Memulai Kembali.
Malam ini sebelum tidur, aku membaca buku terakhir yang Cak Rusdi tulis, Seperti Roda Berputar. Untukku yang baru membaca 3 bukunya, buku terakhir ini cukup meninggalkan sesak yang agak lama. Niat hati, baca buku sebelum tidur agar cepat ngantuk dan tertidur pulas. Tapi ternyata, setelah membaca bukunya sampai habis, rasanya kosong sekali. Masih terasa sesak. Sudah berkali- kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Baru di bulan Januari, aku baca 3 buku Cak Rusdi. Di buku ketiga yang aku baca, aku baru tahu beliau sudah meninggal sejak 2 Maret 2018. Dari satu bukunya yang sudah aku baca, aku hanya tau beliau sedang sakit. Aku kira beliau masih berjuang sampai sekarang. Namun ternyata beliau telah pergi.
Tulisan Cak Rusdi merupakan salah satu tulisan yang aku suka dan aku kangeni setelah tulisan Abi Quraish. Sedih rasanya setelah tau, tidak ada lagi tulisan baru dari beliau. Beliau mengajarkanku tentang esensi ibadah, mengenal tuhan yang kita sembah, dan manusia bukan hanya makhluk individu yang hanya memikirkan diri sendiri. Tapi harus peduli dengan orang lain. Agama islam mengajarkan itu. Cak Rusdi juga mengingatkanku agar jangan merasa paling benar diantara golongan. Cak Rusdi juga mengajarkan kalau menjadi mayoritas tidak selamanya bagus.
Setelah membaca buku Seperti Roda Berputar yang beliau tulis menggunakan handphonenya, saat beliau dalam keadaan sakit dan mendapatkan perawatan di rumah sakit, aku berpikir untuk kembali menulis. Menulis apa saja yang ada dipikiranku. Terserah gaya bahasanya seperti apa, tata bahasa yang berantakan, dan lain hal yang kurang enak dibaca, aku hanya ingin belajar menulis lagi. Aku sadar setelah membaca tulisan terakhir Cak Rusdi, manusia pasti pergi, namun tulisannya akan abadi. Bisa dibaca berkali- kali dan tak pernah mati. Semua orang masih dapat membaca, sambil mengenang. Dengan cara itu, aku akan selalu diingat.
Bismillahirrahmaanirrahiim. Aku akan menulis lagi walaupun sedikit dan berantakan.














