Sudahlah, jangan terlalu banyak bercanda.
Nanti kalau jatuh cinta kamu juga yang repot.
Saya mah santai, sudah terlatih patah hati.
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Yemen
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from Germany
seen from Egypt
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Martinique

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
Sudahlah, jangan terlalu banyak bercanda.
Nanti kalau jatuh cinta kamu juga yang repot.
Saya mah santai, sudah terlatih patah hati.
Aku masih ingat, bagaimana kamu mengubah sesak menjadi tawa dan menyembuhkan luka yang perlahan-lahan pudar. Bersama akar-akar kebahagiaan, kamu besarkan keceriaan. Tumbuhlah senyum, aku petik setiap hari, dan ia tak pernah habis hanya dengan perlakuanmu yang manis.
Saat itu, dengan hubungan yang menentang peraturan, aku berpikir bahwa diriku hanya akan menjalani hari-hari penuh sekat denganmu. Dan aku siap, bila memang harus begitu. Kamu pun menguatkan aku, memberiku semangat, bahwa aku gadis yang kuat dan perlahan menjadi yang lebih dewasa.
Sejak awal memulai, tak hanya peraturan yang menentang, tapi juga orang-orang. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bertahan, membuktikan bahwa aku dan kamu tak akan menjadi beban di dalamnya. Namun ternyata, berakhir aku sendiri, lagi.
Dengan sangat tiba-tiba, kamu meminta untuk menyudahi hubungan ini dan menunggumu hingga waktu mengizinkan kita untuk sama-sama kembali. Dan dengan sangat tiba-tiba pula, air mata ini jatuh dengan derasnya, dada ini sesak seperti di hantam palu yang amat besar.
Aku memilihmu karena kamu berhasil membenarkan hati yang sempat hancur, tak aku sangka kamu juga yang menghancurkannya. Tapi aku akan tetap ada di sudut ruang yang sepi, menunggumu kembali,
Mengambil serpihan hati, menyatukannya lagi, untuk yang kedua kali.
— Cindy Feliana Saputri
Orang awam dipengaruhi Salah benar ditutupi
Sudahlah telan saja sendiri Kepahitan yang kau racik sendiri
Lebih baik kita pergi Daripada terjerumus lagi
Aku masih saja suka membaca pesan lama kita.
Aku bahkan mengingat letak titik dan koma hingga di luar kepala.
Aku bahkan akan sedikit tersenyum saat mengingat bahwa kita pernah begitu dekat.
Bahwa aku dan kamu pernah saling menyayangi dengan sangat.
Lalu tiba-tiba semua itu hilang. Kita menjadi seperti dua orang asing yang belum pernah berbincang.
Untuk menanyakan kabarmu saja terasa sungkan.
Padahal dulu sangat menyebalkan jika kamu mengabaikan pesanku.
Ah, tulisan ini jangan kamu anggap pelampiasan bahwa aku ingin kamu kembali padaku.
Aku hanya ingin menuliskan jika suatu saat nanti rasa itu datang kembali — perasaan rindu.
Dan aku memilih masih menceritakan tentangmu dalam tulisan-tulisan ini, sebab hanya di sini aku tak akan pernah kehilanganmu lagi.
— 17 desember 2017
*sadness
Aku ga tau apa yg terjadi ama kamu.
Karena kamu ga ijinkan aku untuk tahu.
Yang jelas, aku sakit.
Aku sedih.
Karena aku tidak diberi kesempatan untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Aku memang salah.
Tapi bisakah aku diberi tahu apa pastinya salahku? Aku siap kok menerima. Aku siap pergi dari kehidupan kamu.
Kita memang belum lama kenal, di suatu siang yang membosankan kamu tiba tiba muncul.
Tanpa firasat.
Menawarkan apa yang tidak biasa dari pekerjaanku yang selalu tampak biasa setiap hari.
Bukankah pernah kukatakan kamu seperti oase? Bukan...
Bukan yang tulang dari Rumania seperti katamu waktu itu. Ya.. kamu itu oasis aku. Sekelompok pepohonan dan mata air ditengah padang gurun.
Aku memang selalu bertanya di hati, kapan ini semua akan berakhir? Rasanya kehadiran kamu itu memang sangat menyenangkan. Dan aku cepat sadar bahwa yang serba terlalu itu sering hanya sekejap.
Aku harus siap. Aku harus bisa terima.
Tapi aku ingin sebuah penjelasan. Agar bisa memahami.
Setiap kata dari aku buat kamu itu nyata. Tidak kurang, seringkali lebih. Hehehe
Aku cuma mau kamu bicara
Jika aku..
Ah bukan jika, saat aku harus pergi, tolong jelaskan semua. Seperti ketika aku membuka diri untukmu. Suatu siang yang tampak biasa-biasa saja di Januari itu :)
https://ift.tt/2Y1KQRM Oleh : Nasrudin Joha Saya, sebenarnya tidak sampai hati mengulang penjelasan ini. Karena saya, sangat dekat dengan Anda, dan melihat langsung perjuangan dan pengorbanan Anda untuk merubah kondisi bangsa. Bahkan, Anda begitu heroik berjibaku mempertahankan baliho ucapan kemenangan, untuk capres yang Anda harapkan dapat merubah keadaan, dengan menanggung semua Resiko. Berhadapan dengan aparat, potensi kriminalisasi, mengeluarkan biaya, waktu, tenaga dan pikiran, semua untuk capres yang Anda tidak meminta apapun kecuali amanat untuk perubahan. Anda, saat itu juga membuat dikotomi, membelah preferensi politik umat. Tak boleh memilih partai pendukung penista agama, dan merekomendasikan partai yang pro ulama. Anda, telah meletakan PDIP di deret partai pro penista agama, Anda juga telah merekomendasikan Gerindra sebagai salah satu partai alternatif pilihan. Saat itu, Anda melihat perubahan ada didepan mata, Anda menambatkan perubahan pada peran partai dan melabuhkan harapan pada capres. Namun kemarin, Anda saksikan. Nasi goreng telah merubah semuanya. Partai Gerindra yang Anda sebut tidak pro penista agama, sekarang merapat ke PDIP. Capres yang dahulu Anda jadikan simbol perlawanan pada rezim anti ulama, telah menebar senyum kepada umat, bercengkerama dengan pimpinan PDIP. Dan Anda pun, masih menyimpan harapan, berharap dengan dalih strategi. Padahal, jika Strategi itu jitu tentu pilihannya adalah strategi menang Pilpres dan memaksa lawan yang datang merunduk. Bukan merapat dan mengemis ikan asin, ya kucing tetap kucing, mau dijuluki macan tetap saja kucing. Tapi sekali lagi, Anda saya bela, Anda tidak salah. Karena Anda berjuang untuk kebajikan Anda, hanya politisi dan partai lah yang mengkhianati Anda. Anda tidak salah, tidak sia-sia dengan seluruh perjuangan dan pengorbanan, sepanjang itu diniatkan karena Allah SWT. Namun, jika perjuangan itu karena capres, karena partai, karena tokoh tertentu, jelas Anda harus memperbaiki niat, meluruskan niat. Berjuanglah hanya karena Allah SWT, itu yang wajib Anda lakukan. Karena itu, Kedepan Anda tidak boleh terikat dengan tokoh, melabuhkan harapan perubahan pada tokoh. Semua tokoh, yang berkecimpung dalam demokrasi pasti terpenjara oleh demokrasi dan partai. Coba saja, jika Anda memiliki tokoh yang lurus, tak akan mungkin bisa ke tampuk kekuasaan untuk memimpin jika tidak didukung partai dan uang. Salah satu alasan, kenapa ulama Anda pada Pilpres 2019 tidak didukung, yang diambil sandiaga, itu juga karena uang, karena modal. Sudahlah, ikuti nasehat dan saran saya, berjuanglah hanya untuk Islam. Berjuang untuk menegakan syariat Islam. InsyaAllah, kelak Anda akan dipertemukan dengan tokoh dan pemimpin yang amanah dan dapat menjalankan visi perubahan yang Anda inginkan. Bukan bertransaksi menjual darah dan kehormatan Anda. Jika akan ada ijtima ulama, sampaikan dalam forum itu, untuk fokus memperjuangkan syariat Islam, tinggalkan demokrasi. Jangan lagi tertipu, hiruk pikuk pemilu dan Pilpres, InsyaAllah jika umat ini konsisten dengan perjuangan Islam, hanya mengharap pertolongan Allah, tidak perlu menunggu tahun 2024 perubahan itu akan terwujud. Tentu perubahan yang kita inginkan bukan sekedar ganti rezim, ganti pemimpin, ganti orang yang menindas dan menzalimi, ganti orang yang berkhianat pada umat ini. Tetapi ganti sistem, ganti aturan, ganti ketaatan dari taat kepada makhluk menuju taat kepada Allan SWT. Perubahan yang akan mengantarkan kita, dari kesempitan hidup menuju kelapangan hidup, dengan karunia dan ridlo Allah SWT, dengan menerapkan syariat Islam. Perubahan yang akan mengubah negeri ini dari menerapkan hukum kufur menuju menerapkan hukum Allah SWT. Tidak kah Anda rindu perubahan itu ? Rindu masa kekhilafahan 'ala minhajin Nubuwah yang dijanjikan ? Rindu, menjadi bagian dari pasukan kaum muslimin yang dikirim Khalifah untuk membebaskan Al Quds ? [].
https://ift.tt/32Yw798 (Oleh : Nasrudin Joha ) Gerindra bermain api, mau menyala tapi tanpa asap, mau dapat komitmen 'isitas' dari pertemuan Prabowo - mega, tapi tak mau kehilangan elektabilitas partai dan Prabowo. Mulai beredar, pledoi Gerindra yang meminta semua pihak berprasangka baik, semua ikhtiar demi kebajikan umat, bangsa dan negara, bahkan juga sempat menjual narasi 'pembebasan HRS' dan sejumlah tawanan politik peristiwa 21-22 Mei. Sudahlah, tak perlu bersilat lidah. Apa yang kami lihat dan rasakan, tak mungkin hilang dengan sejumlah klarifikasi dan tanggapan. Kami juga tidak menyayangkan, silahkan saja berpesta, toh selama ini pesta elit selalu eksklusif. Kami ini cuma rakyat biasa, yang didatangi saat pemilu, yang disanjung saat kampanye, digelorakan saat sengketa, dan ditinggalkan setelah putusan sengketa. Kami tahu, paham bahkan sangat paham. Kami tidak kecewa kok, hanya kami bisa lebih banyak belajar tentang rusaknya demokrasi. Pemandangan yang kami saksikan hari ini, foto mesra itu, makan enak itu, senyum hangat itu, tentu tak akan mungkin kami sandingkan dengan tangisan kami. Disana, telah disusun sejumlah rencana untuk berbagi kuasa. Sementara kami, telah terbiasa untuk menanggung beban dan derita. Air mata kami telah kering. Kami sadar, selama ini berada diantara mulut harimau dan mulut buaya. Kami sadar, diantara buaya dan harimau itu juga belum semua sepakat berbagi mangsa. Kehangatan dengan kubu oposisi, jelas memantik rasa marah dan kejengkelan kubu koalisi. Itu biasa, semua khawatir Ga kebagian jatah kekuasaan. Bagi saja, ambil semua, bagi diantara kalian secara adil ! Tapi yakin, kalian akan kerah ! Akan saling cakar ! Karena, untuk melawan rakyat kalian akan sependapat, tapi kalian tak akan pernah sepakat perihal bagian kursi kekuasaan. Semua, akan merasa paling punya andil, hingga partai yang paling buncit sekalipun. Yang baru mendekat dan merapat, akan menjual saham legitimasi. Yang awal berjibaku, akan menagih elektabilitas yang telah disumbangkan. Semua minta kompensasi kekuasan, mustahil cuma kerja bhakti politik. Gerindra tak usah menyalahkan rakyat menjauhi partai, sebagaimana kami juga tak menyalahkan Prabowo meninggalkan kami. Sudah, saling berbesar hati saja. Kami sudah ridlo kehilangan Prabowo, dan kalian juga harus ridlo kehilangan kami. Kami, telah mengambil hikmah yang sangat besar dari semua ini. Kami, tidak akan lagi melabuhkan perjuangan pada individu atau tokoh tertentu. Kami, hanya akan mengusung Islam dan mempercayakan sepenuhnya masa depan kami kepada syariat Islam. Mengidentifikasi dan memisah alamiah sejak dini, itu lebih baik bagi perjuangan kami. Ketimbang kami harus berjuang dan menjadi korban berulang kali. Kami siap Syahid dan mati berulang kali bagi kemuliaan agama Islam, tapi untuk dikhianati bagi kami cukup satu Kali. Kami, tak akan menuntut lagi, sebagaimana Anda juga tidak bisa mengikat kami lagi. Kami hanya berpegang teguh pada Islam, akan mengikat damai dengan siapapun yang mentaati Islam dan mengumumkan melawan pada siapapun yang mengkhianati syariat Islam. Bagi kami, ladang dakwah ini akan kami cangkul dan kami tebar benih risalah Islam, agar kelak buah politik Islam, tegaknya syariah Islam, dapat kami petik dalam keadaan ranum dan manis buahnya. [].
Kenapa musti takut kehilangan, jika tahu tak kan mungkin memiliki?