Sofia, namanya Sofia. Dia gadis muda berdarah Belarusia, hidup di Moskwa dengan nama Linor. Sofia hanyalah nama yang ia tinggalkan di atas meja belajar di kamar tidurnya di rumah Mamanya di pedalaman Kiev. Hobinya bermain biola dan seringkali memenangkan berbagai kejuaraan, sedikit banyak pintar meramu tuts-tuts hitam putih pada piano di kamar sewanya yang berukuran 5 x 7 meter. Itulah hal yang dia ketahui sejauh ini. Kebanyakan orang hanya tahu jika dia bekerja di sebuah media komersil swasta, meliput berbagai berita dengan tulisannya. Media masa ataupun elektronik menjadi tempat tulisannya bertahta. Untuk seorang gadis seusianya, mungkin hanya lelaki buta yang tidak terpesona dengan kecantikannya. Wajahnya anggun, polos, tapi dingin. Sebeku puncak musim dingin di Moskwa. Tatapannya terkadang teduh, tapi sejurus kemudian bisa berubah menjadi sangat garang, seperti mata seekor elang kala menatap tikus sendirian didekat lubang persembunyian. Kau tahu? Dia begitu cerdas, bahkan kecerdasannya mampu mengantarkannya menjadi seorang agen zionis. Ya benar, dia seorang Yahudi, menghamba pada Yahwee, dan berpikir dalam Talmud. Dia pernah belajar di Tel Aviv, kemampuan mata-matanya sungguh tidak diragukan lagi. Hampir semua tugas yang atasannya berikan selalu berhasil ia tuntaskan. Demi kepentingan Yahudi tentunya. Bukankah seorang Yahudi harus paham bila mereka adalah manusia pilihan? Ya, setidaknya sampai nanti bumi ini sirna, mereka akan selalu merasa begitu. Dan dalam keyakinan mereka, semua manusia di luar Yahudi pantas untuk dikorbankan, bahkan nyawa manusia tersebut sekalipun. Itulah rahasia besar dalam hidupnya, meski di sisi lain ada juga satu rahasia yang belum ia ketahui hingga usianya yang ke-24 ini. Rencana-rencana jahat yang telah dan akan ia lakukan sudah terinci dalam sidang kesepakatan akbar. Dalam waktu dekat ini dia akan melakukan teror bom yang akan menyeret mahasiswa dari Indonesia sebagai kambing hitamnya. Semua persiapan pra-eksekusi telah mencapai titik 80%, tinggal menunggu pelaksanaan eksekusi itu dilakukan. Maka, Islam akan lebih tercoreng lagi di mata dunia, Rusia akan semakin anti Arab dan negara-negara Islam di seluruh Timur Tengah maupun Indonesia. Tinggal menunggu waktu saja, begitu pikirnya. Oh iya, Mahasiswa Indonesia itu bernama Ayyas, Muhammad Ayyas. Dia di Moskwa sedang menjalani penelitian untuk tesisnya. Seorang muslim yang taat. Mungkin cukup itu saja perkenalan kita pada seorang Ayyas. Yang pasti dialah nantinya pembawa segala perubahan yang terjadi atas izin Tuhan Semesta Alam. Tepat tiga hari sebelum eksekusi keji itu dilakukan Sofia memutuskan untuk pergi berlibur ke rumah Mamanya di pedalaman Kiev sana. Tidak ada yang tahu, termasuk jaringan mosad, si agen-agen zionis teman-temannya itu. Sebagai seorang intel, ia mempunyai beberapa paspor dengan nama berbeda, dan itu hal biasa bagi seorang mata-mata. Dia memiliki satu paspor yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri, atas nama Sofia Corsova. Sampailah ia di depan pintu apartemen Mamanya, membuat kejutan yang memancing tangis merangsek keluar dari dua manusia yang dipisah jarak dan dalam waktu lama. Ruangan apartemen itu menjadi berwarna, seolah salju-salju yang berjatuhan bisa terlihat dari atapnya. Malam itu mereka habiskan untuk memanjakan rindu. Memetik buah-buah rindu yang telah ranum. Sebelum tidur Mamanya berpesan, ada hal penting yang ingin beliau sampaikan, pagi nanti mungkin waktu yang tepat, setelah Sofia malam ini beristirahat. Kamarnya masih sama, tidak banyak berubah, dan selalu bersih. Tapi ada yang ganjal, ia penasaran dengan kabar apa yang Mamanya ingin ceritakan. Ia mencoba memejam, meredam seluruh rasa penasaran. Toh, sebentar lagi pagi datang. Pagi, setelah sarapan, Mamanya yang terlihat tetap cantik meski keriput sudah tidak malu-malu lagi bersembunyi mengajaknya ke kamar beliau. Kamarnya besar, sebuah kamar utama dimana semua kenangan tertata rapi di setiap sudutnya. Beliau belum juga memulai berbicara, hanya duduk bersamanya di sofa depan televisi 21 inchi. Kemudian beliau berdiri dan memutar sebuah video dari vcd player miliknya. Ohh. Awalnya Sofia terkejut, video itu menyajikan dokumentasi pembantaian di daerah Sabra dan Shatila. Siapa lagi pelakunya kalau bukan zionis Israel yang dengan terang-terangan melanggar perjanjian. Beliau menanyakan apa yang dirasakan Sofia tentang film itu. Sofia diam, lalu menjawab biasa saja. Air mata pun meleleh dari kedua mata Mamanya. Sofia semakin bingung, bukankah dia dan Mamanya itu seorang Yahudi? Mengapa mesti manangis melihat itu? Bukankah itu memang misi mereka? Di pagi yang menjelang siang itu Mamanya menceritakan sebuah rahasia yang sama sekali tidak diketahui Sofia sejak dia kecil sampai di umurnya beberapa menit tadi. Begitu terkejutnya ia. Tidak bisa menerima. Tidak percaya. Bahkan mukanya pucat pasi. Bagaimana tidak? Sofia harus mengetahui jika selama ini dia bukan anak kandung dari Mamanya, bukan hanya itu, dia juga harus menghadapi kenyataan jika ternyata dia adalah anak seorang perempuan Palestina yang tubuhnya hancur lebur pada tayangan video di depannya tadi, selain itu dia harus mendapati tentang betapa kejamnya dia selama ini, tentang kerja kerasnya menghancurkan yang ternyata adalah saudara-saudaranya sendiri. Oh Tuhan, betapa menyesakkan yang dirasakan Sofia. Oh, Ibu.. Sofia lirih menyebut kata itu di depan foto Salma, Ibunya. Si perempuan Palestina yang berjiwa mulia. Berita itu. Rahasia itu benar-benar melimbungkannya. Selain itu ternyata Mama angkatnya sudah masuk Islam setahun sebelum Ayah angkatnya meninggal dunia. Ditambah lagi terdengar berita tentang kegagalan rencana pemboman itu, Ayyas tidak bisa dibuktikan sebagai tersangka. Cemaslah ia, pasti para agen Zionis saat ini sedang mencarinya, Sofialah yang bertanggung jawab memata-matai orang Indonesia itu, dan siasatnya kali ini gagal total. Dengan insting masih sebagai seorang Zionis, ia membuat sebuah skenario yang intinya membuat kesan jika ia sudah mati, dibunuh di sebuah penginapan. Lancar. Tapi tetap saja dia harus berhati-hati, setidaknya jangan dulu kembali ke Moskwa. Di ruangan yang hanya dihuni oleh dua manusia itu Sofia menyampaikan niatnya kepada Mama angkatnya. Sofia akan mempelajari Islam lebih dulu, sebab doktrin Yahudi masih melekat erat padanya. Mamanya sangat senang mendengarnya, beliau menyarankan agar Sofia terbang ke Jerman. Di jerman ada teman Mamanya yang seorang muslim, pasti mereka mau membimbing Sofia menemukan jalan hidayah. Semoga saja. Berangkatlah Sofia ke Jerman, ia masih melakukan penyamaran seperti ahlinya seorang intel. Dia tidak mau jika ada agen-agen Zionis yang mengenalinya, mencurigainya, bahkan membunuhnya. Di perjalanan dia tertidur. Lalu bermimpi. Di mimpinya ia bertemu dengan Ibunya, dengan kerudung dan gamis serba putih Ibunya begitu cantik jelita. Tapi, lihatlah dirinya, Sofia begitu buruk, banyak nanah di sekujur tubuhnya. Ibunya lalu mengajaknya ke sebuah telaga, sayang, telaga itu ada penjaganya dan si penjaga tetap bersikukuh untuk tidak memperbolehkan Sofia mandi di dalamnya. Ibunya sampai memohon dan menangis untuknya, tetap saja Sofia tidak diperbolehkan memasukinya. Lalu ibunya berkata, Sofia harus membersihkannya sendiri 5 kali sehari, caranya hanya dengan mendirikan apa yang dinamakan dengan sholat. Sofia terbangun, air matanya meleleh, mimpi itu seperti nyata, jelas sekali. Bulan-bulan berlalu, Sofia telah mengikrarkan diri sebagai seorang Muslimah, sudah banyak ilmu-ilmu Islam yang ia pelajari. Sofia teringat pesan Ibunya dalam mimpi, Ibunya berpesan agar Sofia mencari pendamping hidup seperti Nabi Yusuf. Tiba-tiba saja ia teringat kepada Ayyas, perlakuannya kepada Ayyas dahulu hampir sama persis seperti Nabi Yusuf yang dikejar-kejar oleh Zulaikha. Dulu dia pernah berniat menjebak Ayyas di apartemennya. Berkat alat sadap yang ia pasang di kamar Ayyas, ia bisa melihat semua gerak gerik Ayyas. Sampai suatu ketika saat Ayyas sedang sholat di kamarnya, ia memutuskan untuk menyelinap masuk. Dia memakai pakaian super menggoda, lalu dengan keahliannya sebagai mata-mata dengan mudahnya ia membuka pintu kamar Ayyas yang terkunci. Lalu masuk dan menguncinya lagi dari dalam. Saat itu ia berada di belakang Ayyas yang sedang sujud rakaat terakhir. Setelah salam, sungguh betapa terkejutnya Ayyas. Ketika Ayyas membalik badan dan mendapati godaan yang begitu besar, fitnah yang begitu kejam. Fitnah wanita. Ayyas tidak henti-hentinya beristighfar, otaknya sambil terus berfikir bagaimana mengakhiri kejadian ini. Sedangkan Sofia terus merayu, sampai pada titik dimana seolah Ayyas sudah masuk perangkapnya. Ayyas menyuruhnya membalik badan, Sofia menurut. Dalam hitungan detik Ayyas yang dikira akan tergoda olehnya malah memukul tengkuknya. Sofia pingsan. Sebelum ia jatuh ke lantai Ayyas menahan tubuh Sofia. Cepat cepat Ayyas bopong Sofia ke ruang tengah, dan membiarkannya pingsan ditempat itu sampai pagi. Itu adalah rekaman yang di lihat Sofia dari alat sadapnya, yang mengira Ayyas telah memperkosanya ketika dia pingsan. Dan ternyata dugaannya salah, Ayyas benar-benar seorang muslim yang baik dan taat. Hari ini dia memutuskan akan terbang menuju Moskwa, ia akan meminta Ayyas untuk menikahinya. Sebenarnya hal ini masih menjadi kebimbangan dihatinya. Apakah pantas ia bersuami seorang Ayyas? Seorang muslim sejati. Sedangkan dia? Dia adalah penjahat. Perempuan jahat. Sofia teringat lagi pesan Ibunya dalam mimpi, akhirnya dengan bismillah ia bulatkan tekad untuk terbang ke Moskwa, tentunya dengan sebuah penyamaran, sebab para agen-agen Yahudi mungkin saja belum sepenuhnya percaya tentang berita rekayasa kematiannya itu. Sesampainya disana ia menuju apartemen Mamanya yang sudah lama tak terpakai lagi. Akan sangat berbahaya jika ia kembali ke apartemennya dahulu. Lalu ia memutar otak bagaimana bisa menemukan Ayyas, akhirnya ia mendapat ide untuk mengunjungi KBRI, sebab Ayyas sering kesana. Sampailah ia di KBRI, lalu penjaga disana memberitahunya alamat apartemen Ayyas yang baru, segera ia menuju stasiun metro terdekat dan menuju alamat yang dimaksud. Ayyas tidak mengenali Linor, Ayyas juga tidak percaya jika Linor mau menumpang sholat diapartemennya, tapi Ayyas mempersilahkan, Ayyas pikir setelah sholat perempuan yang mengaku Linor itu akan menceritakan semuanya. Ayyas keluar dari kamarnya, betapa terkejutnya ia. Di ruang tengah seorang perempuan berkerudung putih dan bergamis biru sedang duduk menunduk. Dan perempuan itu adalah Linor yang dikenalnya. Akhirnya siang itu Linor menceritakan semuanya kepada Ayyas, termasuk juga namanya yang lebih suka dipanggil Sofia saja, bukan Linor lagi. Sebab Linor yang dulu, sekarang sudah mati. Cerita itu disambung dengan permintaan Sofia kepada Ayyas. Iya, benar. Sofia meminta Ayyas untuk menikahinya. Ayyas kaget bukan kepalang. Bagaimana? Ayyas meminta waktu, tapi dilain soal Ayyas juga harus kembali ke Indonesia lusa nanti. Sofia memberi solusi, dia mau menunggu keputusan Ayyas, biar Ayyas sekaligus berunding dengan keluarga di Indonesia, dia juga bersedia bila nanti dia harus tinggal di Indonesia, selama bersama-sama meniti jalan dalam Islam, dimanapun ia tinggal, disitulah bumi cinta. Sebab Allah Sang Maha Cinta pasti akan selalu menyertainya. Begitu pikir Sofia. Akhirnya Ayyas menyanggupi, nanti akan memberi kabar lagi. Lalu Sofia pun undur diri. Dengan perasaan lega ia menuruni anak tangga, tanpa penyamaran-penyamaran lagi. Kali ini dia berjalan sebagai seorang muslimah yang hanya takut kepada Allag saja. Di ruangan apartemen itu dada Ayyas bergejolak, dia merasakan hal aneh pada dirinya, apa mungkin Sofia telah di ijinkan Allah untuk mengetuk hatinya. Dia kualahan menahan rasa yang saat ini dia rasakan, seolah separo hatinya sudah tertambat dalam diri Sofia. Ayyas memutuskan mendekati jendela, ia ingin melihat perempuan yang mungkin akan menjadi istrinya itu sekali lagi. Ayyas melihat Sofia berjalan ke arah selatan di trotoar samping kanan jalan. Sungguh, hatinya semakin berdebar tidak karuan. Tetapi sejurus kemudian ada sebuah sedan merah dari arah utara mendekat ke arah Sofia, dalam hitungan detik saja kaca jendela sebelah kanan mobil itu terbuka semua, dan... Dorr...Dorrr...Dorrr...Dorrr...!!! Entah berapa kali suara itu terdengar, seketika itu juga tubuh Sofia sudah terkapar dijalan sana, gamis dan kerudungnya telah memerah darah. Ayyas beristighfar sejadi-jadinya, dadanya seperti remuk. Cepat sekali Allah membolak-balikkan hati para hamba-Nya. Sampai di bawah, Ayyas menghamburkan diri ke arah Sofia. Tidak henti-hentinya Ayyas memanggil-manggil nama Sofia. Ayyas mencari-cari detak nadinya. Masih ada. Ada kemungkinan Sofia selamat. Ia mencari pertolongan orang, sepi sekali jalanan itu. Akhirnya satu buah mobil mendekat, seorang ibu dari dalam mobil menawarkan bantuan. Dibawalah ketiganya menuju rumah sakit terdekat. Si Ibu duduk di bangku kemudi, Ayyas di bangku belakang memegangi tubuh Sofia yang tergeletak tak berdaya. Wajah anggun Sofia pucat, tangannya bertambah semakin dingin. Cerahnya musim semi di Moskwa saat itu seperti tiba-tiba kembali terbungkus musim dingin paling beku. Ayyas tidak berhenti berdoa. Untuk Sofia. Para malaikat mengelilingi mereka... arifwarsito