Senja tadi, Allah menyapa melalui hamba shalih yang tak kukenal. Izinkan ku bercerita, untuk diriku di masa depan.
Petang sekitar pukul 5 sore, aku mampir ke ATM searah jalan pulang. Ada janji yang harus ditunaikan, melalui transaksi di sana. Setelah keperluanku usai, aku kembali ke tempat parkir dan mendapati motorku tertutupi kendaraan lain. Tak hendak ambil pusing, kutunggu saja hingga si empunya usai. Tak berselang lama, pemilik motor keluar, dan pergi. Aku pun bergegas menaiki motor dan tanpa sengaja menjatuhkan kunci motorku. Baru saja akan turun dari motor, sudah ada seorang muslimah yang membungkukkan badannya, mengambilkan kunci itu untukku. I did surprise. Karena, tampak dari semburat garis matanya dia jauuh sangat lebih senior dariku. Aku terkejut karena ke-tersegera-annya menolong tidak kira-kira. Aku terkejut karena ternyata dia wanita paruh baya.
Kebaikannya meluruhkanku. Hal sederhana, tapi kucoba ambil hikmah sebanyak-banyaknya. Iri sekali dengan orang yang tidak berpikir panjang untuk berbuat baik. Aku pernah mendapati komentar dan sikap yang tak mengenakkan sebagai balasan dari perbuatan baik. Jujur, itu membentukku menjadi orang yang berpikir berkali lipat untuk melakukan hal baik. Khawatir disalahartikan, khawatir ditangkap sebaliknya, lalu kembali pupus.
Padahal, nyata saja adanya bahwa niatku beramal shalih rupanya bukan karena-Nya. Nampak sekali aku bahagia berlebihan saat dipuji, diucap terimakasih. Lalu, ku pun terluka berkepanjangan saat dibalas sebaliknya. Bukan. Bukan kebaikannya yang keliru. Niatnya yang diluruskan.
Satu lagi. Entah kenapa, ada bright effect dari wajahnya yang tertutup masker tentunya, saat mata kita bertemu. I can say, she is a great muslimah :”) Karena kebaikan yang dilakukan tak dipikir panjang, sepersekian detik, respon cepat bentukan akhlaqul karimah yang mengakar. Tak kukenal namanya, tak kutahu siapa orangnya, tapi yakin seyakin-yakinnya, Ibu tadi sedang menanam benih kebaikan, yang nantinya akan mengakar tumbuh menjadi tujuh tangkai, dan setiap tangkainya ada seratus kebaikan.
Ketika kita mendapatkan kebaikan dari orang lain, tanpa sadar kita merasa berhutang budi dan berjanji untuk membalas kebaikan orang tersebut. Lucunya, kita tidak akan bisa membalas kebaikan seseorang, karena kita tidak benar-benar tahu apa yang mereka niatkan saat melakukannya. Terlebih, saat hanya Allah yang mendasari mereka berbuat sedemikian. Maka hanya dari Allah pula balasan yang sedang mereka nantikan.