Babakan "Mikul Duwur, Mendem Njero"
Aku pernah, mendapat nasihat begitu. Pada waktu itu, beberapa tahun lalu. Aku merasa asing, awalnya. Serta aku belum bisa memaknainya lebih dalam. Karena mungkin, aku belum mempraktikkannya.
Hari berlalu, berganti bulan, berganti tahun. Menemui banyak orang. Menemui banyak masalah. Menemui banyak senggolan pendapat yang membuat hati sedikir tidak nyaman. Awalnya, aku merasa bahwa orang lain yang tidak bisa mengerti aku. Orang lain yang salah memandang pendapatku. Orang lain itu tidak mau mengerti aku. Begitu terus adanya. Begitu terus overthinkingku.
Namun, aku menyadari bahwa sikapku tak boleh seperti itu. Kembali merenung. Memanggil semua memori tentang petuah-petuah para aalim yang pernah aku temui. Poinnya kira-kira begini.
Jangan pernah ada di hatimu agar perbuatan baikmu dibalas dengan setimpal kepada sesama manusia. Ikhlaslah membantu, berharaplah hanya pada Tuhanmu.
Jangan pernah bermimpi untuk mengubah sikap dan hati orang lain padamu, namun ubahlah pandanganmu tentang orang itu.
Jadi orang harus pandai "mikul duwur, mendem njero". Sepahit apapun yang kamu alami, jalani. Jalani dengan ikhlas. Jangan pernah terpikirkan bahwa yang kau lewati berat. Jalani semampunya, santai. Nanti juga akan sampai. Biar kamu aja yang tahu betapa beratnya masalah dan perjuanganmu. Orang lain, tak perlu tahu. Karena terkadang sebagian dari mereka tidak pernah memandang jerih payahmu, namun keberhasilanmu.
~Inayah Ainun (10.10.21)














