Langit Malang berawan pagi itu. Aku bersama seorang teman, masih orang yang sama yang selalu menemaniku traveling, bertolak menuju Bromo. Mungkin karena rasa penasaran kami karena tidak sempat menikmati keindahan Bromo akibat badai atau justru karena tidak ada tujuan lain, kami pergi ke destinasi yang sama dalam jangka waktu yang belum lama. Sebelumnya, kami pernah pergi ke sana di bulan Januari dan sempat kutuliskan di sini. Namun, destinasi, rute, dan rekan yang sama ini memberi pengalaman yang berbeda dengan sebelumnya.
Piknik kali ini lebih terencana dari yang sebelumnya. Baju hangat tersedia, sepeda motor sesuai, cuaca cerah saat menjelang siang, dan waktu kunjungan yang juga tepat saat weekday. Berangkat pukul 08.00 dari kota Malang, melewati Desa Wringinanom dan Desa Ngadas, lalu sampai di Bukit Teletubbies hanya memerlukan waktu kurang lebih satu jam. Pemandangan menuju ke sana subhanallah indah, meskipun menantang juga. Udaranya sejuk, cuaca juga cerah berawan, tetapi terlalu panas untuk menggunakan baju hangat. Melalui rute yang sama, siang ini kami mampu melihat langsung tempat-tempat yang kami lewati dan bersyukur. Bagaimana tidak, sebelumnya kami pernah melewati semua ini dengan ‘mata tertutup’ – di tengah gelap malam dan hujan gerimis. Kini semua jelas, kalau saat itu kami meleng sedikit saja bisa terjun ke jurang.
Jika saat weekend tiket masuk dikenakan sebesar Rp 35.000, saat weekday hanya dikenakan Rp 25.000, belum termasuk pajak dan biaya masuk kendaraan. Saat itu, kami dikenakan Rp 60.000, dengan rincian Rp 25.000 dan pajak 10% menjadi Rp 27.500 dikali dua orang, serta karcis masuk sepeda motor Rp 5.000. setelah membeli tiket masuk ini, perjalanan yang sebenarnya baru benar-benar dimulai. Tanjakan dan turunan yang curam cukup membuat tangan dan kaki pegal. Kalau waktu malam mungkin pegalnya tidak terasa karena teredam rasa dingin dan takut. Hati-hati saat melalui tikungan tajam setelah Air Terjun Coban Pelangi. Kebanyakan yang melintas adalah mobil Jeep. Tetapi tidak jarang juga ada sepeda motor matic! Heran juga motor matic bisa kuat menaklukkan tanjakan super curam, sedang kami yang naik motor standard sudah sangat kesusahan. Akan tetapi, semua perjuangan itu terbayar ketika kami sampai di Padang Savanah atau dikenal dengan Bukit Teletubbies. Kami sempat ragu untuk berhenti dan berfoto di sana karena tidak terlihat sama sekali ada motor yang terpakir di tempat yang tersedia, hingga akhirnya memutuskan untuk tidak peduli dan memarkirkan motor di antara jajaran mobil Jeep.
tidak ada motor terlihat, hanya mobil Jeep
Setelah puas berfoto ria, kami berencana melanjutkan ke Seruni Point. Tidak ada sedikit pun bayangan bahwa apa yang harus kami lewati selanjutnya adalah perjalanan hidup dan mati. Pasir Berbisik, tak kenal waktu dan kondisi, baik siang maupun malam, kering maupun basah, masih sama-sama berbahaya. Jika perjalanan pertama kami diuji dengan jalan yang tergenang, angin kencang, udara dingin, dan kegelapan yang mencekam, perjalanan kedua ini kami diuji dua kali lipat karena ternyata pasir dalam kondisi kering pun tetap menyulitkan, jauh dari ekspektasi. Roda sepeda motor yang tidak sesuai standar dan bensin yang menipis cukup membuat kami kelimpungan. Debu-debu yang beterbangan menutupi pandangan dan pori-pori kulit berjerawatku. Di tambah, jarang sekali kami berpapasan dengan sesama pengguna sepeda motor, seolah jalur tanpa ujung yang kami lalui ini salah. Tetapi, di tengah perjuangan, kami sempat berfoto juga kalau-kalau ada pemandangan bagus.
sejauh mata memandang hanya ada pasir
Betapa leganya kami, mendekati ujung padang pasir bertemu beberapa orang bersepeda motor yang bersedia membantu kami untuk naik ke jalan beraspal. Setelah melalui semua itu, kelegaan terasa semu saja. Jalanan menurun yang lumayan curam masih harus kami lalui. Entah karena sudah puas atau terlalu lelah, kami mengurungkan niat untuk melanjutkan ke Seruni Point dan langsung menuju Surabaya setelah terlebih dahulu mengisi bahan bakar.
Namun, perjalanan pulang kami agaknya terhambat karena ada karnaval tujuh-belasan sehingga jalan utama Sapih (berdasarkan lokasi foto yang kuambil) ditutup, kendaraan dialihkan, dan beberapa ruas jalan menjadi macet parah. Beruntungnya, kami naik motor sehingga bisa menerobos kemacetan. Tidak bisa membayangkan mereka yang naik kendaraan besar, mengingat kami berhasil menerobos kemacetan hingga beberapa kilometer jauhnya.
Aku pribadi kapok dua kali ke Bromo harus dihadapkan dengan ‘maut’. Tetapi, tidak cukup kapok untuk pergi ke sana lagi… naik Jeep aja!
Ke Bromo Lagi! Langit Malang berawan pagi itu. Aku bersama seorang teman, masih orang yang sama yang selalu menemaniku…