Di dalam kepala;
Pertunjukan masa lalu dengan berjalan
Kenangan-kenangan lihai bermain peran
Di luar;
Semerbak kesedihan di tubuh, Puan.
— Bukan Bidadari
seen from Germany
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from China
seen from China
seen from China
seen from China
seen from China
seen from China
seen from China
seen from Canada

seen from Chile

seen from United States

seen from United States
seen from Argentina

seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from China
Di dalam kepala;
Pertunjukan masa lalu dengan berjalan
Kenangan-kenangan lihai bermain peran
Di luar;
Semerbak kesedihan di tubuh, Puan.
— Bukan Bidadari
Sungguh, tak pernah ada di dalam pikiranku bahwa aku akan menjadi bagian dari masa lalumu. Harapan dan keyakinan tentang hubungan yang akan naik jenjang, membuatku menutup mata tentang keadaan sekitar.
Kini semua sirna, kepergianmu membawa segala harapan yang ada. Kepercayaan luntur, terhujani kenyataan tentang kandasnya hubungan kita.
Di dalam kepala, segala cerita kita masih berlarian; saling berkejaran. Mengoyak hati yang sebenarnya sudah lebih dari lebam.
Merebahkan segala lelah pada ranjang kesepian, memeluk diri sendiri yang gigil atas sebuah kepergian.
Tubuhku serupa daun
Tempat berpulangnya embun
Meski berkecup dalam sedikit waktu
Kita; selalu bertemu.
— Bukan Bidadari
Kamu adalah pena; untukku menulis segala cerita.
Bukan Bidadari
Kamu;
Kanvas yang ingin kuberi warna
Tapi, kuasku patah
Sebelum menciummu.
—Bukan Bidadari
Aku mencintaimu. Dan akan selalu begitu. Hatiku sudah kutitipkan kembali, tolong jangan sampai kau patahkan lagi.
Kamu.
Seseorang yang sedang aku rindukan.
Seseorang yang namanya selalu kueja dalam hening malam.
Seseorang yang kucintai diam-diam.
Mengagumi
Dulu, aku pernah mengagumi seseorang, mengamatinya dari jarak yang tidak dia tahu. Tetapi itu dulu, sewaktu aku masih memakai seragam putih biru. Iya, sewaktu baru pertama kali merasakan ketertarikan dengan lawan jenis, tentu saja masih malu-malu. Setelah beberapa tahun berjalan, sepertinya aku kembali menjadi orang yang diam-diam mengagumi, tentu saja bukan dia yang dulu pernah aku kagumi, melainkan seseorang yang sudah kukenal tapi kita tidak pernah secara langsung bertatap muka. Aku memang mengenalnya, bahkan kita bertetangga, hanya saja kita tidak pernah di pertemukan waktu untuk sekedar menyapa. Terdengar lucu bukan?? Tetapi itu kenyataannya. Rasa itu muncul dengan sendirinya tanpa kuminta. Mungkin, sedikit kepeduliannya menjadi salah satu faktor dari hadirnya sebuah rasa. Cukup tempatku di sini, bukan aku tidak mau mengakuinya. Tetapi aku rasa, cukup aku dan hatiku saja yang tahu. Sebab, aku tidak ingin merusak apa pun moment yang sedang dia bangun. Aku tidak ingin benar-benar di jauhi sebelum dekat. Sejujurnya, aku pernah berharap menjadi dekat. Tetapi, aku sadar kita bersekat. Aku tidak berani melangkah, takut akan patah. Seharusnya aku hanya di batas mengagumi, tanpa menyeret hati. Aku tahu, ketika hati bekerja maka rasa kagum akan beraroma cinta. Di sini, aku duduk menikmati rasa. Sebelum semua patah. Dan sirna.