Kembali Belajar
Seorang teman hari ini bercerita pada ku tentang permasalahan yang sedang ia alami, terus terang aku kaget karena kita bisa dibilang tidak terlalu dekat untuk bisa bercerita sedalam itu. Temanku ini adalah seorang ibu dengan satu anak, dia seumuran dengan ku, menjalani hidup sehari-hari sebagai working mom yang menjalani hari-hari nya tanpa di dampingi suami yang bekerja merantau. Siang tadi, awal nya aku hanya ingin sekedar sharing soal pekerjaan, tapi ternyata ia menumpahkan banyak hal yang ia alami beberapa waktu belakangan.
Ia bercerita, beberapa bulan ini ia lebih sering uring-uringan, emosi berlebihan yang akhirnya terkadang tertumpahkan pada anak nya dengan tanpa sengaja membentak walaupun pada akhirnya ia sadar sendiri dan sering kali merasa bersalah. Terlebih dengan kondisi LDM yang ia jalani, seringkali salah paham terjadi dengan suami nya, dia selalu merasa bahwa suami nya tidak mengerti apa yang ia inginkan, bahkan hal-hal kecil yang remeh pun terkadang jadi api yang berkobar-kobar. Salah satu nya ketika ia izin untuk bisa ikut kelas olahraga sepekan sekali, yang berdurasi hanya sekitar 2 jam, suami nya merespon langsung dengan mempertanyakan bagaimana dengan anak nya nanti, padahal dia pun sebagai seorang ibu tentu mengerti peran nya, tentu paham waktu, tentu sudah mempertimbangkan segala sesuatu nya ketika ia meminta waktu itu ia harus bagaimana, toh ia juga tidak mungkin mengabaikan begitu saja. Ditambah lagi, ketidaksepakatan ia tentang pola asuh mertua nya terhadap anak nya, yang menurutnya tidak sesuai dengan nya.
Kesepakatan dia dan suami nya sedari awal menikah adalah membagi waktu antara ia tinggal bersama di rumah orang tua nya dan juga rumah mertua nya, karena kebetulan rumahnya pun cukup dekat. Tapi ternyata setelah dijalani, temanku merasa tidak nyaman tinggal bersama mertua nya. Menurut nya, mertua nya sangat baik, tapi pola asuh yang ia terapkan pada suami dan anak nya tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Contoh kecil nya saja anak nya selalu dilarang untuk melakukan hal-hal yang menurut temanku seharusnya tidak apa-apa di lakukan, menurut mertuanya, takut nanti jatuh lah, takut nanti sakit lah, takut terjadi apa-apa pada cucunya. Temanku bercerita, kalau dia sejak kecil sudah ditinggal oleh ayah nya, dirinya di besarkan oleh seorang ibu yang sangat mandiri, mendidiknya cukup tegas, ibu nya selalu bisa mengerjakan dan membereskan hal-hal rumah tangga sendirian, sedari kecil, temanku selalu melihat itu, bagaimana ibu nya selalu mengerjakan apapun seorang diri dan semua nya terselesaikan dengan baik sampai bisa membesarkan dan mendidik ia dan kakak-kakak nya hingga dewasa, semuanya ibu nya lakukan sendirian. Hal itu juga yang membuat nya secara sadar atau pun tidak, membandingkan. Mertua nya selalu melibatkan orang lain dalam banyak hal, termasuk urusan domestik yang menurut temanku harusnya bisa dilakukan sendiri. Juga masih banyak hal, yang menurutnya tidak sejalan dengan dirinya, tapi mau tidak mau ia terima karena merasa tidak enak pada mertua nya. Dan saat ini, mungkin semua yang ia pendam selama ini mencapai titik puncak nya, hingga meledak-ledak dan sulit untuk ia kendalikan.
Akhirnya ia memutuskan untuk pergi mencari bantuan ahli, terutama perihal ia yang cenderung lebih emosional ketika menghadapi tingkah anak nya yang sedang aktif nya di masa sekarang, yang menurut nya sangat menguji kewarasan dirinya. Setelah ia berkonsultasi, ia disarankan untuk mencari psikolog khusus pernikahan. Sampai saat tadi ia bercerita, selalu muncul kalimat ia menyalahkan dirinya sendiri, ia merasa dirinya lah yang bermasalah.
Aku belajar banyak hal dari kisah nya, pernikahan adalah benar proses adaptasi seumur hidup, proses belajar memaklumi sepanjang hidup, juga belajar komunikasi sepanjang hidup di dalam nya. Kalau ada yang bilang cari pasangan yang bisa diajak ngobrol tuh bener banget, apapun itu, hal receh sekalipun, karena dengan itu akan terbiasa apapun dibicarakan. Segala bentuk emosi yang ditemui bicarakan, kalau marah, senang, sedih, apapun itu bicarakan, jangan dipendam sendirian, segala konflik itu ga akan pernah selesai kalau kita hanya diam, malah berpotensi jadi gulungan bola salju yang siap meledak kapanpun dan berpotensi menjadi konflik yang jauh lebih besar. Yang perlu kita pahami juga, bahwa pernikahan itu menyatukan dua keluarga yang punya "kultur" yang berbeda, bukan hanya dua kepala, yang artinya kita akan terus menerus dihadapkan dengan keluarga yang bukan hanya tentang kita, ada beberapa hal yang mungkin tidak sesuai dengan ingin kita, dan lagi-lagi ya bicarakan berdua dengan pasangan agar bertemu penyelesaian. Juga satu hal yang perlu diingat, setiap manusia sebagai individu selalu butuh jeda untuk diri nya sendiri, ada masa dimana ia harus memulihkan dirinya sendiri, beri ruang, beri waktu untuk itu. Menurut ku tidak ada masalah dengan "me time" ketika sudah memiliki pasangan, memiliki anak, justru itu diperlukan untuk me recharge diri agar bisa kembali ke kondisi terbaik diri, agar saat bertemu kembali dengan peran nya sebagai istri, sebagai ibu, sudah dalam kondisi emosi yang stabil, mood yang baik yang akan berpengaruh dengan peran-perannya di rumah. Tentunya lagi-lagi komunikasikan dengan pasangan baik-baik, saling mengerti satu sama lain, bergantian beri waktu untuk dapat "me time", jangan sampai malah berfikir itu semua bentuk berlepas dari dari tanggung jawab peran.
Teori memang selalu lebih sulit dari pada praktek nya, kenyataan di lapangan tidak semudah itu, ya itu benar, tapi setidak nya kita belajar. Aku menuliskan ini semua untuk pembelajaran diriku sendiri. Aku hanya bisa mendoakan teman ku untuk bisa terus berjalan, menemukan solusi terbaik, menjalankan kehidupan rumah tangga yang sehat, serta tetap menciptakan ruang untuk mencintai diri sendiri. Semoga Allah selalu memudahkan setiap fase perjalanan dalam hidup kita ya atas segala amanah peran yang kita emban, agar kita kembali pada Nya dalam keadaan terbaik :")
Bandung, 03 Juli 2026











