Budak
Tak lagi ada yang menghendaki, mensifati diri sebagai budak dari apapun. Hidup yang bergantung, terikat tanpa tau arti kebebasan, terkunkung dalam dekap aturan. Kasta terendah sebuah peradaban, yang tak kan pernah jadi impian. Sedang kebebasan kian menggema. Bersikap masa bodoh dengan segala titah, karena hidup kita milik kita pula sejatinya. Katanya. Tapi, pernahkah kita membayangkan menjadi budak yang penuh kebebasan? Keterikatan yang memerdekakan. Dua hal yang bertetangan, namun nyata dapat jadi tujuan.
Ialah menjadi 'abdullah (budak/hamba Allah) Predikat tertinggi cita luhur seorang muslim. Menisbatkan diri bahwa kita tak lain memang hanyalah budak, dan Ia-lah Rabb, Sang Penguasa Alam Semesta. Menariknya, menjadi 'abdullah tak membuat kita hina, namun terpandang kualitasnya. Mengakui bahwa diri hanyalah hamba, mengantarkan kita pada ketidakterikatan dengan selain-Nya. Resmi menghambakan diri pada-Nya, berarti hanya Ia tujuan kita, alasan dari setiap amal yang kita upayakan, tak takut apalagi risau karena Dia penjamin hidup mati kita. Tulisan ini intisari kajian ustadz Nouman Ali Khan. Berbahagialah menjadi 'abdullah. Bersungguh-sungguhlah untuk hidup dan mati dengan status sedemikian. Semoga Tuan kita, Allah swt, ridho.
@tisasmuthiah


















