Caping 2.0
Saya baru saja menemukan bahwa saat ini di dunia web telah muncul sebuah cara berkomentar yang baru. Namanya catatan pinggir (sidenotes). Untuk membedakannya dengan caping yang tradisional, kita sebut saja ini caping 2.0.
Berbeda dengan caping yang kita torehkan saat membaca buku, yang berguna untuk membangun pemahaman kita akan keseluruhan bacaan, caping 2.0 ini lebih mirip komentar dosen pembimbing atau penguji yang mencacah tulisan kita. Hanya saja caping 2.0 ini lebih buruk karena yang mengomentari bisa puluhan dosen pembimbing/penguji. Diakui asumsi dosen pembimbing memang terlalu murah hati, realitas faktualnya tentu lebih brutal, yakni siapa saja.
Jika kita merujuk situsweb salah satu pengembang caping 2.0, aplikasi ini bertujuan untuk menggalakkan keterlibatan para pembaca dengan isi bacaan.
Fokus pada paragraf memang akan berdampak pada pembatasan "tema” atau “konteks” komentar. Hal ini bisa jadi membantu menjaring komentar yang lebih berkualitas. Namun dampaknya isi keseluruhan tulisan bisa jadi terabaikan. Tampaknya pengelola situsweb sendiri pun masih bereksperimen dengan model komentar caping ini.
Dari sisi teknis, pemenggalan tulisan ke dalam komponen-komponen pembentuknya ini memungkinkan asupan data laman yang lebih granular bagi mesin analitik. Performa laman, profil pembaca, arus trafik, semua ini dapat terpantau dengan jelas. Bagi pengelola situsweb, hal ini tentu saja sangat bermanfaat. Namun, apa dampak dari inovasi ini bagi kegiatan membaca yang bertujuan mencapai pemahaman? Tidakkah pemberian catatan pinggir di setiap paragraf hanyalah langkah awal dari keseluruhan proses memahami bacaan? Atau inovasi ini merupakan penyesuaian saja dengan watak baca cepat laman web? Tapi, kalau memang demikian, mengapa bukan jumlah paragrafnya saja yang dipangkas?













