Menyimpan sebuah berita gembira, buatku sangat menyenangkan. Itu terjadi sebelum pernikahan. Bagi seorang perempuan yang setiap kali bertanya, apa ia jodohku? Di mana ia? Seperti apa? Apakah seperti yang kuharapkan? Sesuatu ta’aruf yang lancar merupakan pertanda. Hanya bertemu sekali, 2 bulan kemudian khitbah, dan 3 bulan kemudian menikah.
Kami sama-sama tidak pernah berpacaran. Aku memang mensyaratkan itu selain tidak merokok sebagai syarat yang kuidamkan. Keinginan lain adalah usia 5 tahun di atasku, yang qadarullah benar-benar kudapatkan. Masalah agama nggak muluk-muluk, ada syaratnya tapi nggak aku publish di sini ya.
Tidak ada tanda-tanda yang ingin kusebarkan sebagai ‘kode’ sebagai seseorang yang akan menikah. Oh ya, ada sih keinginan itu... tapi untuk apa? Lagipula kalau nanti batal menikah mau ditaruh di mana muka? Lebih-lebih lagi karena aku pernah merasakan hampir frustasi begitu kedatangan seabrek undangan pernikahan. Wajar lah, aku merasa sudah siap menikah sejak lama.
Ketika dekat harinya, barulah secara terbuka mengundang kerabat dan memberi tahu secara lisan/tulisan. Sesuatu seperti ini rasanya lebih nikmat, seperti berbuka puasa. Dibanding mengedarkan romansa-romansa yang belum pasti, menyebar kode-kode bagi para single lain yang berada di ketidakpastian. Dongkol kalau ada yang sudah tahu aturannya, tapi tetap melakukannya. Dongkol.