kintamani oct 2021

seen from United Kingdom
seen from Germany

seen from Sweden
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Singapore
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from Malaysia
seen from China
seen from Brazil
seen from Russia
seen from Russia
seen from China

seen from United Kingdom
kintamani oct 2021
cangkir kosong ☕️
GENDHIS
Ceprot! Sepatuku menginjak tanah merah yang menjelma lumpur, sebab hujan turun tak teratur. Di depanku Gendhis berjingkat pelan-pelan menyusuri setapak di antara petak-petak kuburan, sesekali tubuh kurusnya oleng disambar angin. Matanya nyalang kesana kemari, menembus pokok-pokok kemboja tanpa wangi, mencari nama-nama yang barangkali masih kami kenali. Hingga akhirnya pada menit ke tiga puluh tujuh, kami tertuju pada satu nama. Sebuah pusara sederhana dengan kendi mungil di atasnya. Seperti baru saja diziarahi karena basah bertabur bunga. Lamat-lamat Gendhis merapikan makam yang sudah rapi itu.
“Apa yang kau rasakan, Dhis?”,tanyaku
“Rindu.”
Pesan
Ada desir aneh disekitar tengkuk dan leherku ketika angin berhembus pelan membawa wangi kemboja dan aroma ganjil yang asing. Tidak, aku tidak sedang merasa takut. Di depan pusara Ari Julian, aku telah berdiri sejak matahari masih di ubun-ubun hingga sekarang langit telah gelap. Lalu dari arah barat, setelah jangkrik mulai bernyanyi, kudengar dengan sangat jelas,
”Maaf Ka, maafkan pengecut yang tak sanggup menepati janji ini.”
Suara Ari Julian.
Semarang, 7 Maret 2016
bias
Wajah mereka berkelebatan di angan-anganku. Sepersekian detik dia, sepersekian detik kau, sepersekian detik yang lain, berulang begitu saja tanpa bisa kuhentikan meski waktu menjelang dini hari. Lelaki bertuhan tanpa agama, perayu ulung yang tidak suka balik kanan, pengembara resah di ruang hampa, perupa limbung dan penikmat onani sembari membaca buku dengan tangan kiri. Mereka serupa lingkaran api, mengobarkan panas tanpa henti. Seakan begitu saja aku sudah berada di tengah lingkaran, menyerap panas yang menjilat-jilat. Entah kenapa aku masih tetap percaya bahwa lingkaran tak bermula dan tak berakhir, barangkali ujung pangkal yang tak dapat kutemui hingga kinilah sebabnya. Mungkin aku sedang terpanggang, menjelang hancur menuju lebur. Tetapi aku masih berharap menjadi salju beku, atau setidaknya izinkan aku sejenak jadi hujan. Aku ingin jadi titik-titik basah, menggoda api dengan dingin hingga lingkaran itu nyaris padam. Nyaris, sekedar nyaris, itu saja
Semarang, 4 Maret 2016
Sempurna
tujuh langkah dari punggungmu
aku berdiri menghadap ke barat
di langkahku ke delapan
kau berbalik
dan aku hilang
Tembalang, 3 Maret 2015