You must have a daily portion of the Qur'an. Never neglect it. Never let a day pass without reciting the Qur'an. Allah is the happiness and blessing of your day, and your greatest achievement. Without Him, your soul withers and you suffer!

seen from Oman
seen from Israel

seen from United States
seen from Australia
seen from Netherlands

seen from Australia

seen from United States
seen from Canada
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Brazil

seen from Australia
seen from United Kingdom
seen from Philippines
seen from China

seen from Philippines

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
You must have a daily portion of the Qur'an. Never neglect it. Never let a day pass without reciting the Qur'an. Allah is the happiness and blessing of your day, and your greatest achievement. Without Him, your soul withers and you suffer!
Your adab and akhlaq are everything.
The way you speak, behave, and carry yourself says more than your appearance ever could.
Akhlaq is like perfume. A bottle may look fancy and stunning, but once sprayed—ewwh the scent is unbearable and unpleasant.
Meanwhile, a simple, modest bottle might go unnoticed, but once sprayed—Wow—you’ll fall in love instantly.
People are the same. Beauty can attract, but akhlaq reveals the truth.
Your akhlaq is what stays in people’s hearts long after your beauty fades from their eyes.
Be the kind of perfume that everyone dreams of—one that contains the scent of akhlaq, adab, and taqwa.
عندما لا يكون هناك خير أو حقيقة أو فائدة يمكن التعبير عنها، فإن الصمت هو التفضيل النهائي
When there is no good, truth or benefit to be expressed, silence is the ultimate preference.
— mindofserenity
Was watching scenes from Dhurandhar on yt shorts and the part where Hamza confronts Akhlaq came up
Akhlaq: Kaise ilzaam laga rahe ho mujhpe, chaalis sal se- (gets bitchslapped)
CHAALIS SAAL SE KYA?
If Naeeim is old enough to have a friend who is getting married, but still young enough to be a 'baccha', then he's around 17. Even if Rehman had him at age 30 (I think it would be before though, his wife is Saumya Tandon) Rehman is 47 at the time.
Chaalis saal pehle Rehman khud baccha tha na? Aditya Dhar ye wali detail explain kar do
Terlalu Baik, Tapi Tak Ikhlas
Tentang Moralitas Kebaikan dan Ikhlas
─────────────────────────────────────────────
Kita seringkali bukan benar-benar ikhlas — kita hanya terlalu baik. Baik karena takut dinilai buruk, baik agar disukai, atau baik demi menjaga citra diri. Padahal, kebaikan seperti itu rapuh: ia lahir dari tekanan sosial, bukan dari kesadaran moral.
Immanuel Kant dalam Groundwork of the Metaphysics of Morals menulis,
“A good will is not good because of what it effects or accomplishes, but only because of its volition.”
"Kehendak baik bukanlah baik karena hasilnya, melainkan karena kehendak itu sendiri."
Inilah inti dari imperatif kategoris: kebaikan sejati dilakukan semata-mata karena kebaikan itu sendiri, bukan karena dorongan atau keuntungan lain.
───────────────
Begitu kebaikan dilakukan demi pujian, gengsi, atau keuntungan, yang lahir bukan moralitas, melainkan kemunafikan yang dibungkus dengan kebaikan.
───────────────
Menolong teman agar dianggap dermawan, atau bersikap sopan agar tampak santun — semuanya kehilangan nilai moralnya.
Dalam konteks religius, hal serupa kerap terjadi: kebaikan agama diselewengkan untuk memuaskan ego pribadi. Kita sering mendengar kalimat seperti, “menurutlah padaku, aku gurumu, adab di atas ilmu” — sebuah kebenaran yang dipelintir menjadi alat dominasi.
Begitu pula orang tua yang menuntut anaknya tunduk total atas nama “tidak durhaka”. Padahal, beroposisi dengan nalar bukanlah kedurhakaan; itu bagian dari kebebasan berpikir — yang justru anugerah dari Tuhan.
Dalam khazanah ilmu akhlaq, الإخلاص (ikhlas) didefinisikan sebagai:
تصفية العمل من ملاحظة المخلوقين
“Memurnikan amal dari pandangan kepada makhluk.”
Sedangkan الرياء (riya') berarti:
إظهار العبادة لقصد رؤية الناس لها فيحمدونه عليها
“Menampakkan amal ibadah dengan maksud agar manusia melihatnya dan memuji karenanya.”
Menariknya, dua perilaku yang tampak berlawanan bisa sama-sama riya’: orang yang berjamaah karena ingin dipuji, dan orang yang tidak berjamaah karena takut disebut sok alim. Keduanya sama-sama menjadikan manusia sebagai pusat niatnya.
Di titik ini, Kant dan Islam bertemu: Keikhlasan adalah moralitas batin. Ia menjaga agar niat tidak tercemar oleh pamrih, agar kebaikan tidak kehilangan maknanya.
Namun dalam kehidupan sehari-hari, banyak dari kita terlalu baik— bukan baik karena tulus, tapi karena takut menyinggung, takut disalahpahami, atau sekadar ingin tampak berakhlak. Kebaikan semacam itu sering mengorbankan kejujuran, dan di situlah moralitasnya pudar.
Kebaikan sejati bukan tentang seberapa banyak kita menolong, tetapi seberapa jujur kita terhadap niat di baliknya. Sebab tanpa kejujuran, keikhlasan hanyalah topeng halus dari ego yang ingin tampak suci.
───────────────
Dan di titik itulah, manusia diuji keseimbangannya: antara menjadi baik, dan berani jujur terhadap alasan mengapa ia ingin menjadi baik.
Your deen is upon your akhlaq. Even if you have memorized the Qur'an, fulfilled sunnah and nafl prayers, and have a lot of Islamic knowledge, if you don't have good manners and treat people poorly, you lack the basic foundation of true faith.
Al-Hassan al-Basri رحمه الله said :
❝Indeed, the people of righteousness have signs which they are known by :
Truthfulness in speech
Fulfilling trust
Adhering to contracts
Little pride and arrogance
Maintaining ties of kinship
Having mercy towards the weak
Extending kindness and doing good deeds
Having the best of manners
Having great forbearance
Knowledge
And little association with woman.❞
[Ādāb al-Hassan al-Basrī, Dār an-Nawādir, page 37]
From Sunan Abu Dawud