Kalo Masakan Keasinan, Jangan Salahin Piring
Pertengkaran dalam rumah tangga itu bumbu. Ibarat masakan, kalau kurang bumbu, ya hambar.
"Tapi kalau kebanyakan bumbu bukannya enak, jadinya malah enek, Yah…”
“Kamu mah kebiasaan.. kalo ayah ngomong rada filosofis dikit, langsung dimentahin.”
Dia ketawa, sendok sayur diketuk pelan ke pinggir panci. Dari dapur, bau tumisan mulai naik. Saya nyengir, sambil ngecilin kompor yang apinya kegedean.
Setelah dua puluh tahun lebih menikah, kami pelan-pelan paham—yang paling sering bikin ribut bukan perkara besar—melainkan nada suara, atau satu kata sederhana yang jatuhnya salah tempat.
Dulu kami pikir cinta itu soal sepakat. Sekarang kami tahu, cinta lebih sering soal berdebat tanpa pergi. Soal tetap duduk di meja yang sama, meski kepala masih panas, dan ego belum sepenuhnya mau turun.
Kadang kami diam agak lama. TV tetap nyala, berita lewat tanpa benar-benar kami dengar. Gelas teh dibiarkan mendingin. Lalu salah satu bangkit lebih dulu, ngambil piring, tanpa banyak kata.
Pertengkaran itu bumbu, iya. Ia bikin hidup terasa hidup. Tapi kami juga belajar menakar. Kalau dirasa sudah cukup asin, ya jangan ditambah garam lagi.
Karena rumah tangga bukan lomba siapa paling benar, melainkan latihan panjang untuk tetap pulang—bahkan saat hari itu pasanganmu terasa sangat menyebalkan.
Dan mungkin, dua puluh tahun ini bisa bertahan bukan karena kami jarang bertengkar, melainkan karena kami sama-sama tahu, kalau masakan mulai keasinan, yang harus dirapikan rasanya—bukan piringnya.
















