"Hahahaha.... Kena tuh mentalnya." Bukankah kita sering mendengar hal demikian bersliweran baik di dunia nyata maupun komentar di dunia sosial?
Sialnya, isu kesehatan mental tidak banyak yang mau berbicara. Malahan, beberapa orang tidak sadar bahwa sebenarnya mereka terkena sakit mental.
Kita sering kali meremehkan seseorang. Misalnya, ketika mereka bercerita tentang tugas akhirnya yang belum dapat terselesaikan. Dengan entengnya bilang, "Gitu aja ga bisa. Lihat tuh, mereka aja bisa kok. Dasar lemah." Hai... Setiap orang berbeda. Maka dari itu sudah tentu setiap orang istimewa.
So, ketika ada teman atau kerabat bercerita tentang masalahnya, jangan menjatuhkan dia. Jangan meremehkan tindakannya. Berikanlah masukan yang setidaknya bisa menenangkan dia. Bukan malah merasa tersudut.
Hal yang penting lagi adalah hindari melontarkan pertanyaan konyol kepada orang lain yang mungkin saja bisa menyinggung perasaannya. Misalnya bertanya:
1. Kapan punya anak kepada pasangan yang belum juga diberi momongan padahal sudah cukup lama menikah.
2. Bertanya tentang penghasilannya.
3. Bertanya tentang kapan wisuda kepada orang yang masih berjuang mengerjakan tugas akhirnya.
4. Bertanya kapan menikah kepada orang yang masih jomblo dan belum mempunyai pasangan.
Pertanyaan kita memang terkadang terlihat sepele bagi kita. Namun, bisa menimbulkan kesakitan mental dan menjadi stressor bagi mereka. Nah, itu nanti bisa dikatakan "kena mental". Makanya, yuk hati-hati jika berbicara. Jangan sampai menyinggung. Jangan sampai membuat orang lain tambah stress dan bingung.