Petani Kehidupan
.
.
.
.
.
Aku ingin menikahi seorang petani, petani kehidupan. Membersamai seseorang yang memulai harinya di pagi buta dengan rasa syukur padaMu. Lalu menyiapkan dirinya dengan hati senang membajak ladang kehidupan. Menyemai benih-benih kebaikan. Hingga kebaikan itu kemudian terus bertumbuh. Dia menjaganya. Menyiangi tanaman kebaikan itu dari hama sikap buruk pada sesama dan rasa sombong pada penciptaNya. Mengairinya dengan rasa tawakkal dan berpasrah diri padaMu. Selalu memupuknya dengan rasa sabar tiada batas. Dia terus melakukannya, dibawah terpaan ujian kehidupan yang mungkin saja lebih terik dari sinar matahari. Menahan dirinya dari haus kekuasaan dan gila untuk dihormati. Kemudian jika lelah menghampirinya, dia mengistirahatkan hati dan tubuhnya dengan mengingatMu. Namun, istirahat tak membuatnya lupa, bahwa dia harus segera kembali bekerja. Sampai sore hari datang dan dia pulang dengan rasa syukur yang berkali kali lipat lebih dari rasa syukur yang dimilikinya tadi pagi. Terus begitu setiap harinya, hingga kemudian datang waktu baginya memetik semua yang telah ditanam.
.
.
.
P.S : foto ini diambil setahun yang lalu, masa-masa masi Praktek Lapangan Kependidikan di Solok. Lalu kenapa tiba tiba ingin ngeposting ini? Karena tadi ketika di kelas mendadak jadi (sok) filosofis, hehee