Perantau
Tak ada kata yang mampu terucap. Bahkan sepatah katapun. Malam ini, ingin rasanya bungkam seribu bahasa. Namun tetap saja aku menuliskannya. Karena menulis adalah sebenar-benarnya cara untuk meneriakkan rindu tanpa suara. Lalu bagaimana bisa yang ku rindu tahu adanya? Sedang aku tak menyuarakannya. Sedang aku tanpa suara.
Takbir menggema di setiap sudut kota, Takbir menggema di setiap media sosial yang ku buka. Seketika biru, seketika haru. Mengingat ibu tak di sampingku. Mengingat ayah tak bersamaku. Mengingat aku berada jauh dari keluargaku. Sungguh, Senyata-nyatanya sedih malam ini ialah ketika diri ingin menangis namun tak bisa.
Betapapun aku merasa, bahwasanya ibu dan ayah merasakan hal yang sama. Ya, rindu yang tak ada batasnya–Padaku yang jauh dari pandangannya. Sabarlah bu, esok aku akan kembali ke pelukanmu. Sabarlah yah, esok tawaku akan kembali menemani tiap-tiap tawamu. Sabarlah, esok kita akan bertemu. Bersama di tengah gema takbir yang syahdu. Bersama dalam hangatnya canda tawa keharmonisan keluarga kita yang tanpa sendu. Tersenyumlah, usap airmatamu. Aku segera pulang bersama rindu yang tak hentinya memohon sebuah temu. Sungguh! Aku pun rindu–Dipeluk dan memelukmu. .. Jakarta, 31 Agustus 2017 .. –Dita KD











