Resensi Buku IDI mau dibawa kemana?
RESENSI BUKU
Judul : IDI MAU DIBAWA KEMANA? Sebuah Refleksi Bagi Para Pemangku Kepentingan Pendidikan Kedoktera Indonesia
Penulis : Judilherry Justam, Nunik Iswardhani, Setiawan, Sugito Wonodirekso, Tom Suryadi
Penerbit : PT JOFFICE MITRA MANDIRI
Oleh : Rizki Rinaldi
Cetakan Pertama, 2018
XI + 140 hlm.
Gajah di Dalam Ruangan, Ancaman Besar
Sesungguhnya, saat ini bidang pendidikan kedokteran di Indonesia memang sedang berada dalam masalah yang sangat besar. Namun sangat disayangkan, hal ini tidak banyak sampai dalam ranah pemahaman publik, kalaupun permasalahan sampai di masyarakat, mereka tidak memperoleh informasi sesungguhnya tentang masalah tersebut secara lengkap dan menyeluruh. Padahal, dibandingkan masalah politik yang kita lihat saat ini jenuh-jenuh saja di berita media nasional, masalah di bidang pendidikan kedokteran membawa dampak yang lebih besar bagi hajat hidup masyarakat, secara langsung masalah tersebut akan berdampak pada buruknya kualitas dokter yang berpraktek memberikan layanan kesehatan di Indonesia. Yang memprihatinkan ialah masalah ini dibiarkan begitu saja dan masyarakat dibiarkan tetap abai, meskipun merekalah yang kelak akan menanggung akibatnya.
Pada penjabaran yang sederhana, narasi tandingan yang dilempar sebagai wujud arus balik perlawanan terhadap regulasi pendidikan kedokteran. Alih-alih bersama-sama dalam upaya instropeksi diri dan memperbaiki kekurangan dalam sistem pendidikan kita, narasi tandingan yang dilempar justru UKMPPD menghambat kelulusan dan menghambat “dokter-dokter baru” untuk segera terjun di masyarakat, membaur dan berkontribusi mulia, namun lupa jalan yang diambil tidaklah ahsan, cenderung membenarkan kepentingan sendiri karena melupakan kewajiban dasar dan tega mengorbankan nilai dasar yang paling prinsip dalam dunia pendidikan.
Hingga hari ini, masalah besar tersebut belum bisa teratasi, bahkan cenderung status quo, banyak sekali pihak yang menjadi stakeholder dalam urusan pendidikan kedokteran di Indonesia (katakanlah inisialnya dikti, universitas, fakultas kedokteran, Yayasan, mahasiswa, dan orangtua mahasiswa) belum punya satu visi dan strategi yang seragam, atau mimpi besar yang searah dan setujuan untuk meningkatkan kualitas lulusan pendidikan kedokteran saat ini. Padahal tuntutan di masyarakat akan selalu dijumpai serupa, yakni layanan kesehatan dari dokter yang kompeten, sayangnya sinergi stakeholder tadi dalam peningkatan mutu pendidikan dan mutu lulusan masih harus menghadapi tebing yang terjal dan penuh hambatan.
Potret Amburadul Pendidikan Kedokteran di Indonesia
Sesungguhnya, pendidikan kedokteran di Indonesia tidaklah terlalu lemah, segala perangkat sudah dapat dikatakan cukup lengkap, perangkat pengawasan dan peningkatan mutu pendidikan yang dikerjakan oleh dirjen dikti, konsil kedokteran Indonesia, organisasi profesi (IDI), serta regulasi pendidikan kedokteran dan regulasi praktek kedokteran. Namun, setelah hampir satu dasawarsa, tenyata kondisi pendidikan kedokteran belum juga berada dalam frame ideal, jauh api dari panggang. Fakta bahwa fakultas kedokteran baru yang terus dibuka masih sulit mengejar standar yang diperlukan bagi suatu fakultas untuk berada dalam akreditasi yang baik, terutama terkait dengan jumlah dan kualitas pengajar, fasilitas belajar, dan kurikulum pembelajaran. Bahkan sering juga ditemui rasio pengajar dan mahasiswa yang tidak memenuhi syarat yang telah diatur dalam UU no. 12 th. 2012 tentang pendidikan tinggi, UU no. 20 th. 2013 tentang pendidikan kedokteran, dan peraturan Konsil Kedokteran Indonesia no. 10 th. 2012 tentang standar profesi dan pendidikan dokter.
Faktanya menurut data dikti, sebagian besar fakultas kedokteran masih berjuang dalam akreditasi C, yaitu lapis terendah dari tiga golongan akreditasi. Tingkat tersebut jika dibaca dengan UKMPPD sebagai parameter kualitas lulusan pun masih sangat berjuang untuk meluluskan mahasiswanya dalam ujian kelulusan yang bersifat berkeadilan dengan standar yang sama dan tingkat kompetensi yang sama pula. Di sisi lain, menristekdikti, seolah tanpa dosa terus membuka fakultas kedokteran, meski tidak memenuhi syarat, padahal dorongan untuk moratorium fakultas kedokteran tak pernah berhenti, terutama ketika Indonesia sudah bukan lagi dalam masalah kekurangan rasio kecukupan dokter, tapi berhadapan pada masalah peningkatan mutu pendidikan kedokteran, serta distribusi tenaga medis dokter yang berkeadilan.
Potret masalah kedokteran dari hulu ke hilir dapat digambarkan sebagai masalah pendidikan yang mencetak calon dokter, sebaran dokter dan kebutuhan akan dokter di daerah. Kondisi yang bahkan bisa dilihat dengan mata telanjang masih belum ideal. Perlu kemauan politik yang kuat dalam peningkatan kualitas dan terobosan dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada, dan I’tikad baik semua pihak agar kualitas dan kuantitas dokter yang ideal di Indonesia bisa tercapai.
Tentang Penulisan dan Kandungan Buku
“Manuskrip ini menceritakan fakta yang terjadi di Indonesia. Ada yang membanggakan misalnya berhasilnya negara sebesar Indonesia menyelenggarakan ujian nasional profesi dokter. Namun juga ada yang menyedihkan, sengkarut peran berbagai pihak yang tidak jelas. Menjadi kenyataan bahwa dokter adalah profesi mulia yang strategis bagi negara, sehingga produksi dokter, distribusi, peran dan karir dokter harus ditangani langsung oleh negara. Organsisasi profesi adalah mitra negara dengan perannya memperjuangkan kesejahteraan anggotanya.” Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed, SpOG-K
“Menarik sekali buku ini. Ditengah kekurangaan bacaan tentang organisasi profesi, buku ini memberikan dorongan ke IDI untuk menjadi organisasi profesi yang mampu berperan maksimal dalam sistem kesehatan dengan standar global” Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc. PhD






