf"
Kutarik napas ku dan mulai memainkan handphone, mungkin Instagram. Tapi aku berpaling lagi.
Wajahnya mungkin polos, tapi jaket beige itu menutupi sesuatu, tato d lengannya. Bau rokok sesaat setelah Dia duduk, pekorok berat, tapi Dia tidak merokok saat ini padahal merokok bebas jaya disini. Mungkin karna gak asbak. Dia membuka laptopnya, tidak mengetik lama ataupun menonton you tube, terlihat Dia hanya membaca dan membalas email - terlihat dari refleksi kaca di belakangnya.
Ku mulai terseyum kecil karena merasa konyol mengobservasinya. Dia pun melihat ku, mata kami mulai saling memandang, tp anehnya kami tidak jd kikuk, Dia terseyum kecil dan menarik napas panjang dan mulai mengambil handphone yg tergeletak di samping nya.
Malah handphone ku yg berbunyi
Pop up message "laveeer..." memelas.