Sejauh ini, buku karangan Alm. Rusdi Mathari ini menduduki nominasi buku non-fiksi paling waras yang pernah saya tamatkan dari sekian koleksi buku non-fiksi yang berjajar di lemari kamar. Nominasi tersebut saya canangkan atas dasar keberhasilan saya menuntaskan buku tersebut hanya dalam waktu sekian jam, tidak seperti buku-buku lainnya yang baru bisa habis dalam kurun waktu beberapa minggu. Bahkan, tak sedikit yang justru bernasib kembali ke lemari dengan alasan “tidak paham”. Sebagai informasi, 7 dari 9 buku non-fiksi yang saya miliki saat ini adalah seputar Islam. Saya juga tidak mengerti kenapa saya pada akhirnya memutuskan nekat membeli mereka, padahal saya tahu bahwa kemampuan saya memahami Islam sungguhlah cetek.
Sejujurnya, saya lebih dulu tertarik dengan Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya setelah membaca beberapa kalimat isinya yang ditayangkan di media sosial. Tetapi, begitu berhadapan dengan toko buku online yang saya pilih, lagi-lagi saya membeli buku lain yang tidak tercantum dalam waiting-list saya.
Meski begitu, saya tidak menyesal membelinya. Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis layak saya masukkan dalam rekomendasi bacaan, sebab model penulisan cerita pendek yang digunakan penulis membuat penyampaian hasil olah pikiran beliau menjadi ringan dan lebih santai, sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan masyarakat. Membaca buku ini membuat saya mengalahkan anggapan saya bahwa mempelajari seluk beluk Islam lebih dalam pasti memusingkan kepala saya seperti yang sudah-sudah. Bagi saya, buku ini memang cocok bagi orang-orang yang baru hendak memahami Islam lebih jauh. Selain soal Islam, beliau juga menuliskan hasil refleksi diri beliau sebagai seorang manusia pada umumnya.
Kesan yang paling membekas di mata saya adalah adanya perasaan seolah "diajak" Alm. Rusdi Mathari untuk merenungkan pertanyaan berikut:
Apakah kita sudah benar melakukan tugas kita sebagai manusia?
Ah, ya, satu lagi. Saya masih bertanya-tanya, apakah benar bab "Perayaan" pada buku tersebut benar-benar menceritakan pertanda bahwa beliau mengerti jika ia hendak meninggalkan dunia ini? Sebab, jujur saja, saya tidak merasakan hal serupa.
Menulis itu seperti silaturahmi.
Dari tulisan yang tersiar darimu,
kawan-kawan dan sahabatmu akan tahu
bahwa kamu sedang sehat.
Masih terbakar api semangat.
Saya hanya tahu, saya selalu terlambat menyadari bahwa saya bukan siapa-siapa di hadapan semesta raya. Bahkan sebutir debu pun bukan.
Senin ini saya kembali membaca esai-esai di Mojok, dan kembali menemukan esai Cak Rusdi. Kembali saya menangis. Ah, memanglah saya ini gampang mewek. Cengeng.
Kemudian saya iseng kepo akun Facebook Cak Rusdi. Dari salah satu posting-annya saya kemudian tahu bahwa beliau akan hadir rutin tiap Senin di rubrik baru Mojok, #infus.
Antara senang dan sedih saya membaca posting-an itu.
Pertama kali saya masuk rumah sakit karena tifus. Kedua karena wasir. Ketiga karena kanker.
Tiap pagi biasanya setelah membuka beberapa kotak masuk di surel saya membuka situs Mojok.co. Suatu kebiasaan yang saya lakukan rutin tiap pagi sejak 3 tahun lalu.
Biasanya rutinitas itu selalu menghasilkan setitik air di sudut mata saya. Kebanyakan karena ketawa lucu, sedikit karena terharu. Tapi 9 Oktober lalu berbeda, saya menangis, air mata saya mengalir deras. Ya, karena esai ini. Esai karya Cak Rusdi ini.
Adik saya sampai heran ketika pagi itu saya menangis sambil bercerita via telepon. Saya benar-benar sedih. Saya ceritakan ke adik saya mengenai Cak Rusdi, dan sekaligus meminta bantuan doa darinya.
Tak cukup di situ, dua sahabat baik saya pun saya mintai doanya untuk Cak Rusdi. Mereka sepertinya paham alasan dibalik itu setelah membuka tautan esai ini yang sengaja saya bagikan ke mereka.
Kalau ada orang yang mengkritikmu, tidak perlu kamu tanggapi dengan defensif. Biar saja, tidak perlu sedikit-sedikit dibalas. Kecuali kalau ada orang yang mempertanyakan integritasmu, menuduh kamu berbohong, baru kamu boleh marah.