menemukanmu, seperti aku menanti hujan aku bahagia, namun kebasahan mendengarmu berkata, aku seperti memainkan dawai tajam pada biola indah, meski jemariku terluka sajakmu untukku aku suka itu, menerangi setiap denting waktuku aku tau itu racun namun tak tau mengapa, masih tetap saja ku minum aku bodoh, biarlah karna menemukanmu, seperti meretas mimpi yang begitu tinggi aku gila akan romansamu aku tenggelam, pada mimpi yang menginginkanmu untuk terus saja menulis sajak tentangku hingga pada akhirnya, akulah yang kemudian mati lalu tenggelam dalam sajak-sajak yang kau cipta untukku
jalan kita buntu, kau dan aku tau itu. namun kebahagianku akanmu menjadi penikam paling tajam yang akhirnya membunuhku.aku tau kau mencintaiku, namun kita juga selalu tau bahwa takdir adalah yang terbenar dari cinta itu sendiri. lalu kita akan berjalan pada kaki kita masing-masing, hingga takdir menuntun yang lain untuk menemani langkah di kemudian hari. lalu sajak ku dan sajak mu, tidak akan lagi pernah menjadi kita.

















