Muasal Istilah Spam Email: Dari Daging Kalengan ke Email Kaleng
Apakah Anda tahu muasal istilah spam email? Beberapa waktu lalu, saat saya asyik menelusuri selasar sebuah supermarket, saya menemukan tumpukan daging babi kalengan bermerek SPAM. Saya geli dan segera memotretnya dengan maksud menunjukkan hal itu sebagai lelucon ke teman. “Mau cobain daging spam, gak?” Kita yang hidup dalam kultur Internet tentu mahfum bahwa kata “spam” memiliki arti yang buruk. Jadi, agak aneh bahwa ada perusahaan yang mau memakai kata itu sebagai nama produk mereka. Saya kemudian mengetahui bahwa keduanya memang saling terkait, namun dalam kronologi yang terbalik. Daging kalengan SPAM merupakan muasal istilah spam email.
Daging babi kalengan SPAM pertama kali diproduksi oleh Hormel Foods di tahun 1937. Berbeda dari para kompetitornya saat itu yang menggunakan bagian bibir, lidah dan hidung babi sebagai sumber daging olahan, Hormel hanya menggunakan bagian pundak babi. Produk ini kemudian menjadi menu makanan para tentara Amerika dan sekutu di Perang Dunia II. Ini karena di masa perang, kelangkaan pangan, dan konsumsi kebutuhan pokok yang dicatu; dijatah (food rationing), serta sulitnya mengirim pasokan daging segar ke medan perang, menjadikan daging kalengan sebagai solusi makanan bagi para tentara. Di masa itu, produk olahan ini tidak saja dinikmati oleh para tentara, melainkan juga penduduk di wilayah koloni, seperti Guam, Hawaii, Okinawa, Filipina dan negara-negara kepulauan Pasifik lain. Konsumsi yang tersebar masal ini menjadikan SPAM makanan kaleng paling terkenal di seluruh dunia. Pada tahun 1980, perdana menteri Inggris Margaret Thatcher mengenang SPAM sebagai “makanan lezat di masa perang”. Bahkan Nikita Khrushchev, komandan pasukan Uni Soviet saat itu, sampai mengatakan bahwa, “tanpa SPAM tentara kita tidak akan bisa makan.”
Sepanjang tahun 1941-45, lebih dari 100 juta pon kaleng SPAM dikapalkan Hormel ke medan perang. Di masa pemulihan, produksinya tidak surut. Bahkan di tahun 1959 Hormel mencatatkan pengiriman 1 milyar kaleng ke seluruh dunia. Jumlah ini berlipat ganda di tahun 1970. Singkatnya, SPAM merajalela. Begitu hebatnya serbuan SPAM ke seantero dunia ini, sehingga grup lawak terkenal asal Inggris, Monty Python's Flying Circus, melakonkannya dalam sebuah sketsa komedi tahun 1970. Dalam sketsa tersebut digambarkan sebuah kedai makanan dengan menu yang sarat SPAM. Entah, telor dengan SPAM; telor, bacon dengan SPAM; telor, bacon, sosis dengan SPAM; Spam, bacon, sosis dengan SPAM. Ragam sajian ber-SPAM itu dibacakan pemilik kedai dengan nyaring, hingga membuat suasana menjadi riuh, dan pengunjung pun kewalahan memilih makanan tanpa SPAM. Jenakanya, keriuhan ini diperparah dengan nyanyian riang dan lantang sekelompok orang Viking manakala mendengar kata SPAM. “SPAM, SPAM, SPAM! Lovely SPAM! Wonderful SPAM!” Lihatnya videonya, Anda pasti terbahak-bahak. :)
Demikianlah muasal kata spam email. Corak “kemerajalelaan” dan “serbuan” daging kalengan SPAM menjadi ciri-ciri yang diadopsi oleh istilah spam email. Fenomena spam email sendiri pertama kali terjadi tahun 1978, saat Gary Thuerk mengirimkan 600 email kaleng komersil ke jaringan Arpanet (cikal bakal Internet). Gejala email kaleng ini menjadi marak, hingga pada tahun 1994, majalah Network World, menyebut serbuan email kaleng ini sebagai “serangan spam”.